Rob Ancam Pesisir Sulawesi Utara hingga 2 Oktober, Satuan Nelayan ETH: Jangan Tunggu Air Masuk Rumah dan Dermaga Baru Bertindak
Edisi Jumat, 18 September 2026 | Hambalang Fase bulan purnama 26 September berpotensi meningkatkan pasang maksimum. Nelayan, kapal di pelabuhan, akses dermaga hingga permukiman pesisir diminta meningkatkan kewaspadaan. HAMBALANG, 18 September 2026 β Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Edisi Jumat, 18 September 2026 | Hambalang Fase bulan purnama 26 September berpotensi meningkatkan pasang maksimum. Nelayan, kapal di pelabuhan, akses dermaga hingga permukiman pesisir diminta meningkatkan kewaspadaan.
HAMBALANG, 18 September 2026 β Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan adanya potensi banjir pesisir atau rob di sejumlah wilayah Sulawesi Utara pada periode 18 September hingga 2 Oktober 2026. BMKG menyebut fase bulan purnama pada 26 September 2026 berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum.
Peringatan tersebut harus menjadi perhatian serius bagi nelayan dan masyarakat yang hidup di garis pantai.
Rob bukan hanya persoalan air laut masuk ke jalan.
Bagi masyarakat nelayan, air pasang yang tinggi dapat mengganggu tambatan perahu, bongkar muat ikan, akses kendaraan ke pelabuhan, aktivitas pelelangan, penyimpanan alat tangkap hingga keselamatan permukiman pesisir.
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai langkah mitigasi harus dilakukan sebelum pasang maksimum terjadi.
Jangan tunggu kapal terbentur dermaga, ikan gagal dibongkar, jalan pelabuhan terendam atau rumah nelayan kemasukan air baru semua pihak bergerak.
TALAUD, SANGIHE HINGGA MANADO MASUK WILAYAH YANG PERLU WASPADA
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Bitung, Aqil Ihsan, menjelaskan berdasarkan pantauan water level dan prediksi pasang surut, potensi rob diperkirakan muncul di sejumlah kawasan pesisir Sulawesi Utara.
Pada 28β30 September 2026, wilayah yang disebut berpotensi terdampak meliputi pesisir:
Kabupaten Kepulauan Talaud, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow, dan Kabupaten Minahasa Selatan.
Sementara pada 29β30 September 2026, potensi rob juga disebut dapat terjadi di pesisir Manado Tua dan pesisir Manado.
Satuan Nelayan ETH meminta informasi seperti ini jangan berhenti pada pengumuman tingkat provinsi.
Peringatan harus sampai langsung kepada masyarakat di kampung nelayan.
GELOMBANG DIPERKIRAKAN 2β2,5 METER
BMKG juga menyampaikan ketinggian gelombang diperkirakan berada pada kisaran 2,0 hingga 2,5 meter dalam konteks peringatan tersebut.
Kondisi laut tentu dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca dan waktu.
Karena itu nelayan tidak cukup hanya melihat prakiraan sekali pada pagi hari kemudian menganggap kondisi akan sama hingga kapal pulang.
Informasi maritim terbaru harus terus dipantau.
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mengingatkan:
pasang tinggi di pantai dan gelombang di laut merupakan dua risiko berbeda yang sama-sama harus diperhitungkan.
Nelayan bisa saja berhasil kembali dari laut, tetapi kemudian menghadapi kesulitan ketika akan masuk pelabuhan atau menambatkan kapal akibat kondisi pasang.
ROB BISA MEMUTUS AKSES KE PELABUHAN
BMKG menjelaskan apabila pasang maksimum lebih tinggi dari garis pelabuhan dan air masuk ke jalan, kondisi tersebut dapat mengganggu akses kendaraan menuju pelabuhan.
Dampaknya bisa berantai.
Ikan terlambat diangkut.
Es dan bahan bakar terlambat masuk.
Truk pengangkut tidak dapat mencapai tempat bongkar.
Pedagang tertahan.
Aktivitas pelelangan melambat.
Pada hasil perikanan yang sangat bergantung pada waktu dan rantai dingin, keterlambatan beberapa jam saja dapat mempengaruhi mutu serta harga.
Rob pada akhirnya juga merupakan masalah ekonomi nelayan.
JANGAN HANYA SELAMATKAN RUMAH, SELAMATKAN JUGA PERAHU DAN ALAT TANGKAP
Ketika terjadi rob, fokus masyarakat sering tertuju pada rumah dan jalan.
