193 Seniman dari 24 Negara Berkumpul di Yogyakarta, ETH Dorong Seni Pertunjukan Indonesia Menembus Panggung Dunia
Pesta Boneka #10 mempertemukan seniman lintas negara melalui teater boneka, pertukaran pengetahuan dan kolaborasi. Satuan Pecinta Seni dan Olahraga ETH mengusulkan residensi internasional, perlindungan pekerja seni dan regenerasi seniman muda diperkuat. Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — Jumat, 9 Oktober...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Pesta Boneka #10 mempertemukan seniman lintas negara melalui teater boneka, pertukaran pengetahuan dan kolaborasi. Satuan Pecinta Seni dan Olahraga ETH mengusulkan residensi internasional, perlindungan pekerja seni dan regenerasi seniman muda diperkuat.
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — Jumat, 9 Oktober 2026 (WIB).
Indonesia kembali menjadi ruang pertemuan seni pertunjukan internasional. Pesta Boneka #10 yang berlangsung pada 6–11 Oktober 2026 di kawasan Ruang Pana, Komplek Kampoeng Media, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menghadirkan 193 seniman yang tergabung dalam 33 kelompok dari 24 negara. Pada Kamis, 8 Oktober, sejumlah seniman internasional tampil dalam rangkaian festival yang didokumentasikan ANTARA dan dipublikasikan Jumat pagi.
Festival yang diinisiasi Papermoon Puppet Theatre tersebut mengusung tema “Holding Hands”. Situs resmi penyelenggara mencatat bahwa Pesta Boneka menerima 106 proposal dari seniman di 36 negara sebelum proses kurasi menetapkan peserta tahun ini. Penyelenggara memosisikan festival bukan hanya sebagai tempat pertunjukan, tetapi sebagai ruang perjumpaan, pertukaran cerita, pengetahuan dan pengalaman antarseniman serta penonton.
Bagi Satuan Pecinta Seni dan Olahraga Elang Tiga Hambalang, skala internasional kegiatan tersebut menunjukkan bahwa seni pertunjukan Indonesia mempunyai peluang besar menjadi bagian dari jaringan budaya dunia.
Teater boneka sendiri menyatukan banyak disiplin: seni rupa, kriya, sastra, musik, akting, desain panggung, pencahayaan hingga teknologi produksi. Karena itu, perkembangan satu festival dapat memberi dampak kepada banyak profesi di sektor seni.
ETH: Jangan Berhenti pada Festival
Satuan Pecinta Seni dan Olahraga ETH berpandangan festival internasional harus menghasilkan warisan jangka panjang bagi seniman Indonesia, terutama generasi muda.
Organisasi mengusulkan empat langkah konkret.
Pertama, membangun Program Residensi Seni Pertunjukan ASEAN dan Internasional. Seniman Indonesia dapat bekerja bersama seniman asing selama satu hingga tiga bulan untuk menghasilkan karya baru. Indikatornya adalah jumlah produksi kolaboratif dan pertunjukan lanjutan.
Kedua, memperluas akses seniman daerah. Kementerian Kebudayaan dan pemerintah daerah dapat menyediakan seleksi terbuka serta dukungan perjalanan bagi kelompok seni dari luar kota besar agar mereka memperoleh kesempatan yang sama memasuki festival nasional maupun internasional.
Ketiga, memperkuat perlindungan pekerja seni. Kontrak, honorarium, keselamatan kerja, transportasi, akomodasi dan perlindungan hak cipta harus menjadi bagian standar penyelenggaraan festival.
Keempat, membangun program regenerasi. Festival dapat menyelenggarakan kelas untuk pelajar, mahasiswa dan komunitas muda bersama seniman peserta sehingga transfer pengetahuan berlangsung langsung.
Selain pertunjukan, Pesta Boneka #10 juga menghadirkan lokakarya, diskusi, film dan program pendukung lain yang memperkuat fungsi festival sebagai ruang belajar bersama.
Seni Indonesia Harus Menjadi Bagian dari Percakapan Dunia
Satuan Pecinta Seni dan Olahraga Elang Tiga Hambalang menilai keberhasilan festival tidak cukup dinilai dari jumlah negara peserta.
Yang lebih penting adalah berapa banyak seniman Indonesia memperoleh jejaring baru, kontrak kerja, kesempatan tur, peningkatan keterampilan dan kemampuan menghasilkan karya setelah festival berakhir.
Seni pertunjukan Indonesia memiliki kekayaan cerita, tradisi dan kreativitas yang sangat besar. Ketika seniman memperoleh kesempatan bertemu dunia, budaya Indonesia tidak hanya dipertontonkan—tetapi ikut membentuk percakapan kebudayaan global.





