EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Inflasi Agustus 3,19%, Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang: Kesejahteraan Nelayan Harus Terasa Sampai di Dapur Keluarga

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Selasa, 1 September 2026Lokasi Terbit: Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Dari Hambalang, Satuan Nelayan ETH mendorong pemerintah tidak hanya mengejar produksi ikan, tetapi menjaga pendapatan bersih, harga hasil tangkapan dan daya beli keluarga nelayan HAMBALANG, BOGOR — Kesejahteraan keluarga nelayan...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Selasa, 1 September 2026
Lokasi Terbit: Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

Dari Hambalang, Satuan Nelayan ETH mendorong pemerintah tidak hanya mengejar produksi ikan, tetapi menjaga pendapatan bersih, harga hasil tangkapan dan daya beli keluarga nelayan

HAMBALANG, BOGOR — Kesejahteraan keluarga nelayan menjadi perhatian Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang setelah Badan Pusat Statistik merilis perkembangan terbaru inflasi nasional pada 1 September 2026.

banner 468x60

BPS mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan (year-on-year). Secara bulanan terjadi inflasi 0,21 persen, sementara inflasi sepanjang Januari–Agustus 2026 tercatat 1,86 persen.

Bagi masyarakat nelayan, perubahan biaya hidup mempunyai arti penting karena pendapatan keluarga sangat dipengaruhi hasil tangkapan, musim, cuaca, harga ikan serta besarnya biaya untuk mengoperasikan kapal.

“Kesejahteraan nelayan jangan hanya diukur dari banyaknya ikan yang didaratkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa uang yang akhirnya tersisa ketika biaya BBM, es, perbekalan, kebutuhan rumah, pendidikan anak dan kebutuhan keluarga sudah dibayar,” tegas Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang.

Pendapatan naik belum tentu daya beli langsung membaik

Pada hari yang sama, BPS juga mengumumkan Nilai Tukar Petani nasional Agustus 2026 mencapai 129,19 atau naik 1,05 persen dibanding Juli. Kenaikan terjadi karena indeks harga yang diterima meningkat 1,14 persen, lebih tinggi daripada kenaikan indeks harga yang dibayar sebesar 0,09 persen.

Namun Satuan Nelayan ETH mengingatkan bahwa angka NTP nasional tersebut merupakan indikator sektor pertanian secara luas dan tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa seluruh rumah tangga nelayan otomatis semakin sejahtera.

BPS menyediakan indikator khusus kelompok nelayan pada tabel Nilai Tukar Petani menurut provinsi. Perbedaan antarwilayah menunjukkan kondisi ekonomi masyarakat nelayan perlu dilihat sampai tingkat daerah, bukan hanya melalui satu angka nasional.

“Nelayan di Aceh, Jawa, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara atau Papua menghadapi kondisi berbeda. Harga ikan berbeda, biaya BBM berbeda, jarak melaut berbeda dan biaya hidup juga berbeda. Kebijakan kesejahteraan harus berangkat dari kenyataan tersebut,” kata Satuan Nelayan ETH.

Harga ikan harus sebanding dengan biaya melaut

Salah satu persoalan mendasar adalah hubungan antara harga ikan yang diterima nelayan dengan biaya produksi.

Sebelum memperoleh penghasilan, nelayan harus mengeluarkan modal untuk BBM, es, makanan awak kapal, perawatan mesin, alat tangkap dan berbagai kebutuhan operasional lainnya.

Karena itu harga ikan yang tinggi di pasar konsumen belum tentu berarti nelayan mendapatkan keuntungan besar.

Rantai distribusi, mutu hasil tangkapan, fasilitas penyimpanan dan posisi tawar terhadap pembeli ikut menentukan harga yang diterima nelayan.

“Kalau harga ikan di pasar naik tetapi harga di tingkat nelayan tidak ikut membaik, maka ada mata rantai yang perlu kita lihat bersama. Nelayan harus mendapat bagian ekonomi yang adil dari ikan yang mereka tangkap dengan modal dan risiko sendiri,” tegas Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang.

Lima agenda kesejahteraan keluarga nelayan

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong lima hal menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah.

1. Transparansi harga ikan di tingkat pelabuhan dan TPI. Nelayan membutuhkan informasi harga yang mudah diperoleh agar mempunyai posisi tawar lebih kuat.

2. Biaya operasional melaut harus ditekan. Ketersediaan BBM, es, perbekalan serta fasilitas pelabuhan yang efisien berpengaruh langsung terhadap pendapatan bersih.

3. Cold storage dan rantai dingin diperluas. Nelayan tidak boleh dipaksa menjual murah hanya karena ikan harus segera dilepas sebelum kualitasnya turun.

4. Perlindungan sosial keluarga nelayan diperkuat. BPJS, keselamatan kerja, pendidikan anak dan perlindungan ketika nelayan tidak dapat melaut karena cuaca perlu mendapat perhatian.

5. Data kesejahteraan nelayan harus dibuka dan dievaluasi berkala. Pemerintah perlu melihat bukan hanya produksi dan transaksi, tetapi pendapatan bersih dan daya beli keluarga.

Inflasi harus dibaca dari meja makan keluarga nelayan

BPS mencatat inflasi tahunan nasional Agustus sebesar 3,19 persen. Angka statistik tersebut penting sebagai gambaran kondisi ekonomi, tetapi bagi keluarga nelayan dampaknya terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika harga kebutuhan rumah tangga meningkat sementara hasil tangkapan menurun karena cuaca atau biaya melaut naik, kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dapat tertekan.

Satuan Nelayan ETH menilai kebijakan sektor kelautan harus memperhatikan hubungan antara ekonomi kapal dan ekonomi rumah tangga.

“Jangan melihat nelayan hanya ketika kapalnya berada di laut. Setelah kapal kembali, ada kebutuhan rumah yang harus dipenuhi, anak yang harus sekolah dan keluarga yang harus hidup. Itulah sebabnya kebijakan perikanan pada akhirnya harus bermuara pada kesejahteraan keluarga,” ujar Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang.

Nelayan membutuhkan harga yang adil, bukan sekadar hasil banyak

Produksi perikanan yang tinggi penting bagi ketahanan pangan dan perekonomian nasional.

Namun Satuan Nelayan ETH menegaskan bahwa jumlah produksi harus berjalan seiring dengan peningkatan nilai yang diterima pelaku utama.

Jika hasil tangkapan meningkat tetapi biaya operasi naik lebih cepat, pendapatan bersih nelayan dapat tetap tertekan.

Karena itu organisasi mendorong evaluasi harga ikan mulai dari kapal, TPI, pedagang pengumpul, pengolahan hingga pasar konsumen.

Tujuannya bukan menghapus rantai perdagangan, melainkan memastikan setiap mata rantai bekerja secara wajar dan nelayan tidak menjadi pihak yang menerima bagian paling kecil.

Dari Hambalang, dengarkan suara keluarga nelayan

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang membuka perhatian pada persoalan yang dialami keluarga nelayan di berbagai daerah, termasuk harga ikan, biaya sekolah, akses BPJS, utang usaha, biaya BBM, kebutuhan es serta kondisi ketika cuaca membuat kapal tidak dapat beroperasi.

Aspirasi tersebut dapat menjadi dasar untuk mendorong kebijakan yang lebih dekat dengan kondisi nyata masyarakat pesisir.

“Ukuran keberhasilan pembangunan perikanan sederhana: nelayan mampu berangkat melaut dengan aman, memperoleh harga yang layak, pulang membawa penghasilan dan keluarganya hidup lebih sejahtera. Kalau hal itu belum dirasakan, pekerjaan kita belum selesai,” tegas Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang.

NELAYAN KUAT — HARGA IKAN ADIL — BIAYA MELAUT TERJAGA — KELUARGA SEJAHTERA

SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG

KUAT BERSAMA, TANGGUH DI LAUT

banner 336x280