Progres cetak sawah Papua baru 16–17 persen, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang: percepatan harus tetap melindungi masyarakat adat
Target program di Papua disesuaikan dari sekitar 61 ribu menjadi 15 ribu hektare; pemerintah diminta menyelesaikan hambatan teknis dan sosial secara transparan tanpa mengabaikan hak masyarakat setempat HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — Minggu, 6 September 2026 HAMBALANG — Pelaksanaan...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Target program di Papua disesuaikan dari sekitar 61 ribu menjadi 15 ribu hektare; pemerintah diminta menyelesaikan hambatan teknis dan sosial secara transparan tanpa mengabaikan hak masyarakat setempat
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — Minggu, 6 September 2026
HAMBALANG — Pelaksanaan program cetak sawah tahun anggaran 2026 di Tanah Papua menjadi perhatian setelah Kementerian Pertanian menilai kemajuan konstruksinya masih rendah. Hingga awal September 2026, progres pekerjaan dilaporkan baru mencapai sekitar 16–17 persen.
Informasi tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Evaluasi dan Addendum Konstruksi Cetak Sawah Tahun 2026 se-Tanah Papua yang berlangsung di Kota Jayapura, Sabtu, 5 September 2026.
Menurut keterangan Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Papua merupakan salah satu wilayah yang semula memperoleh target cetak sawah terbesar. Setelah dilakukan penyesuaian atau addendum, targetnya berubah dari sekitar 61 ribu hektare menjadi sekitar 15 ribu hektare.
Capaian konstruksi sekitar 16–17 persen dinilai masih jauh dari harapan. Pada pertengahan masa kontrak, kemajuan pekerjaan seharusnya telah melampaui 50 persen.
Evaluasi pemerintah mencakup perkembangan fisik, tata kelola administrasi serta berbagai persoalan teknis dan sosial di lapangan. Ketersediaan alat berat dan kejelasan pembagian tanggung jawab pada setiap lokasi juga menjadi bagian yang perlu segera diselesaikan.
Satuan Petani ETH minta persoalan lapangan dibuka secara transparan
Menanggapi perkembangan tersebut, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang menilai percepatan program perlu dilakukan secara terukur, transparan dan melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan.
Dalam pernyataannya, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang menyampaikan:
“Rendahnya progres harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh. Pemerintah perlu menjelaskan hambatan yang terjadi pada setiap lokasi, termasuk persoalan alat berat, kontrak pekerjaan, kesesuaian lahan, tenaga kerja dan koordinasi antarlembaga.”
Satuan Petani ETH mengingatkan bahwa program cetak sawah bukan sekadar mengejar luas lahan. Program tersebut harus menghasilkan sawah yang benar-benar produktif, memiliki sumber air, sesuai dengan kondisi tanah serta dapat dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat.
“Jangan sampai pekerjaan dipercepat hanya untuk mengejar angka, tetapi sawah yang dibangun tidak memiliki irigasi, benih, pupuk, alat produksi ataupun kepastian pasar. Keberhasilan harus diukur dari kemampuan petani menanam, memanen dan meningkatkan pendapatannya,” demikian lanjutan draf pernyataan tersebut.
Hak masyarakat adat harus menjadi perhatian
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang juga meminta pemerintah menghormati hak masyarakat adat dan memastikan status lahan telah diselesaikan secara jelas sebelum pekerjaan dilanjutkan.
Dialog dengan pemilik hak ulayat, tokoh adat, pemerintah daerah dan calon petani pengelola dinilai penting untuk mencegah munculnya sengketa sosial di kemudian hari.
Organisasi tersebut mengusulkan agar pemerintah membuka informasi mengenai lokasi, luas lahan, pelaksana pekerjaan, sumber anggaran, capaian konstruksi dan target penyelesaian program. Pengawasan bersama diperlukan agar penggunaan anggaran dapat dipertanggungjawabkan dan manfaatnya benar-benar diterima masyarakat Papua.
Pendampingan petani tidak boleh berhenti setelah konstruksi
Selain pembangunan fisik, Satuan Petani ETH menilai pemerintah perlu menyiapkan rangkaian pendukung berupa jaringan irigasi, jalan produksi, benih yang sesuai, pupuk, alat dan mesin pertanian, penyuluh serta akses pembiayaan.
Kepastian penyerapan dan harga hasil panen juga perlu dipersiapkan sejak awal. Tanpa dukungan dari hulu hingga hilir, lahan yang telah dicetak berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.
“Satuan Petani Elang Tiga Hambalang berharap program ini mampu memperkuat produksi pangan sekaligus membuka sumber penghasilan yang layak bagi masyarakat Papua. Percepatan diperlukan, tetapi kualitas pekerjaan, perlindungan lingkungan dan hak masyarakat tidak boleh dikorbankan.”
Kementerian Pertanian mengharapkan seluruh pihak yang terlibat segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan hambatan dan menyusun solusi yang terukur. Program cetak sawah tersebut diharapkan dapat diselesaikan secara efektif, produktif dan berkelanjutan.
Sumber fakta: ANTARA, 5 September 2026�





