EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Porsi Mahasiswa STEM Sekitar 28 Persen, Satuan Mahasiswa ETH Minta Penguatan Sains Tetap Terjangkau dan Terukur

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Pemerintah mendorong penguatan sains fundamental, kualitas riset, kapasitas dosen, dan hubungan perguruan tinggi dengan industri. Satuan Mahasiswa ETH meminta kebijakan tersebut disertai indikator mutu, keterjangkauan biaya, dan hasil lulusan yang dapat diperiksa masyarakat. Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa BaratTanggal penulisan: Minggu,...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Pemerintah mendorong penguatan sains fundamental, kualitas riset, kapasitas dosen, dan hubungan perguruan tinggi dengan industri. Satuan Mahasiswa ETH meminta kebijakan tersebut disertai indikator mutu, keterjangkauan biaya, dan hasil lulusan yang dapat diperiksa masyarakat.

Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Tanggal penulisan: Minggu, 4 Oktober 2026 WIB

banner 468x60

Penguatan pendidikan tinggi di bidang sains dan teknologi menjadi isu strategis bagi mahasiswa karena perkembangan kecerdasan buatan, komputasi kuantum, kesehatan, pertanian modern, dan industri berbasis teknologi akan semakin memengaruhi kebutuhan kompetensi tenaga kerja Indonesia.

Perkembangan terbaru dipublikasikan ANTARA pada 4 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan bahwa proporsi mahasiswa pada bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM)—yang dalam paparan tersebut mencakup teknik, kesehatan, pertanian, serta MIPA—masih sekitar 28 persen.

Perlu dibedakan antara tanggal publikasi dan tanggal kegiatan. Pernyataan tersebut berasal dari Konferensi Nasional Pendidikan Indonesia ke-12 di Bali pada 2 Oktober 2026. Kemdiktisaintek mencatat pada 2025 terdapat 34.711 program studi, 11,5 juta mahasiswa, sekitar 328 ribu dosen, dan 2,78 juta lulusan. Pemerintah menekankan penguatan sains fundamental, kualitas lulusan, riset, kapasitas dosen, serta hubungan perguruan tinggi dengan industri.

Dari sisi keterjangkauan, Bank Indonesia pada 1 Oktober 2026 mencatat biaya kuliah akademi/perguruan tinggi sebagai salah satu komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi inti September. Data tersebut tidak menunjukkan bahwa seluruh perguruan tinggi mengalami kenaikan biaya yang sama, tetapi memperlihatkan bahwa aspek pembiayaan perlu ikut diperhitungkan ketika pemerintah mendorong peningkatan kualitas pendidikan tinggi.

Pernyataan Ketua Umum — Reza Prasatria Dharma

“Penguatan STEM perlu dilihat bukan sekadar dari bertambahnya jumlah mahasiswa. Publik juga harus dapat memeriksa kualitas laboratorium, kompetensi dosen, peluang riset, keterhubungan dengan industri, keberhasilan lulusan memperoleh pekerjaan, dan apakah mahasiswa dari keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas tetap memperoleh akses.”

Dewan Pimpinan Nasional Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mengajukan pertanyaan pengawasan: berapa target peningkatan mahasiswa STEM dalam lima tahun; bagaimana distribusinya antardaerah; berapa kampus yang memiliki fasilitas laboratorium memadai; apakah kebutuhan industri sudah dipetakan; serta bagaimana pemerintah menjaga agar peningkatan mutu tidak diikuti beban biaya yang menghambat akses mahasiswa.

Satuan Mahasiswa ETH mengusulkan empat langkah perbaikan. Pertama, Kemdiktisaintek dan PDDikti menyediakan dashboard perkembangan mahasiswa STEM, dosen, fasilitas, kelulusan dan tracer study. Kedua, perguruan tinggi membuka indikator pemanfaatan laboratorium serta komponen biaya pendidikan secara ringkas. Ketiga, Kemdiktisaintek, LPDP dan dunia usaha memperluas beasiswa, riset mahasiswa dan akses fasilitas bersama. Keempat, kampus dan industri mempublikasikan hasil kemitraan berupa magang, riset, sertifikasi dan penempatan lulusan.

Indikator tindak lanjutnya adalah peningkatan partisipasi mahasiswa tanpa kenaikan angka putus kuliah karena biaya, kualitas fasilitas, produktivitas riset, serta persentase lulusan yang bekerja sesuai kompetensi. Manfaatnya ialah kebijakan lebih mudah dinilai. Risikonya, mengejar persentase STEM semata dapat menghasilkan pertumbuhan kuantitas tanpa perbaikan mutu apabila tenaga pengajar, laboratorium dan kebutuhan industri tidak berkembang seimbang.

Narasumber organisasi:
Reza Prasatria Dharma — Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang

banner 336x280
Secret Link