Gelombang Tinggi Masih Mengancam, Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang: Informasi Cuaca Harus Sampai Sebelum Nelayan Berangkat
Selasa, 1 September 2026Lokasi Terbit: Hambalang, Kabupaten Bogor BMKG dan Bakamla perkuat sistem keselamatan maritim; Satuan Nelayan ETH mendorong peringatan dini yang sederhana, cepat, dan menjangkau hingga kampung nelayan HAMBALANG, BOGOR — Keselamatan nelayan kembali menjadi perhatian nasional setelah Badan...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Selasa, 1 September 2026
Lokasi Terbit: Hambalang, Kabupaten Bogor
BMKG dan Bakamla perkuat sistem keselamatan maritim; Satuan Nelayan ETH mendorong peringatan dini yang sederhana, cepat, dan menjangkau hingga kampung nelayan
HAMBALANG, BOGOR — Keselamatan nelayan kembali menjadi perhatian nasional setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat kolaborasi dengan Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan di wilayah perairan Indonesia.
BMKG pada 1 September 2026 mengumumkan penguatan kerja sama dengan Bakamla melalui pertukaran data dan informasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan sarana dan prasarana. Salah satu arah pengembangannya adalah mengintegrasikan data kondisi cuaca dan laut BMKG dengan data Automatic Identification System (AIS) milik Bakamla.
Integrasi tersebut mempunyai arti penting bagi nelayan karena memungkinkan informasi kondisi laut semakin dikaitkan dengan keberadaan kapal yang sedang beroperasi.
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menyambut penguatan sistem tersebut dengan mendorong agar manfaat teknologi tidak berhenti pada pusat data dan institusi pemerintah.
“Teknologi keselamatan maritim akan benar-benar bermanfaat apabila informasi yang dihasilkan sampai kepada nelayan sebelum kapal meninggalkan pantai. Nelayan membutuhkan informasi yang cepat, sederhana dan dapat dipercaya untuk memutuskan apakah aman berangkat melaut atau harus menunda perjalanan,” demikian pernyataan Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang.
Gelombang tinggi masih terpantau
Kebutuhan terhadap informasi tersebut semakin penting karena BMKG masih mendeteksi gelombang tinggi di sejumlah perairan.
Untuk Perairan Garut, prakiraan BMKG yang berlaku 1–4 September menunjukkan gelombang sekitar 2,7 meter pada awal periode dan terdapat potensi mencapai 3,3 meter. BMKG meminta pengguna perairan berhati-hati serta mengikuti arahan otoritas setempat.
Di Perairan Malang, prakiraan pada 1 September menunjukkan gelombang dapat berada pada kisaran sekitar 2,4–2,6 meter pada sejumlah jam pengamatan, dengan hembusan angin yang juga perlu diperhatikan pengguna laut.
Sementara di Perairan Pesisir Selatan, BMKG mencatat gelombang sekitar 2,7 meter pada awal periode dengan potensi mencapai 2,9 meter.
Kondisi tersebut berbeda-beda menurut wilayah dan waktu. Karena itu, nelayan perlu memeriksa prakiraan terbaru untuk daerah tangkap masing-masing sebelum berangkat.
Jangan sampai nelayan mengetahui bahaya setelah berada di tengah laut
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai tantangan berikutnya adalah memastikan sistem peringatan dini benar-benar menjangkau masyarakat pesisir.
Tidak semua nelayan memiliki akses internet yang sama. Tidak semua kapal kecil dilengkapi perangkat komunikasi modern. Kondisi tersebut membuat penyampaian informasi keselamatan tidak dapat mengandalkan satu kanal saja.
Satuan Nelayan ETH mendorong agar informasi cuaca maritim disebarkan melalui pelabuhan perikanan, tempat pelelangan ikan, pemerintah desa pesisir, kelompok WhatsApp nelayan, radio komunikasi, pengeras suara pelabuhan hingga organisasi nelayan di daerah.
“Jangan menunggu kapal diterjang gelombang baru keselamatan menjadi perhatian. Pencegahan harus dimulai ketika nelayan masih berada di darat,” tegas Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang.
Lima agenda keselamatan nelayan
Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan memperkuat lima hal: penyampaian peringatan cuaca secara cepat kepada nelayan; penyederhanaan informasi mengenai gelombang, angin dan kondisi laut; pengadaan sarana komunikasi dan alat keselamatan yang terjangkau; peningkatan edukasi keselamatan bagi nelayan dan awak kapal; serta penguatan koordinasi BMKG, Bakamla, Basarnas, KKP, pemerintah daerah dan kelompok nelayan.
BMKG sendiri menyebut kemampuan pengamatan maritimnya didukung pengamatan pesisir, pengamatan langsung di laut dan penginderaan jauh. Dalam kerja sama dengan Bakamla, integrasi InaWIS milik BMKG dengan National Maritime Security System (NMSS) juga menjadi salah satu arah pengembangan.
Nelayan kecil jangan menjadi pihak terakhir menerima informasi
Bagi Satuan Nelayan ETH, perkembangan sistem digital dan pemantauan maritim harus memberikan perlindungan yang sama kepada kapal besar maupun perahu tradisional.
Nelayan kecil justru merupakan kelompok yang membutuhkan informasi kondisi laut secara cepat karena kemampuan kapalnya menghadapi gelombang dan cuaca ekstrem lebih terbatas.
“Keselamatan nelayan bukan persoalan statistik. Di setiap kapal ada seorang ayah, suami, anak atau saudara yang ditunggu keluarganya di rumah. Setiap teknologi dan kebijakan keselamatan harus berujung pada satu tujuan: nelayan berangkat mencari nafkah dan kembali kepada keluarganya dengan selamat,” kata Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang.
Dari Hambalang untuk nelayan Indonesia
Dari Hambalang, Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mengajak masyarakat nelayan menjadikan pemeriksaan cuaca sebagai bagian dari kebiasaan sebelum melaut.
Organisasi juga mendorong nelayan menyampaikan persoalan yang mereka temui di daerah—mulai dari sulitnya memperoleh informasi cuaca, keterbatasan alat komunikasi, kebutuhan pelampung, hingga fasilitas keselamatan di pelabuhan—agar dapat dihimpun menjadi aspirasi yang konkret.
Laut adalah tempat mencari kehidupan, bukan tempat mempertaruhkan nyawa karena kurangnya informasi.
SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG
KUAT BERSAMA, TANGGUH DI LAUT





