TNI AU dan Prancis Perkuat Latihan Rafale–A400M, Safrizal: Kerja Sama Pertahanan Harus Menghasilkan Kemampuan Nyata bagi Indonesia
Hambalang, Kabupaten Bogor — 25 September 2026. Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (DPN ETH) menyoroti penguatan kerja sama pertahanan Indonesia–Prancis setelah TNI Angkatan Udara dan French Air and Space Force melaksanakan Latihan Bersama PEGASE 2026 di Lanud Halim Perdanakusuma,...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang, Kabupaten Bogor — 25 September 2026. Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (DPN ETH) menyoroti penguatan kerja sama pertahanan Indonesia–Prancis setelah TNI Angkatan Udara dan French Air and Space Force melaksanakan Latihan Bersama PEGASE 2026 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Latihan tersebut berlangsung dalam rangkaian Misi PEGASE yang singgah di Indonesia pada 20–25 September 2026, sekaligus menjadi persiapan penguatan interoperabilitas kedua negara.
Perkembangan ini berlanjut dengan rencana keterlibatan TNI dalam Latihan Bersama Garuda Guerrier di Prancis pada November 2026. Kementerian Pertahanan juga menyatakan kerja sama kedua negara mencakup pertukaran perwira, pendidikan dan latihan, industri pertahanan, serta pengadaan dan pengembangan alat utama sistem persenjataan.
Rafale Indonesia dan Prancis Latihan Bersama
Dalam PEGASE 2026, Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Angkatan Bersenjata dan Veteran Prancis Catherine Vautrin pada 24 September meninjau rangkaian latihan yang meliputi penerjunan statik pasukan Korpasgat menggunakan A400M, flypast Rafale kedua negara serta formasi pengisian bahan bakar udara menggunakan A330 MRTT. Kemhan menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari peningkatan interoperabilitas TNI AU dan Angkatan Udara Prancis.
Angkatan Udara Prancis membawa empat Rafale, dua A400M dan tiga A330 MRTT dalam persinggahan PEGASE 2026. Indonesia sendiri telah menerima tiga Rafale pertama pada Januari 2026 dan telah mengoperasikan A400M
Kementerian Pertahanan juga menyebut latihan mencakup pertukaran keahlian antarpenerbang dan teknisi, latihan air-to-air refueling, penerjunan taktis serta manuver pengawalan udara.
Safrizal: Ukur dari Kemampuan yang Dibawa Pulang
Safrizal, Ketua Umum DPN Elang Tiga Hambalang, menilai latihan militer internasional seharusnya dinilai dari peningkatan kemampuan yang diperoleh personel dan institusi pertahanan Indonesia.
“Kerja sama pertahanan jangan hanya dilihat dari banyaknya latihan atau seremoni. Ukurannya harus konkret: kemampuan apa yang meningkat, pengetahuan apa yang diperoleh prajurit kita, bagaimana teknologi dipahami, dan sejauh mana pengalaman tersebut memperkuat kesiapan pertahanan Indonesia.”
Menurut Safrizal, pengoperasian sistem seperti Rafale dan A400M membuat kualitas pendidikan awak, teknisi, sistem pemeliharaan dan kesiapan logistik menjadi sama pentingnya dengan kepemilikan platform itu sendiri.
“Alutsista modern tidak berdiri sendiri. Di belakangnya ada pilot, teknisi, sistem logistik, suku cadang, doktrin operasi dan kemampuan pemeliharaan. Semua itu harus tumbuh bersama.”
Pernyataan tersebut merupakan sikap DPN Elang Tiga Hambalang mengenai pengukuran manfaat kerja sama pertahanan, sedangkan fakta kegiatan latihan mengacu pada Kementerian Pertahanan dan laporan ANTARA.
Ganda Satria Dharma: Setiap Latihan Harus Punya Evaluasi Pascakegiatan
Secara terpisah, Ganda Satria Dharma, Sekretaris Jenderal DPN Elang Tiga Hambalang, mempertegas pernyataan Safrizal dengan menekankan pentingnya evaluasi setelah latihan bersama.
“Secara operasional, setelah PEGASE ataupun Garuda Guerrier selesai, perlu diketahui kompetensi apa yang meningkat, berapa personel yang memperoleh pengalaman baru, bagaimana hasil latihan diterjemahkan ke doktrin dan prosedur TNI, serta bagaimana pengetahuan itu ditransfer ke satuan lain.”
Menurut Ganda, kemampuan mengoperasikan pesawat tempur generasi baru tidak cukup apabila hanya terkonsentrasi pada kelompok personel terbatas.
“Pengetahuan yang diperoleh harus menjadi kemampuan institusi. Kalau seorang penerbang atau teknisi mendapat pengalaman baru, harus ada mekanisme agar pengalaman itu menjadi standar pembelajaran bagi personel lainnya.”
Garuda Guerrier Dijadwalkan November 2026
Kementerian Pertahanan menyatakan rencana Garuda Guerrier di Prancis pada November 2026 menjadi bagian dari penguatan kerja sama pertahanan kedua negara. Pertemuan Sjafrie dan Vautrin pada 23 September juga merupakan pelaksanaan pertama Dialog Tingkat Menteri Pertahanan Tahunan Indonesia–Prancis.
