EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Petani Solok Keluhkan Kabut Asap, Harga Bawang Merah Turun hingga Rp14 Ribu per Kilogram, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang Desak Perlindungan Petani Hortikultura

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — Senin, 26 Oktober 2026. Petani bawang merah di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, menghadapi tekanan ekonomi akibat hasil panen yang dinilai tidak optimal dan menurunnya harga jual. Di tengah kabut asap yang menyelimuti kawasan pertanian...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — Senin, 26 Oktober 2026.

Petani bawang merah di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, menghadapi tekanan ekonomi akibat hasil panen yang dinilai tidak optimal dan menurunnya harga jual. Di tengah kabut asap yang menyelimuti kawasan pertanian Alahan Panjang, sejumlah petani mengeluhkan ukuran umbi bawang merah yang lebih kecil dibandingkan panen sebelumnya. Sebagian hasil panen bahkan hanya terjual sekitar Rp14.000 per kilogram. Kondisi tersebut menjadi perhatian Satuan Petani Elang Tiga Hambalang, yang mendorong pemerintah memperkuat perlindungan petani hortikultura dari risiko perubahan iklim, gangguan produksi, dan ketidakstabilan harga hasil panen.

banner 468x60

Perkembangan tersebut dilaporkan ANTARA Sumatera Barat pada Minggu (25/10/2026) dan kembali diberitakan sejumlah media nasional pada Senin (26/10/2026).

Kabut asap yang terjadi di wilayah Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, dikeluhkan masyarakat pertanian karena diduga mengganggu pertumbuhan tanaman hortikultura.

Andi, seorang petani bawang merah di Alahan Panjang, menyampaikan bahwa hasil panennya kali ini tidak sesuai harapan.

Menurut keterangannya, ukuran umbi yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan panen sebelumnya.

Petani tersebut menduga kondisi kabut asap yang mengurangi intensitas cahaya matahari ikut memengaruhi pertumbuhan tanaman.

Namun, penyebab pasti perubahan ukuran umbi bawang merah belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan teknis di lapangan.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang bahwa keluhan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pengamatan agronomis, pemeriksaan kondisi lahan, dan evaluasi perkembangan harga hasil panen.

Organisasi mendukung pemerintah melakukan penanganan berdasarkan bukti agar bantuan serta pendampingan benar-benar sesuai kebutuhan petani.

Harga Bawang Merah Ukuran Menengah Dilaporkan Rp14 Ribu per Kilogram

Berdasarkan laporan ANTARA pada 25 Oktober 2026, Andi menyampaikan bahwa bawang merah hasil panennya yang didominasi ukuran menengah hanya dapat dijual sekitar Rp14.000 per kilogram.

Harga tersebut merupakan harga yang dilaporkan seorang petani untuk hasil panen dengan ukuran tertentu, bukan rata-rata harga bawang merah nasional.

Sementara itu, dalam laporan terpisah pada hari yang sama, seorang petani bernama Marni Yenti menyampaikan bahwa bawang merah berukuran besar dijual sekitar Rp17.000 per kilogram, sedangkan ukuran menengah berada pada kisaran Rp14.000 per kilogram.

Perbedaan harga tersebut memperlihatkan bahwa kualitas dan ukuran hasil panen dapat memengaruhi nilai jual komoditas hortikultura.

Sebelumnya, Dinas Pertanian Kabupaten Solok juga mengungkapkan bahwa harga bawang merah di tingkat petani mengalami penurunan.

Pada 23 Oktober 2026, salah seorang petani menyampaikan harga bawang merah berukuran besar telah turun dari sekitar Rp27.000 menjadi Rp19.000 per kilogram.

Angka-angka tersebut berasal dari pengamatan dan waktu pelaporan yang berbeda sehingga tidak dapat dijadikan satu rangkaian harga yang berlaku seragam untuk seluruh petani.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang menilai bahwa perubahan harga hasil panen membutuhkan perhatian serius.

Petani hortikultura mempunyai biaya produksi yang harus dikeluarkan sebelum tanaman menghasilkan.

Biaya tersebut mencakup benih, pupuk, pengolahan lahan, tenaga kerja, pengendalian organisme pengganggu, dan pemeliharaan tanaman.

Apabila hasil panen mengalami penurunan mutu sementara harga jual juga menurun, keuntungan petani dapat tertekan.

