Lebih dari 1.200 UMKM Incar Ritel Modern, ETH Dorong Produk Daerah Naik Kelas dan Masuk Jaringan Nasional
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 21 September 2026. Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong UMKM Indonesia tidak berhenti pada kemampuan memproduksi barang, tetapi meningkatkan standar usaha agar mampu menjadi pemasok jaringan ritel modern. Dorongan ini relevan dengan perkembangan terbaru...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 21 September 2026. Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong UMKM Indonesia tidak berhenti pada kemampuan memproduksi barang, tetapi meningkatkan standar usaha agar mampu menjadi pemasok jaringan ritel modern. Dorongan ini relevan dengan perkembangan terbaru Kementerian Perdagangan mengenai tingginya minat UMKM memasuki jaringan perdagangan nasional.
Kementerian Perdagangan mencatat lebih dari 1.200 UMKM sektor makanan, minuman, kecantikan, dan kesehatan mendaftar dalam open call kurasi calon pemasok jaringan AEON Indonesia pada 26 Agustus–1 September 2026. Dari proses tersebut, 10 produk pangan UMKM binaan Kemendag dipersiapkan masuk ke 19 gerai AEON Indonesia.
ETH: Masalah UMKM Bukan Hanya Modal, tetapi Pasar
ETH menilai akses terhadap pasar merupakan faktor penentu keberlanjutan usaha. UMKM yang mendapatkan tambahan modal dan meningkatkan kapasitas produksi tetap akan menghadapi persoalan apabila tidak mempunyai kanal penjualan yang mampu menyerap produknya secara berkelanjutan.
“UMKM tidak cukup hanya diberi modal dan pelatihan. Pengusaha membutuhkan pasar. Ketika produknya sudah berkualitas, organisasi pengusaha harus membantu membuka pintu menuju ritel modern, perusahaan besar dan jaringan distribusi nasional.”
Bagi ETH, tingginya jumlah pendaftar menunjukkan bahwa kebutuhan UMKM terhadap akses ritel sangat besar. Namun, persaingan juga berarti pelaku usaha harus meningkatkan kualitas produk, kemasan, legalitas, kapasitas produksi dan konsistensi pasokan.
Produk Dalam Negeri Sudah Mendominasi Supermarket AEON
Kemendag menyebut lebih dari 77 persen produk di supermarket AEON Indonesia merupakan produk dalam negeri. Pemerintah melihat jaringan ritel tersebut sebagai salah satu kanal potensial bagi produk Indonesia, terutama sektor makanan, minuman, kecantikan dan kesehatan.
Dalam publikasi lain, Mendag Budi Santoso juga menyampaikan bahwa lebih dari 60 persen produk yang dipasarkan di ritel modern merupakan produk UMKM dan produk lokal. Pemerintah terus mendorong kemitraan UMKM dengan jaringan ritel untuk memperluas akses pasar.
ETH melihat kondisi tersebut sebagai peluang besar bagi pengusaha daerah.
“Rak ritel modern harus menjadi salah satu tujuan UMKM Indonesia. Produk daerah yang memenuhi standar harus memperoleh kesempatan bersaing berdasarkan kualitas, harga, kapasitas dan kontinuitas pasokan.”
1.488 UMKM Telah Difasilitasi Kemendag
Kementerian Perdagangan menyatakan sepanjang 2025–2026 telah memfasilitasi 1.488 UMKM dalam program perluasan akses pasar dalam negeri. Fasilitasi tersebut dilakukan melalui pameran, penjajakan bisnis dengan perusahaan ritel dan department store, kemitraan dengan KAI dan Teras Indonesia IKEA serta berbagai program promosi lainnya.
ETH menilai model tersebut dapat diperluas dengan melibatkan lebih banyak organisasi pengusaha dan pemerintah daerah agar UMKM yang berada jauh dari kota besar ikut memperoleh akses kurasi dan pertemuan dengan calon pembeli.
ETH Siapkan “Retail Ready Program”
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong pembentukan ETH Retail Ready Program, yaitu program persiapan anggota agar layak menjadi pemasok ritel modern.
Program dapat dimulai dengan pemeriksaan terhadap legalitas usaha, kualitas dan keamanan produk, sertifikasi yang diperlukan, merek dan kemasan, kapasitas produksi, harga, sistem distribusi, kemampuan administrasi, serta kontinuitas pasokan.
Alurnya:
UMKM terdata → produk dikurasi → legalitas diperiksa → kemasan dan standar diperbaiki → kapasitas produksi dipetakan → bertemu buyer → negosiasi → masuk ritel → evaluasi penjualan → ekspansi jaringan.
“ETH ingin membawa pengusaha sampai ke tahap transaksi. Kalau produk sudah lolos kurasi, langkah berikutnya harus jelas: siapa buyernya, berapa kebutuhannya, bagaimana kontraknya dan bagaimana UMKM memenuhi pasokan secara konsisten.”
ETH Dorong Business Matching dengan Ritel Nasional
Selain membantu kesiapan produk, ETH dapat menggelar ETH National Retail Business Matching dengan mengundang jaringan supermarket, minimarket, department store, hotel, restoran, perusahaan katering dan perusahaan pengadaan.
Pengusaha anggota kemudian dikelompokkan berdasarkan kategori produk dan kemampuan pasokan sehingga pertemuan bisnis lebih terarah.
“Organisasi pengusaha harus menjadi jembatan antara UMKM yang mempunyai produk dan perusahaan besar yang membutuhkan pemasok. Semakin banyak hubungan bisnis konkret tercipta, semakin kuat ekonomi pengusaha daerah.”
Masuk Ritel Modern Bisa Menjadi Tangga Menuju Ekspor
Kementerian Perdagangan sebelumnya juga menekankan bahwa kemampuan UMKM menembus ritel modern dapat menjadi salah satu indikator kesiapan meningkatkan daya saing dan menjajaki ekspor. Produk harus mampu memenuhi standar pasar, menjaga kualitas serta bersaing dengan produk lain.
ETH karena itu mendorong tahapan pengembangan:
PASAR LOKAL → RITEL MODERN → JARINGAN NASIONAL → BUYER INTERNASIONAL → EKSPOR.
“Pasar nasional harus menjadi tempat UMKM membangun kekuatan. Setelah kualitas, volume dan tata kelola usahanya terbukti, pengusaha dapat dipersiapkan memasuki pasar ekspor.”
TARGET ETH: PRODUK ANGGOTA MASUK RAK RITEL
ETH ingin menjadikan keberhasilan program UMKM bukan sekadar jumlah peserta pelatihan, melainkan hasil bisnis yang dapat diukur: berapa produk lolos kurasi, berapa yang masuk jaringan ritel, berapa nilai penjualannya, dan berapa pengusaha yang mampu memperluas produksi serta membuka pekerjaan baru.
“Target ETH sederhana tetapi konkret: produk pengusaha daerah harus semakin banyak terlihat di rak-rak perdagangan Indonesia. UMKM yang mempunyai kualitas harus memperoleh pasar yang sepadan dengan kemampuannya.”