Itu penting.
Tetapi bagi keluarga nelayan, kapal dan alat tangkap adalah modal untuk hidup.
Satuan Nelayan ETH mendorong pemerintah daerah, pengelola pelabuhan dan komunitas nelayan melakukan persiapan lebih awal terhadap:
posisi tambatan kapal, kekuatan tali, keamanan mesin, penyimpanan jaring, lokasi peralatan elektronik, gudang ikan serta fasilitas BBM dan listrik di sekitar dermaga.
Jangan sampai setelah air surut nelayan selamat, tetapi kapal atau alat produksinya rusak.
Kerugian semacam itu dapat menghentikan mata pencaharian selama berminggu-minggu.
DATA PASANG HARUS DITERJEMAHKAN MENJADI JAM AMAN BERAKTIVITAS
BMKG mengimbau masyarakat pesisir memperhatikan waktu pasang ketika beraktivitas sehingga intensitas kegiatan dapat dikurangi pada periode yang berisiko terganggu.
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai informasi pasang sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang mudah digunakan nelayan.
Bukan hanya tabel teknis.
Masyarakat membutuhkan informasi praktis:
jam berapa air mulai naik, kapan diperkirakan mencapai puncak, kawasan mana yang rentan, kapan kapal sebaiknya masuk atau keluar pelabuhan, dan jalur alternatif apa yang dapat digunakan.
Informasi harus bisa langsung dipakai mengambil keputusan.
ROB BUKAN CUMA URUSAN CUACA, TAPI URUSAN PENGHASILAN
Ketika aktivitas pelabuhan terganggu, masyarakat yang terkena dampak bukan hanya nelayan.
Ada buruh bongkar ikan.
Pedagang.
Pengangkut.
Pembuat es.
Pemilik warung.
Pengolah hasil laut.
Seluruh ekonomi kecil di sekitar pelabuhan dapat ikut terkena dampaknya.
Karena itu Satuan Nelayan ETH menilai mitigasi rob sebaiknya memperhitungkan kerugian ekonomi masyarakat pesisir, bukan hanya berapa sentimeter air menggenangi daratan.
PEMERINTAH DAERAH DIMINTA PETAKAN TITIK PALING RAWAN
Peringatan BMKG memberikan waktu untuk bersiap.
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong pemerintah daerah di wilayah yang berpotensi terdampak untuk segera memetakan:
dermaga rendah, permukiman nelayan, TPI, SPBN/SPDN, pabrik es, gudang ikan, jalan menuju pelabuhan serta lokasi tambatan kapal yang paling rentan.
Langkah sederhana sebelum kejadian dapat mengurangi kerugian besar setelah air datang.
Jika sudah diketahui satu jalan pelabuhan akan terendam saat pasang maksimum, jalur alternatif harus disiapkan sebelum kejadian.
Jika tambatan kapal diketahui rentan, kapal dapat dipindahkan lebih awal.
Mitigasi berarti bergerak sebelum bencana, bukan mendokumentasikan kerusakan sesudahnya.
SATUAN NELAYAN ETH: INFORMASI HARUS SAMPAI KE ORANG YANG TINGGAL DI TEPI LAUT
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong penyebaran informasi melalui:
kelompok nelayan, pemerintah desa, pelabuhan, syahbandar, radio komunikasi, grup WhatsApp masyarakat pesisir hingga pengeras suara desa bila diperlukan.
Jangan menganggap semua nelayan membaca portal berita atau membuka situs prakiraan cuaca setiap hari.
Peringatan yang baik bukan sekadar sudah diterbitkan.
Peringatan baru berhasil jika orang yang berisiko benar-benar menerimanya.
LAUT MEMBERI NAFKAH, TAPI RISIKONYA HARUS DIHADAPI DENGAN PERSIAPAN
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mengingatkan nelayan dan masyarakat pesisir Sulawesi Utara agar tidak panik, tetapi juga tidak mengabaikan peringatan BMKG.
Pantau pasang.
Amankan kapal.
Amankan alat tangkap.
Jaga komunikasi.
Perhatikan jalur keluar masuk pelabuhan.
Dan ikuti pembaruan resmi.
Jangan tunggu air sudah masuk ke dermaga baru bertanya harus melakukan apa.
Karena setiap kapal yang berhasil diamankan berarti satu sumber penghidupan keluarga nelayan tetap terjaga.
SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG
βKUAT BERSAMA, TANGGUH DI LAUTβ