Organisasi mendorong pemerintah memperkuat pemantauan harga berdasarkan jenis komoditas, kualitas produk, wilayah produksi, dan biaya usaha tani.

Perlindungan harga hasil panen harus mempertimbangkan keuntungan bersih petani, bukan semata-mata harga yang terbentuk di pasar.

Petani Keluhkan Biaya Pupuk Tinggi dan Hasil Panen Tidak Optimal

Selain harga jual yang menurun, petani di Alahan Panjang juga mengeluhkan tingginya biaya pemupukan.

Menurut keterangan Andi kepada ANTARA, penggunaan pupuk kimia yang dilakukan selama kegiatan budidaya belum menghasilkan pertumbuhan tanaman sesuai harapan.

Petani tersebut mengaitkan kondisi pertumbuhan dengan terbatasnya cahaya matahari ketika kabut asap menyelimuti wilayah pertanian.

Namun, penurunan ukuran umbi tidak otomatis membuktikan bahwa pupuk yang digunakan tidak efektif atau kabut asap menjadi penyebab tunggal.

Produktivitas bawang merah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.

Ketersediaan unsur hara, kondisi tanah, varietas benih, pengairan, suhu, kelembapan, serangan hama dan penyakit, serta teknik budidaya merupakan bagian dari faktor yang perlu diperiksa.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang bahwa keluhan petani harus menjadi dasar penguatan pelayanan penyuluhan.

Pemerintah perlu memastikan petani mendapatkan rekomendasi pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman.

Penggunaan pupuk yang tidak sesuai dosis dan kondisi lahan dapat meningkatkan biaya tanpa menjamin hasil panen yang lebih baik.

Organisasi juga mendorong peningkatan akses terhadap pengujian tanah serta pendampingan pemupukan berimbang.

Pemerintah perlu mengembangkan pendekatan yang membantu petani mengendalikan biaya produksi sekaligus mempertahankan kesuburan tanah.

Petani membutuhkan teknologi budidaya yang tepat, sarana produksi yang terjangkau, dan pendampingan langsung agar risiko kerugian dapat dikurangi.

Dinas Pertanian Solok: Penyebab Penurunan Ukuran Umbi Harus Diperiksa

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Deslirizaldi, menjelaskan bahwa kabut asap berpotensi memengaruhi pertumbuhan tanaman apabila mengurangi intensitas cahaya matahari yang dibutuhkan untuk fotosintesis.

Fotosintesis merupakan proses penting bagi tanaman untuk menghasilkan energi yang mendukung pertumbuhan dan pembentukan hasil.

Pada bawang merah, gangguan kondisi lingkungan dapat memengaruhi proses pertumbuhan daun dan perkembangan umbi.

Namun, Deslirizaldi menegaskan bahwa hubungan antara kabut asap dan mengecilnya ukuran umbi di Alahan Panjang perlu dibuktikan melalui pengamatan langsung.

Menurut Dinas Pertanian, penurunan ukuran umbi juga dapat dipengaruhi ketersediaan air, unsur hara, varietas tanaman, organisme pengganggu, dan teknik budidaya.

Pemerintah daerah mendorong petani melakukan pemantauan kondisi tanaman serta berkonsultasi dengan penyuluh.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung pendekatan tersebut.

Organisasi menilai bahwa pemeriksaan teknis penting untuk menentukan penyebab gangguan produksi secara objektif.

Apabila kabut asap terbukti memberikan pengaruh signifikan, pemerintah perlu menyiapkan langkah mitigasi yang sesuai.

Namun, apabila ditemukan persoalan lain seperti gangguan penyakit atau ketidakseimbangan unsur hara, langkah penanganan harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan.

Penanganan gangguan produksi pertanian harus berdasarkan kondisi nyata tanaman dan lahan, bukan sekadar dugaan penyebab yang belum diperiksa.

El Niño Sangat Kuat Menambah Tantangan Produksi Pertanian Nasional

Perkembangan kondisi pertanian di Solok berlangsung ketika Indonesia menghadapi fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian II Oktober 2026 yang dipublikasikan pada 23 Oktober mencatat anomali suhu muka laut wilayah Niño 3.4 sebesar +3,19°C.

Sementara itu, indeks ENSO tiga bulanan Agustus–Oktober tercatat sebesar +3,05.

Menurut BMKG, kondisi tersebut menunjukkan fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat.

Fenomena ini dapat meningkatkan risiko berkurangnya curah hujan pada sejumlah wilayah Indonesia.

Dalam prakiraan sebelumnya, BMKG juga menjelaskan bahwa kondisi atmosfer yang relatif kering meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan pada wilayah tertentu.

Namun, kondisi El Niño secara nasional tidak otomatis membuktikan asal kabut asap atau penyebab gangguan tanaman di Alahan Panjang.

Penentuan sumber asap dan besarnya dampak terhadap pertanian tetap memerlukan pemantauan lingkungan serta data setempat.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang bahwa perkembangan iklim tersebut memperkuat kebutuhan terhadap sistem perlindungan pertanian nasional.

Pemerintah perlu meningkatkan kesiapan menghadapi gangguan curah hujan, kekeringan, perubahan suhu, dan penurunan kualitas udara.

Informasi BMKG harus dihubungkan dengan kegiatan penyuluhan agar petani dapat menyesuaikan kalender tanam dan pengelolaan lahan.

Organisasi juga mendukung pengembangan sistem peringatan dini bagi wilayah pertanian yang mempunyai risiko tinggi.

Perubahan iklim dan gangguan lingkungan harus diantisipasi melalui kebijakan yang melindungi produksi, meningkatkan kemampuan adaptasi petani, dan menjaga keberlanjutan ketahanan pangan nasional.

Cabai, Tomat, dan Sayuran Juga Berpotensi Mengalami Gangguan

Persoalan keterbatasan cahaya matahari tidak hanya berkaitan dengan bawang merah.

Tanaman hortikultura lain seperti cabai, tomat, mentimun, dan sayuran daun juga membutuhkan cahaya dalam proses pertumbuhan.

Apabila intensitas cahaya menurun secara berkepanjangan, tanaman dapat menghadapi gangguan fotosintesis yang berpotensi memengaruhi produktivitas.

Pada tanaman cabai dan tomat, kondisi lingkungan yang tidak mendukung dapat memengaruhi pertumbuhan vegetatif serta perkembangan bunga dan buah.

Sementara itu, tanaman sayuran daun seperti sawi dan selada berpotensi mengalami penurunan kecepatan pertumbuhan apabila kebutuhan cahaya tidak terpenuhi.

Namun, tingkat gangguan sangat bergantung pada jenis tanaman, umur tanaman, lama paparan, serta kondisi lingkungan dan budidaya.

Karena itu, tidak dapat disimpulkan bahwa seluruh komoditas hortikultura di Kabupaten Solok telah mengalami kerugian akibat kabut asap.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendorong pemerintah memperluas kegiatan pengamatan lapangan terhadap sentra produksi hortikultura.

Pemeriksaan perlu melibatkan penyuluh, petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan, serta instansi yang memiliki kemampuan teknis terkait.

Organisasi juga memandang pentingnya pendataan dampak ekonomi apabila ditemukan penurunan kualitas atau kuantitas hasil panen.

Pendataan dapat digunakan sebagai dasar menyusun rekomendasi teknis serta kebijakan pemulihan yang sesuai.

Pemerintah Solok Dorong Pengaturan Pola Tanam agar Harga Tidak Jatuh

Selain menghadapi persoalan kabut asap, petani hortikultura Kabupaten Solok juga mengalami perubahan harga sejumlah komoditas.

Dalam laporan ANTARA pada 25 Oktober 2026, Dinas Pertanian Kabupaten Solok mendorong petani mengatur pola tanam agar tidak terjadi panen serentak dalam jumlah besar pada komoditas yang sama.

Kepala Dinas Pertanian Deslirizaldi menjelaskan bahwa keputusan petani menanam suatu komoditas sering dipengaruhi oleh harga yang sedang tinggi.

Namun, apabila banyak petani menanam komoditas sama dalam waktu berdekatan, hasil panen berpotensi melimpah secara bersamaan dan menyebabkan harga menurun.

Dalam laporan tersebut, harga cabai merah keriting di tingkat petani Alahan Panjang disebut turun dari sekitar Rp80.000 menjadi Rp68.000 per kilogram dalam sepekan.

Pemerintah daerah mendorong pengaturan waktu tanam serta diversifikasi komoditas untuk mengurangi risiko kelebihan pasokan.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung pengembangan perencanaan produksi berdasarkan informasi pasar.

Namun, organisasi memandang bahwa perubahan komoditas tidak boleh dilakukan tanpa mempertimbangkan kesesuaian lahan dan biaya usaha.

Petani membutuhkan informasi mengenai kebutuhan pasar, masa panen, harga, serta kemampuan pemasaran sebelum menentukan tanaman yang akan dibudidayakan.

Pemerintah perlu memperkuat penyampaian informasi harga dan proyeksi kebutuhan komoditas.

Selain itu, koperasi dan kelompok tani dapat berperan dalam mengoordinasikan rencana produksi serta pemasaran.

Pengaturan pola tanam yang baik harus membantu petani mengurangi risiko penurunan harga tanpa mengorbankan produktivitas dan keberlanjutan usaha.

Hilirisasi Bawang Merah Dapat Menjadi Alternatif Peningkatan Pendapatan

Dinas Pertanian Kabupaten Solok sebelumnya juga mendorong pengembangan produk olahan bawang merah.

Dalam laporan pada 23 Oktober 2026, Kepala Dinas Pertanian Deslirizaldi menyampaikan bahwa pengolahan bawang merah menjadi bawang goreng dapat memberikan peluang nilai tambah.

Pengolahan hasil panen memungkinkan produk dipasarkan dalam bentuk yang berbeda dari komoditas segar.

Namun, peluang peningkatan harga jual harus dinilai berdasarkan biaya pengolahan, rendemen, mutu produk, kemasan, dan kebutuhan pasar.

Harga produk olahan yang lebih tinggi tidak otomatis berarti keuntungan petani lebih besar.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung pengembangan hilirisasi berbasis koperasi serta kelompok usaha pertanian.

Organisasi memandang bahwa pengolahan hasil dapat menjadi salah satu pilihan ketika harga komoditas segar mengalami penurunan.

Namun, tidak seluruh hasil panen otomatis layak diolah menjadi produk pangan.

Bahan baku harus memenuhi persyaratan keamanan serta kualitas sesuai jenis produk yang akan dihasilkan.

Pemerintah perlu memberikan pendampingan mengenai teknologi pengolahan, pengendalian mutu, pengemasan, perizinan usaha, dan pemasaran.

Satuan Petani ETH juga mendorong akses pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan kelompok usaha.

Hilirisasi pertanian harus memberikan kesempatan kepada petani untuk memperoleh nilai tambah secara nyata, bukan hanya meningkatkan harga jual produk tanpa memperhitungkan biaya pengolahannya.


Empat Usulan Konkret Satuan Petani Elang Tiga Hambalang

Sebagai organisasi yang menjalankan fungsi kontrol sosial secara independen dan konstruktif, Satuan Petani ETH mengajukan empat usulan untuk memperkuat perlindungan petani hortikultura yang menghadapi risiko gangguan lingkungan dan penurunan harga hasil panen.

1. Mempercepat pemeriksaan teknis terhadap tanaman bawang merah yang mengalami gangguan pertumbuhan

Kementerian Pertanian bersama Dinas Pertanian Kabupaten Solok perlu melakukan pengamatan langsung pada lahan yang dikeluhkan petani.

Pemeriksaan harus mencakup kondisi tanaman, ukuran dan hasil umbi, ketersediaan air, kandungan unsur hara, serangan organisme pengganggu, serta kondisi lingkungan.

Pemerintah juga perlu berkoordinasi dengan BMKG dan instansi lingkungan hidup untuk memperoleh informasi mengenai kualitas udara serta kondisi meteorologis.

Hasil pemeriksaan harus digunakan sebagai dasar penentuan langkah penanganan.

2. Memperkuat perlindungan pendapatan petani dan transparansi harga hasil panen

Pemerintah perlu memantau harga bawang merah di tingkat petani berdasarkan kualitas, ukuran, dan wilayah pemasaran.

Koperasi serta kelompok tani perlu memperoleh kesempatan memperkuat pengumpulan hasil panen dan pemasaran secara kolektif.

Pemerintah juga perlu mengevaluasi perkembangan biaya produksi agar risiko kerugian petani dapat diketahui secara lebih akurat.

Apabila diperlukan langkah stabilisasi, kebijakan harus didasarkan pada kondisi produksi, pasokan, dan kebutuhan pasar.

