Sampah Nasional Masih Jadi Persoalan Serius, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang: Kampus Harus Menjadi Laboratorium Ekonomi Sirkular
Reza Prasatria Dharma: Mahasiswa Jangan Hanya Mengkritik Persoalan Sampah, tetapi Harus Mampu Menghasilkan Model Penyelesaian yang Bisa Diterapkan HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 3 September 2026 Persoalan sampah masih menjadi tantangan besar lingkungan Indonesia. Pemerintah menempatkan 2026 sebagai periode penting untuk...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Reza Prasatria Dharma: Mahasiswa Jangan Hanya Mengkritik Persoalan Sampah, tetapi Harus Mampu Menghasilkan Model Penyelesaian yang Bisa Diterapkan
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 3 September 2026
Persoalan sampah masih menjadi tantangan besar lingkungan Indonesia. Pemerintah menempatkan 2026 sebagai periode penting untuk mempercepat pembenahan pengelolaan sampah nasional, sementara kesenjangan antara jumlah sampah yang dihasilkan dan kemampuan pengelolaannya masih menjadi pekerjaan besar.
Dalam Rakornas Pengelolaan Sampah 2026, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyatakan bahwa hingga akhir 2025 baru sekitar 25 persen sampah nasional yang terkelola, sedangkan target pengelolaan sampah dalam RPJMN untuk 2026 mencapai 63,41 persen.
Bagi Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, kondisi tersebut bukan hanya persoalan pemerintah.
Perguruan tinggi dan jutaan mahasiswa Indonesia mempunyai ruang besar untuk menjadi bagian dari penyelesaiannya.
Dari Masalah Lingkungan Menjadi Masalah Generasi
Sampah berkaitan langsung dengan kualitas lingkungan tempat generasi muda akan hidup.
Persoalannya tidak berhenti pada tumpukan sampah yang terlihat.
Pengelolaan yang buruk dapat berkaitan dengan pencemaran air dan tanah, emisi, kesehatan lingkungan, banjir hingga kualitas kawasan permukiman.
Karena itu, persoalan sampah perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan jangka panjang.
Mahasiswa yang hari ini berada di perguruan tinggi akan menjadi insinyur, pengusaha, pejabat publik, peneliti, ahli hukum, ekonom dan pemimpin masyarakat pada masa mendatang.
Budaya pengelolaan lingkungan perlu dibangun sejak kampus.
Reza: Kampus Jangan Hanya Memindahkan Sampah
Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, mendorong perguruan tinggi menjadikan lingkungan kampus sebagai tempat pengujian solusi nyata.
“Kampus jangan merasa persoalan sampah selesai hanya karena sampah sudah diangkut keluar pagar. Pertanyaannya adalah ke mana sampah itu pergi, berapa yang dapat dikurangi, dipilah, digunakan kembali atau didaur ulang, dan berapa yang akhirnya tetap masuk ke tempat pembuangan.”
Menurut Reza, perguruan tinggi mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki banyak institusi lain: konsentrasi ilmu pengetahuan dan mahasiswa dari berbagai disiplin.
“Mahasiswa jangan hanya mengkritik persoalan sampah. Kampus harus menjadi laboratorium tempat mahasiswa membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat menghasilkan model pengelolaan sampah yang benar-benar bekerja.”
Pernyataan tersebut digunakan sebagai sikap editorial organisasi yang telah memperoleh persetujuan untuk publikasi dalam rangkaian pemberitaan Satuan Mahasiswa ETH.
Ekonomi Sirkular Membuka Peluang
Satuan Mahasiswa ETH menilai persoalan sampah juga perlu dilihat dari perspektif ekonomi.
Dalam pola ekonomi linear, barang diproduksi, digunakan, kemudian dibuang.
Ekonomi sirkular berupaya memperpanjang umur material melalui pengurangan penggunaan bahan, penggunaan kembali, perbaikan dan daur ulang.
Pendekatan tersebut dapat membuka ruang inovasi bagi generasi muda.
Sampah organik dapat dikembangkan menjadi kompos atau bahan bernilai guna.
Material tertentu dapat dipilah untuk masuk kembali ke rantai produksi.
Mahasiswa desain dapat mengembangkan produk dengan material lebih efisien.
Mahasiswa teknik dapat merancang teknologi pengolahan.
Mahasiswa ekonomi dapat membangun model bisnis.
