EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terkini, Daerah, Global

indonesia–Tiongkok Perkuat Kerja Sama Strategis, ETH: Investasi Penting, Tapi Kedaulatan Dan Kepentingan Nasional Harga Mati

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

H. Safrizal: Indonesia Harus Bersahabat dengan Semua Negara, Tetapi Tidak Boleh Mengorbankan Kepentingan Bangsa Elangtigaglobalnews.com || JAKARTA — Pertemuan strategis antara Indonesia dan Tiongkok di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026, mendapat perhatian dari Dewan Pimpinan Nasional Perkumpulan Elang Tiga Hambalang...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

H. Safrizal: Indonesia Harus Bersahabat dengan Semua Negara, Tetapi Tidak Boleh Mengorbankan Kepentingan Bangsa

Elangtigaglobalnews.com || JAKARTA — Pertemuan strategis antara Indonesia dan Tiongkok di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026, mendapat perhatian dari Dewan Pimpinan Nasional Perkumpulan Elang Tiga Hambalang (ETH).

banner 468x60

Indonesia dan Tiongkok menggelar Dialog Strategis Komprehensif (Comprehensive Strategic Dialogue/CSD) pertama sekaligus melanjutkan mekanisme dialog Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan atau 2+2.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu forum strategis dalam hubungan kedua negara karena menyentuh berbagai kepentingan, mulai dari politik, pertahanan, keamanan, ekonomi hingga perkembangan kawasan.

Ketua Umum Perkumpulan Elang Tiga Hambalang H. Safrizal menyatakan ETH mendukung kebijakan luar negeri Indonesia yang membangun hubungan baik dengan berbagai negara.

Namun, menurutnya, setiap bentuk kerja sama internasional harus menempatkan kedaulatan, kepentingan nasional dan kesejahteraan rakyat Indonesia sebagai prioritas utama.

«“Indonesia harus bersahabat dengan semua negara. Kita membutuhkan investasi, perdagangan, teknologi dan kerja sama pertahanan. Tetapi ada satu prinsip yang tidak boleh ditawar: kedaulatan dan kepentingan nasional Indonesia harus menjadi yang utama,” tegas H. Safrizal.»

PERTEMUAN STRATEGIS INDONESIA–TIONGKOK

Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi memimpin Dialog Strategis Komprehensif Indonesia–Tiongkok.

Wang Yi melakukan kunjungan ke Indonesia pada 20–22 Agustus 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Indonesia dan Tiongkok juga menggelar pertemuan kedua mekanisme dialog 2+2 Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan.

Forum tersebut diarahkan untuk membahas penguatan kerja sama politik, pertahanan dan keamanan pada tingkat bilateral, regional maupun global.

Bagi ETH, tingginya level pertemuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Tiongkok telah berkembang melampaui hubungan perdagangan biasa dan memasuki wilayah strategis.

H. SAFRIZAL: INVESTASI HARUS MEMBERIKAN MANFAAT NYATA KEPADA RAKYAT

H. Safrizal menilai hubungan ekonomi dengan Tiongkok memberikan peluang besar bagi pembangunan Indonesia.

Namun, ETH mengingatkan agar investasi asing tidak hanya dihitung berdasarkan besarnya nilai modal yang masuk.

Pemerintah juga harus menghitung seberapa besar manfaat yang diterima masyarakat Indonesia melalui penciptaan lapangan pekerjaan, transfer teknologi, peningkatan kemampuan industri nasional, penerimaan negara dan berkembangnya pelaku usaha lokal.

«“Jangan hanya bangga karena investasi masuk sekian triliun. Pertanyaannya adalah berapa tenaga kerja Indonesia yang terserap? Berapa teknologi yang kita kuasai? Berapa UMKM dan pengusaha nasional yang ikut tumbuh? Dan berapa besar manfaat akhirnya kembali kepada rakyat?” ujar Safrizal.»

