Peksiminas XVIII Segera Digelar, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang: Seni Mahasiswa Harus Menjadi Kekuatan Kebudayaan Indonesia
Reza Prasatria Dharma: Prestasi Mahasiswa Bukan Hanya Akademik, Seni Membentuk Kreativitas, Kepekaan Sosial, dan Karakter Generasi Muda HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 1 September 2026 Panggung nasional bagi talenta seni mahasiswa Indonesia segera dibuka. Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII Tahun...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Reza Prasatria Dharma: Prestasi Mahasiswa Bukan Hanya Akademik, Seni Membentuk Kreativitas, Kepekaan Sosial, dan Karakter Generasi Muda
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 1 September 2026
Panggung nasional bagi talenta seni mahasiswa Indonesia segera dibuka. Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII Tahun 2026 dijadwalkan berlangsung di Universitas Jember (UNEJ), Jawa Timur, pada 7–11 September 2026, berdasarkan pengumuman peserta terbaru Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Dikti.
Data terbaru penyelenggara mencatat 526 delegasi dengan total 893 personel telah ditetapkan mengikuti kompetisi pada 20 tangkai lomba. UNEJ pada 31 Agustus melaporkan persiapan penyelenggaraan telah mencapai sekitar 90 persen.
Ajang nasional tersebut menjadi momentum penting untuk mengingatkan bahwa prestasi mahasiswa tidak hanya lahir dari laboratorium, ruang kuliah, ataupun kompetisi akademik.
Seni juga merupakan bagian penting dari pendidikan generasi muda Indonesia.
Reza: Mahasiswa Membutuhkan Ilmu sekaligus Kepekaan
Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, mendorong perguruan tinggi memberikan ruang yang kuat bagi perkembangan seni dan kebudayaan mahasiswa.
“Mahasiswa membutuhkan ilmu pengetahuan, tetapi mahasiswa juga membutuhkan kreativitas dan kepekaan. Seni mengajarkan kita melihat kehidupan dari sudut yang berbeda sekaligus menjaga hubungan generasi muda dengan kebudayaan Indonesia,” kata Reza Prasatria Dharma.
Satuan Mahasiswa ETH menilai mahasiswa yang berprestasi dalam seni selayaknya mendapatkan apresiasi sebagaimana mahasiswa yang berprestasi dalam bidang akademik, penelitian, olahraga maupun teknologi.
Seni bukan kegiatan pelengkap pendidikan.
Seni dapat menjadi ruang pembentukan karakter, kreativitas, keberanian berekspresi, disiplin dan kemampuan memahami masyarakat.
Ratusan Talenta Mahasiswa Menuju Jember
Peksiminas merupakan kompetisi seni mahasiswa tingkat nasional yang diselenggarakan untuk mengembangkan minat, bakat, prestasi dan penguatan karakter mahasiswa di bidang seni.
Peserta nasional telah melewati proses seleksi dan verifikasi. Pengumuman terbaru Simbelmawa menyebut 526 delegasi dengan total 893 personel akan berkompetisi dalam 20 tangkai lomba.
Sementara laporan UNEJ pada 31 Agustus menyebut data hingga 22 Agustus mencatat 891 mahasiswa dan 470 dosen pendamping dari 32 kontingen provinsi.
Perbedaan angka tersebut berasal dari kategori dan waktu pembaruan data yang berbeda. Karena itu, angka peserta kompetisi dalam berita ini mengacu pada pengumuman resmi Simbelmawa yang secara khusus menetapkan peserta Peksiminas.
Dari Musik hingga Karya Visual
Cabang seni dalam Peksiminas mencakup spektrum yang luas.
Di antaranya terdapat menyanyi, baca puisi, vokal grup, monolog, tari, penulisan cerita pendek, penulisan lakon, penulisan puisi, desain poster, lukis, komik strip dan fotografi.
Keberagaman tersebut memperlihatkan luasnya ruang kreativitas mahasiswa Indonesia.
Menurut Satuan Mahasiswa ETH, karya seni mahasiswa juga dapat menjadi medium untuk membicarakan persoalan masyarakat.
Kemiskinan.
Lingkungan.
Pendidikan.
Keadilan.
Kebudayaan daerah.
Teknologi.
Hingga kehidupan generasi muda.
Mahasiswa dapat membicarakan persoalan tersebut melalui tulisan, lukisan, fotografi, teater, musik ataupun bentuk seni lainnya.
Era AI Membawa Tantangan Baru
Peksiminas tahun ini juga menghadapi persoalan yang sangat kontemporer: Artificial Intelligence (AI).
Ketua Pelaksana Peksiminas XVIII Markus Apriono mengatakan panitia menyiapkan langkah untuk mengantisipasi penggunaan AI pada cabang yang mengandalkan ide dan kreativitas, seperti penulisan cerita pendek, lakon dan puisi. Rencana penyelenggara adalah membatasi akses internet peserta selama cabang tertentu berlangsung.
Persoalan tersebut penting karena menyentuh pertanyaan yang lebih besar mengenai masa depan kreativitas manusia.