Mahasiswa hukum dapat mengkaji regulasi dan tanggung jawab produsen.
Persoalan yang sama dapat menjadi ruang kolaborasi lintas jurusan.
Kampus Bisa Mengukur Sampahnya Sendiri
Sebagai analisis organisasi, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong perguruan tinggi memulai dari data.
Berapa ton sampah dihasilkan kampus setiap hari?
Apa komposisinya?
Berapa persen sampah makanan?
Berapa plastik sekali pakai?
Berapa yang didaur ulang?
Berapa yang akhirnya dibuang?
Tanpa data tersebut, program lingkungan berisiko berhenti sebagai slogan.
Kampus dapat melakukan audit sampah secara berkala dan mempublikasikan hasilnya kepada mahasiswa.
Dengan demikian, keberhasilan program dapat diukur dari perubahan nyata.
Reza: Jangan Jadikan Gerakan Lingkungan Sekadar Seremonial
Reza menilai kegiatan lingkungan mahasiswa tetap penting, tetapi perlu diarahkan pada keberlanjutan.
“Menanam pohon, membersihkan lingkungan dan kampanye pengurangan plastik adalah kegiatan yang baik. Tetapi jangan berhenti pada foto kegiatan. Kita perlu melihat enam bulan atau satu tahun kemudian: apakah pohonnya hidup, apakah sampah berkurang, dan apakah perilaku masyarakat kampus berubah.”
Menurut Satuan Mahasiswa ETH, pendekatan berbasis hasil akan membuat gerakan mahasiswa mempunyai dampak yang lebih kuat.
Bogor Punya Kepentingan Langsung
Bagi organisasi mahasiswa yang berbasis di Hambalang, Kabupaten Bogor, persoalan lingkungan mempunyai kedekatan geografis.
Kabupaten Bogor mempunyai kawasan permukiman, pusat ekonomi, daerah aliran sungai, kawasan wisata dan wilayah perdesaan yang saling berhubungan.
Sampah yang tidak tertangani pada satu lokasi dapat berdampak ke wilayah lain melalui aliran air dan aktivitas masyarakat.
Karena itu perguruan tinggi dan komunitas mahasiswa di Bogor mempunyai ruang untuk bekerja bersama pemerintah daerah, desa, masyarakat, sekolah, pelaku usaha dan komunitas lingkungan.
Lima Agenda Kampus Minim Sampah
Satuan Mahasiswa ETH mengusulkan lima agenda yang dapat diuji perguruan tinggi: audit sampah kampus secara berkala; pemilahan sampah dari sumber; pengurangan plastik sekali pakai; pengembangan penelitian dan bisnis mahasiswa berbasis ekonomi sirkular; serta publikasi data mengenai jumlah sampah dan hasil pengurangannya.
Kelima agenda tersebut merupakan analisis dan usulan Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, bukan program resmi KLH/BPLH.
Target akhirnya bukan sekadar menciptakan kampus yang terlihat bersih.
Targetnya adalah mengurangi sampah yang benar-benar harus dibuang.
Mahasiswa Bisa Membawa Model Kampus ke Masyarakat
Apabila sistem berhasil diterapkan di kampus, model tersebut dapat dibawa ke masyarakat melalui kegiatan pengabdian.
Mahasiswa dapat membantu sekolah melakukan pemilahan sampah.
Mendampingi desa membangun bank sampah.
Membantu UMKM mengurangi kemasan.
Mengembangkan aplikasi pencatatan sampah.
Atau membantu komunitas membangun model bisnis daur ulang.
Dengan demikian, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan penelitian mengenai lingkungan.
Kampus menghasilkan solusi yang dapat direplikasi.
Dari Hambalang untuk Indonesia
Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong mahasiswa Indonesia menempatkan persoalan lingkungan sebagai agenda lintas generasi.
Reza Prasatria Dharma menegaskan:
“Mahasiswa harus membuktikan bahwa gerakan lingkungan bukan hanya kritik dan slogan. Mulailah dari kampus sendiri: ukur sampahnya, kurangi, pilah, olah dan bangun inovasi. Kalau sebuah model berhasil di kampus, bawa model itu ke masyarakat.”
Menurut Satuan Mahasiswa ETH, Indonesia membutuhkan generasi muda yang bukan hanya sadar terhadap persoalan lingkungan.
Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menyelesaikannya.