3. Mengembangkan sistem perlindungan pertanian terhadap kabut asap dan perubahan iklim

Kementerian Pertanian, BMKG, pemerintah daerah, dan instansi lingkungan hidup perlu memperkuat koordinasi dalam penyampaian informasi risiko lingkungan bagi sentra pertanian.

Petani membutuhkan peringatan mengenai kondisi iklim serta rekomendasi teknis yang sesuai dengan komoditas.

Selain itu, pemerintah perlu meningkatkan pelayanan penyuluhan mengenai pemupukan berimbang, pengelolaan air, pengendalian hama, dan penyesuaian pola tanam.

Pengembangan instrumen perlindungan risiko bagi petani hortikultura juga perlu dievaluasi sesuai karakteristik usaha serta ketentuan yang berlaku.

4. Memperluas hilirisasi bawang merah dan penguatan koperasi pertanian

Pemerintah perlu mengembangkan pelatihan pengolahan hasil bawang merah bagi kelompok tani dan koperasi.

Program harus mencakup pengujian mutu bahan baku, teknologi pengolahan, pengemasan, pencatatan biaya, dan pemasaran produk.

Selain itu, pemerintah perlu membantu kelompok usaha menyusun analisis kelayakan sebelum melakukan investasi fasilitas pengolahan.

Pengembangan hilirisasi harus diarahkan untuk meningkatkan pendapatan bersih petani dan memperluas peluang usaha masyarakat perdesaan.


Satuan Petani ETH Mendukung Ketahanan Pangan Nasional dan Perlindungan Usaha Petani

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung penuh kebijakan Pemerintah Republik Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan produktivitas pertanian nasional.

Organisasi memandang bahwa pengembangan produksi hortikultura mempunyai peran penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Komoditas bawang merah, cabai, tomat, dan berbagai sayuran merupakan bagian dari kebutuhan pangan yang memerlukan pasokan berkelanjutan.

Namun, peningkatan produksi harus berjalan bersama perlindungan terhadap risiko usaha.

Petani membutuhkan sarana produksi yang sesuai, akses terhadap informasi cuaca, pendampingan teknis, dan kepastian pemasaran.

Perubahan lingkungan yang mengganggu pertumbuhan tanaman perlu ditangani berdasarkan pemeriksaan ilmiah.

Sementara itu, penurunan harga hasil panen harus direspons melalui penguatan distribusi serta pengembangan nilai tambah yang layak secara ekonomi.

Sebagai organisasi masyarakat yang menjalankan fungsi kontrol sosial secara independen dan konstruktif, Satuan Petani ETH mendukung evaluasi kebijakan berdasarkan fakta.

Organisasi mendorong kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, koperasi, kelompok tani, dan pelaku usaha pangan.

Dukungan terhadap kebijakan pemerintah harus disertai penyampaian usulan perbaikan yang dapat dilaksanakan.

Penegasan Satuan Petani Elang Tiga Hambalang

Satuan Petani ETH memandang bahwa keluhan petani bawang merah di Kabupaten Solok harus menjadi perhatian dalam penguatan perlindungan usaha hortikultura nasional.

Penurunan ukuran umbi dan harga jual yang dilaporkan petani menunjukkan adanya persoalan yang perlu diperiksa serta ditangani berdasarkan kondisi sebenarnya.

Pemerintah perlu memastikan petani memperoleh pendampingan budidaya, akses informasi harga, dan dukungan pengelolaan risiko usaha.

Selain itu, pengembangan hilirisasi serta penguatan koperasi perlu menjadi bagian dari strategi meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.

Satuan Petani Elang Tiga Hambalang menegaskan bahwa ketahanan pangan nasional yang kuat tidak cukup hanya dibangun melalui peningkatan jumlah produksi. Negara harus mampu melindungi petani dari risiko perubahan iklim, gangguan lingkungan, biaya produksi yang tinggi, serta ketidakpastian harga hasil panen.

Petani yang terlindungi, produksi yang berkelanjutan, dan harga hasil panen yang memberikan keuntungan layak merupakan fondasi utama menuju kemandirian pangan serta kesejahteraan masyarakat pertanian Indonesia.

DEWAN PIMPINAN NASIONAL
SATUAN PETANI ELANG TIGA HAMBALANG

BERSATU • BERJUANG • SEJAHTERA

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Senin, 26 Oktober 2026

banner 336x280
Secret Link