ETH berpandangan investasi asing harus menjadi instrumen untuk memperkuat ekonomi nasional, bukan menciptakan ketergantungan jangka panjang.

GANDA SATRIA DHARMA: KERJA SAMA PERTAHANAN HARUS TRANSPARAN DAN TERUKUR

Sekretaris Jenderal Perkumpulan Elang Tiga Hambalang Ganda Satria Dharma memberikan perhatian khusus terhadap pembahasan kerja sama pertahanan dan keamanan antara kedua negara.

Menurut Ganda, kerja sama pertahanan dengan negara lain merupakan hal yang wajar dalam hubungan internasional.

Namun, kerja sama tersebut harus dibangun berdasarkan prinsip kesetaraan, kepentingan nasional dan peningkatan kemampuan pertahanan Indonesia.

«“Kerja sama pertahanan harus menghasilkan peningkatan kemampuan Indonesia. Kalau ada pengadaan alutsista, kita harus mendorong transfer teknologi, peningkatan kemampuan industri pertahanan nasional serta penguatan sumber daya manusia Indonesia,” ujar Ganda Satria Dharma.»

Menurutnya, Indonesia tidak boleh sekadar menjadi pasar produk pertahanan negara lain.

Indonesia harus mempunyai target jangka panjang untuk memperkuat kemampuan produksi dan penguasaan teknologi pertahanan sendiri.

ETH SOROTI LAUT CHINA SELATAN DAN NATUNA

ETH juga memberikan perhatian terhadap perkembangan keamanan kawasan Laut China Selatan, mengingat kawasan tersebut bersinggungan dengan kepentingan strategis Indonesia di sekitar Laut Natuna Utara.

Indonesia selama ini tidak mengakui klaim sepihak Tiongkok yang bertentangan dengan hak Indonesia berdasarkan hukum laut internasional.

Karena itu, H. Safrizal meminta pemerintah tetap konsisten mempertahankan hak berdaulat Indonesia.

«“Hubungan ekonomi dengan negara mana pun jangan sampai membuat Indonesia ragu mempertahankan wilayah dan hak berdaulatnya. Persahabatan adalah persahabatan, investasi adalah investasi, tetapi kedaulatan negara adalah harga mati,” kata Safrizal.»

ETH mendukung penyelesaian persoalan kawasan melalui diplomasi dan mekanisme hukum internasional serta menghindari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan.

Namun, diplomasi tersebut menurut ETH harus didukung oleh kekuatan pertahanan nasional yang memadai.

GANDA: INDONESIA JANGAN TERJEBAK PERSAINGAN AMERIKA–TIONGKOK

Ganda Satria Dharma juga mengingatkan bahwa hubungan Indonesia dengan Tiongkok berlangsung ketika persaingan geopolitik antara Tiongkok dan Amerika Serikat semakin kuat di kawasan Indo-Pasifik.

Indonesia, menurutnya, harus berhati-hati agar tidak terseret menjadi bagian dari persaingan kekuatan besar.

«“Indonesia bukan satelit Amerika Serikat dan bukan pula satelit Tiongkok. Indonesia adalah negara berdaulat yang mempunyai kepentingan nasional sendiri,” tegas Ganda.»

Menurutnya, prinsip politik luar negeri bebas dan aktif harus tetap menjadi landasan.

Indonesia dapat bekerja sama dengan Tiongkok dalam investasi dan perdagangan, dengan Amerika Serikat dalam bidang strategis tertentu, dengan Jepang, Korea Selatan, Uni Eropa, negara-negara ASEAN maupun mitra lainnya tanpa kehilangan independensi kebijakan luar negeri.

ETH MINTA INVESTASI ASING DIAWASI

Selain persoalan pertahanan, ETH meminta pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan investasi asing di Indonesia.

Pengawasan tersebut antara lain harus mencakup kepatuhan terhadap peraturan ketenagakerjaan, lingkungan hidup, perpajakan, penggunaan tenaga kerja, keselamatan kerja serta kewajiban perusahaan terhadap masyarakat sekitar.

