Surplus Dagang Juli Tinggal USD121,9 Juta, ETH Soroti Impor Melonjak 27,02 Persen
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang Dorong Produksi Nasional, Hilirisasi, dan Substitusi Impor Selektif agar Pengusaha Indonesia Merebut Pasar Dalam Negeri HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — 3 September 2026 — Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai perkembangan terbaru perdagangan luar...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang Dorong Produksi Nasional, Hilirisasi, dan Substitusi Impor Selektif agar Pengusaha Indonesia Merebut Pasar Dalam Negeri
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — 3 September 2026 — Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai perkembangan terbaru perdagangan luar negeri Indonesia harus menjadi momentum untuk memperkuat kemampuan produksi perusahaan nasional, memperdalam rantai pasok domestik, dan membuka peluang baru bagi UMKM serta industri nasional.
Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 mencapai USD26,22 miliar, sedangkan nilai impor mencapai USD26,09 miliar. Neraca perdagangan dengan demikian masih mencatat surplus sekitar USD121,9 juta. Dibandingkan Juli 2025, ekspor tumbuh 6,05 persen, sementara impor meningkat jauh lebih tinggi, yakni 27,02 persen.
Secara kumulatif Januari–Juli 2026, ekspor Indonesia mencapai USD167,03 miliar dan impor USD163,33 miliar sehingga surplus perdagangan tercatat USD3,70 miliar.
Nonmigas Masih Menahan Neraca Perdagangan
Kementerian Perdagangan menyebut surplus Juli terutama ditopang perdagangan nonmigas sebesar USD3,10 miliar, yang mampu mengimbangi defisit migas sebesar USD2,98 miliar.
Sepanjang Januari–Juli 2026, surplus perdagangan nonmigas mencapai USD22,45 miliar, sementara perdagangan migas mengalami defisit USD18,75 miliar.
Sektor industri pengolahan menjadi penopang utama ekspor nasional. Pada Januari–Juli 2026, ekspor industri pengolahan tumbuh 7,16 persen, dengan kontribusi mencapai 82,18 persen dari total ekspor Indonesia.
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai data tersebut memperlihatkan pentingnya memperbesar kapasitas industri bernilai tambah di dalam negeri.
Impor Naik, Tetapi Harus Dibaca Secara Proporsional
ETH mengingatkan kenaikan impor tidak tepat apabila seluruhnya langsung dipandang sebagai ancaman terhadap pengusaha nasional.
Kemendag mencatat selama Januari–Juli 2026, sekitar 71,45 persen impor Indonesia merupakan bahan baku dan penolong, sedangkan 19,88 persen berupa barang modal. Kedua kelompok tersebut secara bersama-sama mencapai 91,33 persen dari total impor.
Artinya, sebagian besar barang yang masuk ke Indonesia juga digunakan untuk menopang kegiatan produksi dan investasi.
Namun kondisi tersebut sekaligus menunjukkan peluang besar bagi pengusaha nasional.
Barang, komponen, material pendukung, kemasan, mesin tertentu maupun produk antara yang saat ini masih diimpor tetapi secara teknis dan ekonomis memungkinkan diproduksi di Indonesia dapat dikembangkan menjadi pasar baru bagi perusahaan nasional.
ETH Dorong Peta Substitusi Impor Nasional
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong penyusunan Peta Peluang Substitusi Impor Pengusaha Indonesia.
Pendekatannya bukan dengan menutup impor secara menyeluruh, tetapi dengan mengidentifikasi barang yang:
- kebutuhannya tinggi dan berulang;
- sudah memiliki potensi produsen Indonesia;
- dapat diproduksi dengan kualitas yang memenuhi standar industri;
- ekonomis jika diproduksi di dalam negeri;
- dan memiliki potensi menciptakan lapangan pekerjaan serta investasi baru.
Setelah kebutuhan tersebut dipetakan, produsen lokal dapat dipertemukan dengan perusahaan pengguna melalui mekanisme business matching dan pengembangan vendor nasional.
Skemanya dapat dibangun:
DATA IMPOR → KEBUTUHAN INDUSTRI → PRODUSEN NASIONAL → PENINGKATAN KAPASITAS → BUSINESS MATCHING → KONTRAK PEMASOK.
ETH: Jadikan Data Impor Sebagai Peta Peluang Usaha
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menyatakan:
“Pertumbuhan perdagangan harus memperkuat kapasitas pengusaha Indonesia. Barang yang mampu kita produksi secara kompetitif di dalam negeri perlu menjadi peluang investasi, kemitraan dan penciptaan pasar bagi industri nasional. Namun kebutuhan impor untuk bahan baku dan barang modal tetap harus dilihat secara proporsional agar kegiatan produksi tidak terganggu.”
ETH berpandangan organisasi pengusaha dapat mengambil peran nyata dengan membangun database produsen berdasarkan kemampuan produksi, wilayah, kapasitas, sertifikasi dan jenis barang yang dapat dipasok.
Database tersebut dapat digunakan untuk mempertemukan UMKM dan perusahaan daerah dengan industri besar yang masih bergantung pada pemasok luar negeri.
Ekspor Juga Harus Terus Naik Nilai Tambah
Penguatan produksi domestik perlu berjalan bersama strategi meningkatkan nilai tambah ekspor.
Kemendag mencatat sejumlah kelompok produk industri mengalami pertumbuhan ekspor kuat sepanjang Januari–Juli 2026. Aluminium dan barang daripadanya meningkat 85,78 persen, nikel dan barang daripadanya 49,84 persen, serta tembaga dan barang daripadanya tumbuh 36,14 persen.
ETH menilai tren tersebut perlu dikembangkan hingga semakin banyak perusahaan Indonesia masuk ke tahapan produksi dengan nilai tambah lebih tinggi.
Bukan hanya menjual bahan dasar, tetapi memperbesar industri pengolahan, komponen, produk jadi, merek nasional dan jaringan distribusi internasional.
Dari Hambalang, ETH Dorong Pengusaha Merebut Peluang Pasar Nasional
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai angka ekspor dan impor tidak cukup hanya dibaca sebagai statistik surplus dan defisit.
Yang lebih penting adalah menemukan peluang bisnis di balik setiap data perdagangan.
Ketika suatu kebutuhan masih banyak dipenuhi melalui impor, perlu diperiksa apakah pengusaha Indonesia mampu menjadi pemasoknya. Ketika suatu produk ekspor menunjukkan pertumbuhan kuat, pengusaha perlu dibantu masuk ke rantai nilai dan pasar tersebut.
ETH menegaskan:
“Impor yang dapat diproduksi secara kompetitif di Indonesia harus menjadi peluang usaha bagi pengusaha nasional, sedangkan ekspor yang sudah kuat harus terus ditingkatkan nilai tambahnya.”
Dengan langkah tersebut, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang ingin mengambil peran sebagai penghubung antara data perdagangan, pengusaha, industri, pembiayaan, investasi dan pasar, sehingga kebijakan ekonomi nasional memberikan peluang konkret bagi dunia usaha Indonesia.





