Neraca perdagangan Sulut surplus 603,37 juta dolar AS, Ardiansyah Inde: manfaatnya harus dirasakan masyarakat
Gorontalo, 3 September 2026, Neraca perdagangan Sulawesi Utara mencatatkan surplus sebesar 603,37 juta dolar Amerika Serikat secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juli 2026. Capaian tersebut menunjukkan nilai ekspor Sulut masih jauh lebih tinggi dibandingkan nilai impornya. Berdasarkan data Badan Pusat...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Gorontalo, 3 September 2026, Neraca perdagangan Sulawesi Utara mencatatkan surplus sebesar 603,37 juta dolar Amerika Serikat secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juli 2026. Capaian tersebut menunjukkan nilai ekspor Sulut masih jauh lebih tinggi dibandingkan nilai impornya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, nilai ekspor daerah tersebut pada Januari–Juli 2026 mencapai 738,01 juta dolar AS. Angka itu meningkat 3,32 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, yang tercatat sebesar 714,30 juta dolar AS.
Sementara itu, nilai impor Sulawesi Utara mencapai 134,64 juta dolar AS atau meningkat 39,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun pertumbuhan impor lebih tinggi daripada pertumbuhan ekspor, neraca perdagangan Sulut masih berada dalam posisi surplus.
Komoditas ekspor terbesar Sulut masih berasal dari kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati dengan nilai 533,35 juta dolar AS. Nilainya meningkat 3,77 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 513,99 juta dolar AS.
Amerika Serikat menjadi negara tujuan ekspor terbesar Sulawesi Utara dengan nilai 154,71 juta dolar AS. Angka tersebut melonjak 332,22 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yang mencapai 35,79 juta dolar AS.
Adapun impor terbesar Sulut berasal dari kelompok bahan bakar mineral, dengan nilai 84,92 juta dolar AS. Malaysia tercatat sebagai negara asal impor terbesar sepanjang Januari–Juli 2026.
Ketua Dewan Pimpinan Provinsi Elang Tiga Hambalang Sulawesi Utara–Gorontalo, Ardiansyah Inde, menilai surplus perdagangan merupakan kabar positif. Namun, capaian tersebut harus diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penguatan ekonomi daerah.
“Surplus perdagangan sebesar 603,37 juta dolar AS merupakan capaian yang patut dijaga. Namun, keberhasilan itu jangan berhenti pada angka. Masyarakat harus merasakan manfaatnya melalui pembukaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, dan bertumbuhnya usaha lokal,” kata Ardiansyah Inde dalam pernyataannya.
Menurut Ardiansyah, pemerintah daerah perlu memastikan pelaku UMKM, petani, nelayan, koperasi, serta pengusaha lokal memperoleh akses lebih luas ke rantai produksi dan pasar ekspor.
Ia juga menilai dominasi kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati dalam ekspor Sulut perlu disertai penguatan industri pengolahan. Produk daerah diharapkan tidak hanya dikirim dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah terlebih dahulu agar mempunyai nilai tambah lebih tinggi.
“Sulawesi Utara membutuhkan industri pengolahan yang mampu menyerap tenaga kerja lokal. Jika hasil perkebunan, pertanian, dan perikanan diolah di daerah sebelum diekspor, nilai ekonominya akan lebih besar dan manfaatnya dapat dirasakan lebih luas,” ujarnya.
Ardiansyah turut mengingatkan tingginya pertumbuhan impor perlu dicermati. Pemerintah harus memetakan barang-barang yang masih bergantung pada pasokan luar daerah atau luar negeri serta memperkuat kapasitas produksi lokal apabila memungkinkan.
Untuk perdagangan Juli 2026, nilai ekspor Sulut tercatat sebesar 96,51 juta dolar AS, turun 29,17 persen secara tahunan. Pada bulan yang sama, impor mencapai 33,33 juta dolar AS atau meningkat 62,69 persen. Meski demikian, neraca perdagangan Juli masih mencatatkan surplus sebesar 63,18 juta dolar AS.
Ardiansyah berharap pemerintah daerah memperluas pasar ekspor, memperbaiki infrastruktur logistik dan pelabuhan, serta memberikan kemudahan kepada pelaku usaha lokal. Transparansi mengenai komoditas unggulan dan peluang pasar juga diperlukan agar surplus perdagangan menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Data perdagangan bersumber dari pemberitaan ANTARA Sulawesi Utara