H. Safrizal menegaskan bahwa ETH tidak menolak investasi asing.

Yang harus dijaga adalah agar investasi tersebut benar-benar memberikan keuntungan yang adil kepada Indonesia.

«“Silakan investor datang. Indonesia membutuhkan investasi. Tetapi mereka harus menghormati hukum Indonesia, pekerja Indonesia, lingkungan Indonesia dan masyarakat Indonesia,” ujar Safrizal.»

ETH DORONG TRANSFER TEKNOLOGI

ETH juga mendorong pemerintah menjadikan transfer teknologi sebagai salah satu sasaran utama dalam kerja sama ekonomi dan pertahanan dengan Tiongkok maupun negara lainnya.

Menurut Ganda Satria Dharma, Indonesia memiliki jumlah penduduk besar dan sumber daya alam melimpah sehingga tidak seharusnya selamanya hanya menjadi pemasok bahan mentah atau pasar produk asing.

«“Kita harus belajar teknologinya, membangun industrinya dan mempersiapkan sumber daya manusianya. Target akhirnya adalah Indonesia mampu memproduksi sendiri,” kata Ganda.»

H. SAFRIZAL: PRABOWO HARUS TETAP TEGUH MEMBAWA INDONESIA BERDIRI DI ATAS KAKI SENDIRI

Ketua Umum ETH H. Safrizal berharap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tetap konsisten menjalankan diplomasi yang menempatkan Indonesia sebagai negara besar dan berdaulat.

Menurut Safrizal, Indonesia memiliki posisi strategis karena berada di jalur perdagangan dunia, mempunyai kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk besar serta posisi geografis penting di kawasan Indo-Pasifik.

Posisi tersebut harus digunakan untuk memperoleh kerja sama internasional yang saling menguntungkan.

«“Presiden Prabowo harus tetap teguh membawa Indonesia berdiri di atas kaki sendiri. Kita bersahabat dengan Tiongkok, Amerika, Rusia, Jepang dan semua negara. Tetapi keputusan mengenai masa depan Indonesia harus ditentukan oleh bangsa Indonesia sendiri,” tegas Safrizal.»

ETH: KEPENTINGAN RAKYAT HARUS MENJADI UKURAN

Elang Tiga Hambalang menilai keberhasilan diplomasi internasional pada akhirnya tidak hanya dapat diukur dari jumlah pertemuan tingkat tinggi ataupun besarnya investasi yang diumumkan.

Keberhasilan harus dapat dirasakan masyarakat melalui pembukaan lapangan pekerjaan, peningkatan kesejahteraan, kemajuan teknologi, penguatan industri nasional dan terjaganya kedaulatan negara.

Sekretaris Jenderal ETH Ganda Satria Dharma mengatakan organisasi masyarakat memiliki peran untuk ikut mengawasi implementasi kerja sama internasional yang berdampak terhadap kepentingan publik.

«“Setiap perjanjian strategis yang menyangkut kepentingan rakyat harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi Indonesia. Kita mendukung diplomasi pemerintah, sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial agar kepentingan nasional tetap menjadi prioritas,” ujar Ganda.»

Menutup pernyataannya, Ketua Umum ETH H. Safrizal menegaskan bahwa Elang Tiga Hambalang mendukung hubungan Indonesia–Tiongkok yang sehat, setara dan saling menguntungkan.

«“Tiongkok adalah mitra penting Indonesia. Kita ingin hubungan kedua negara semakin baik. Tetapi hubungan yang kuat harus dibangun berdasarkan kesetaraan dan saling menghormati. Investasi boleh masuk, kerja sama pertahanan boleh diperkuat, tetapi kedaulatan NKRI dan kepentingan rakyat Indonesia tidak boleh ditawar,” pungkas H. Safrizal.»

Dewan Pimpinan Nasional
PERKUMPULAN ELANG TIGA HAMBALANG

Pawarta Ganda Satria Dharma

banner 336x280