Kerja sama tersebut berlangsung bersamaan dengan perkembangan industri pertahanan. Kemhan menyebut Indonesia telah menerima Rafale pertama dan pembangunan kapal selam Scorpène pertama oleh PT PAL bekerja sama dengan Naval Group telah dimulai di Surabaya.
Ganda Satria Dharma mengatakan bahwa hubungan antara latihan, pengadaan alutsista dan industri pertahanan perlu dilihat sebagai satu ekosistem.
“Kalau Indonesia membeli dan mengoperasikan sistem modern, pertanyaan berikutnya adalah seberapa besar kemampuan nasional untuk merawat, memperbaiki, melatih personel dan mendukung operasinya dalam jangka panjang.”
Transfer Teknologi Perlu Dibedakan dari Sekadar Pengadaan
Kemhan menyatakan kerja sama Indonesia–Prancis juga diarahkan pada penguatan industri pertahanan, transfer teknologi, pendidikan, pelatihan dan kerja sama operasional.
DPN ETH menilai istilah transfer teknologi perlu mempunyai ukuran yang jelas.
Safrizal menyatakan:
“Transfer teknologi harus terlihat hasilnya. Apakah tenaga Indonesia semakin menguasai desain, pemeliharaan, produksi komponen, integrasi sistem atau kemampuan lain yang sebelumnya belum dimiliki. Itulah yang dapat dievaluasi masyarakat.”
DPN ETH menilai kepastian mengenai tingkat penguasaan teknologi penting karena sistem pertahanan membutuhkan dukungan jangka panjang selama puluhan tahun.
Kesiapan Logistik Sama Penting dengan Jumlah Alutsista
Menurut DPN ETH, satu pelajaran penting dari latihan bersama adalah kebutuhan melihat pertahanan secara menyeluruh.
Ganda mengatakan:
“Pesawat bisa sangat modern, tetapi kesiapan operasional bergantung pada ketersediaan suku cadang, teknisi, amunisi, fasilitas pemeliharaan, jam terbang dan rantai pasok. Karena itu indikator kesiapan tidak seharusnya hanya menghitung berapa unit yang dimiliki.”
Latihan pengisian bahan bakar di udara dalam PEGASE memperlihatkan salah satu bentuk kemampuan pendukung operasi udara jarak jauh. Dalam latihan tersebut Rafale Indonesia dan Prancis berlatih bersama A330 MRTT Prancis.
Safrizal: Kemandirian Tidak Berarti Menutup Kerja Sama
Safrizal menilai kerja sama internasional dan penguatan kemampuan domestik dapat berjalan bersamaan.
“Kemandirian pertahanan bukan berarti Indonesia harus bekerja sendirian. Kerja sama dengan negara mitra dapat mempercepat pembelajaran. Yang penting, semakin lama bekerja sama, kemampuan Indonesia juga semakin meningkat.”
Menurutnya, ukuran jangka panjang adalah kemampuan Indonesia menjalankan operasi, pendidikan, pemeliharaan dan pengembangan sistem dengan ketergantungan yang semakin terkelola.
DPN ETH Soroti Transparansi Manfaat Kerja Sama Pertahanan
DPN ETH memandang sebagian informasi pertahanan memang mempunyai batas keterbukaan karena alasan keamanan. Namun manfaat kebijakan yang tidak bersifat rahasia tetap dapat dijelaskan kepada masyarakat.
Ganda Satria Dharma mengatakan:
“Publik tidak membutuhkan rincian operasional yang bersifat rahasia. Tetapi informasi mengenai tujuan latihan, peningkatan kompetensi, pendidikan personel, kerja sama industri dan manfaat bagi kemampuan nasional dapat dijelaskan secara terbuka.”
Pendekatan tersebut menurut DPN ETH penting karena pengadaan alutsista dan pembangunan kekuatan pertahanan menggunakan sumber daya negara.
Enam Indikator yang Dapat Dievaluasi
DPN ETH menilai perkembangan kerja sama pertahanan dapat diamati melalui enam aspek: peningkatan kompetensi personel; interoperabilitas antarsatuan; kemampuan pemeliharaan alutsista; transfer teknologi dan kapasitas industri nasional; keberlanjutan logistik; serta penyebaran pengetahuan hasil latihan kepada satuan TNI lainnya.
Ganda Satria Dharma menegaskan:
“Kalau indikator itu bergerak maju, masyarakat dapat melihat bahwa latihan internasional mempunyai dampak kelembagaan, bukan hanya menghasilkan foto bersama dan demonstrasi alutsista.”
Safrizal menutup:
“Indonesia membutuhkan pertahanan yang kuat, profesional dan mampu mengikuti perkembangan teknologi. Setiap kerja sama harus memperbesar kemampuan nasional sehingga pada akhirnya Indonesia semakin mampu menjaga kepentingan dan kedaulatannya dengan kapasitas sendiri.”