AI dapat membantu proses kreatif.
Tetapi kompetisi seni juga perlu memastikan bahwa karya yang dinilai benar-benar mencerminkan kemampuan peserta sesuai aturan perlombaan.
Reza melihat perkembangan tersebut sebagai tantangan baru bagi mahasiswa.
“AI dapat menjadi alat, tetapi kreativitas, pengalaman manusia dan kejujuran berkarya tidak boleh hilang. Teknologi berkembang, tetapi integritas seorang mahasiswa tetap harus menjadi fondasi,” ujar Reza.
Seni dan Teknologi Tidak Harus Bermusuhan
Satuan Mahasiswa ETH memandang perkembangan AI tidak berarti mahasiswa seni harus menjauh dari teknologi.
Justru generasi muda perlu memahami teknologi agar mampu menentukan bagaimana teknologi digunakan secara etis.
Fotografer mahasiswa kini hidup di era pengolahan gambar digital.
Musisi berhadapan dengan produksi audio berbasis komputer.
Desainer bekerja menggunakan perangkat digital.
Penulis menghadapi AI generatif.
Seniman visual bahkan mempunyai medium baru melalui teknologi imersif dan seni digital.
Pertanyaannya bukan lagi apakah seni akan bersentuhan dengan teknologi.
Pertanyaannya adalah bagaimana manusia tetap menjadi pusat kreativitas tersebut.
Kampus Jangan Hanya Mengejar Prestasi Akademik
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong perguruan tinggi menjaga keseimbangan pengembangan mahasiswa.
Kampus membutuhkan ilmuwan.
Kampus membutuhkan peneliti.
Kampus membutuhkan inovator.
Tetapi kampus juga membutuhkan penyair, musisi, aktor, fotografer, pelukis, penulis dan berbagai talenta kreatif lainnya.
“Perguruan tinggi jangan membuat mahasiswa merasa bahwa satu-satunya ukuran keberhasilan adalah angka akademik. Pendidikan seharusnya membantu setiap mahasiswa menemukan potensi terbaiknya dan mengembangkannya secara bertanggung jawab,” kata Reza.
Seni Bisa Menjaga Kebudayaan Daerah
Indonesia mempunyai kekayaan kebudayaan yang sangat besar.
Mahasiswa dapat menjadi jembatan antara tradisi dan generasi baru.
Tari tradisional dapat dikembangkan dengan pendekatan kontemporer.
Musik daerah dapat diperkenalkan melalui platform digital.
Cerita rakyat dapat diolah menjadi film, komik ataupun karya sastra.
Kerajinan tradisional dapat dipertemukan dengan desain modern.
Satuan Mahasiswa ETH menilai perguruan tinggi mempunyai kesempatan besar untuk menjadikan mahasiswa sebagai salah satu kekuatan pelestarian sekaligus pembaruan kebudayaan Indonesia.
Pelestarian tidak berarti membekukan kebudayaan.
Generasi muda justru perlu diberi ruang untuk mengenal, mempelajari dan mengembangkannya secara bertanggung jawab.
Dari Hambalang untuk Mahasiswa Indonesia
Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang menyampaikan dukungan kepada mahasiswa dari berbagai daerah yang akan menunjukkan karya dan kemampuan terbaik mereka pada Peksiminas XVIII.
Menang merupakan prestasi.
Tetapi pertemuan talenta mahasiswa dari berbagai daerah juga mempunyai nilai lain: mempertemukan budaya, gagasan dan kreativitas generasi muda Indonesia.
Reza Prasatria Dharma menegaskan:
“Seni bukan sekadar hiburan. Di tangan mahasiswa, seni dapat menjadi bahasa persatuan, kritik sosial, penjaga kebudayaan dan ruang lahirnya gagasan baru. Indonesia membutuhkan generasi muda yang cerdas sekaligus kreatif dan berbudaya.”
Dari Hambalang untuk Indonesia: biarkan ilmu menguatkan pikiran, integritas membentuk karakter, dan seni menjaga jiwa generasi muda.
Catatan verifikasi
Fakta terverifikasi: pengumuman peserta terbaru Ditjen Dikti/Simbelmawa menetapkan Peksiminas XVIII berlangsung 7–11 September 2026 di Universitas Jember, dengan 526 delegasi dan total 893 personel pada 20 tangkai lomba. ([simbelmawa.kemdiktisaintek.go.id][1]) Laporan UNEJ tanggal 31 Agustus menyatakan kesiapan penyelenggaraan mencapai sekitar 90 persen dan mengonfirmasi adanya antisipasi terhadap penggunaan AI dalam sejumlah cabang berbasis penulisan/kreativitas.
Analisis organisasi: pandangan mengenai seni sebagai kekuatan kebudayaan, keseimbangan prestasi akademik dan nonakademik, hubungan seni dengan teknologi, serta peran mahasiswa dalam menjaga kebudayaan merupakan analisis Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang.
Kutipan Reza Prasatria Dharma:





