Hadapi Kekeringan, 561 Pompa Air Disalurkan di Sidrap, DPN ETH: Jangan Tunggu Petani Gagal Panen
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT β Sabtu, 12 September 2026 Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (DPN ETH) menaruh perhatian pada ancaman kekeringan terhadap sektor pertanian dan produksi pangan nasional. Kementerian Pertanian RI menyalurkan 561 unit pompa air kepada petani...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT β Sabtu, 12 September 2026 Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (DPN ETH) menaruh perhatian pada ancaman kekeringan terhadap sektor pertanian dan produksi pangan nasional. Kementerian Pertanian RI menyalurkan 561 unit pompa air kepada petani di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, untuk membantu ketersediaan air di persawahan menghadapi dampak kekeringan ekstrem pada musim kemarau.
Bantuan tersebut terdiri atas pompa berukuran 3 inci, 4 inci, dan 6 inci, yang disalurkan kepada kelompok tani di sejumlah wilayah terdampak, antara lain Kecamatan Kulo, Panca Rijang, Watang Sidenreng dan Watang Pulu.
Sekitar 4.000β5.000 Hektare Terdampak Kemarau
Berdasarkan keterangan Pemerintah Kabupaten Sidrap yang diberitakan ANTARA hari ini, dari sekitar 51.000 hektare persawahan yang ditanami pada pertengahan 2026, sekitar 4.000β5.000 hektare terdampak kemarau. Sekitar 47.000 hektare lainnya disebut masih dapat diselamatkan dan dipanen.
Persoalan kekeringan juga ditangani dalam skala yang lebih luas. Kementerian Pekerjaan Umum sebelumnya menyatakan melakukan penanganan di sekitar 2.200 lokasi terdampak El NiΓ±o, mulai dari kawasan permukiman hingga dukungan penanganan kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah menempatkan ketersediaan air bagi masyarakat dan pertanian sebagai salah satu perhatian utama.
Kementerian Pertanian juga mencatat program lain untuk menghadapi risiko kekeringan, termasuk distribusi 1.000 pompa air di Grobogan dan alokasi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk 100 ribu hektare pada 2026.
Sikap DPN Elang Tiga Hambalang
Ketua Umum DPN Elang Tiga Hambalang H. Safrizal berpandangan bahwa pemerintah perlu bergerak sebelum kekeringan berkembang menjadi gagal panen. Menurutnya, perlindungan terhadap petani sekaligus merupakan bagian dari menjaga ketahanan pangan dan kestabilan pasokan pangan masyarakat.
DPN ETH menilai penyaluran pompa air merupakan langkah yang perlu didukung, tetapi efektivitasnya harus dilihat dari kondisi nyata di persawahan. Bantuan peralatan perlu diikuti kepastian sumber air, bahan bakar atau energi penggerak, jaringan irigasi yang berfungsi serta kemampuan kelompok tani merawat peralatan.
DPN ETH Dorong Pemetaan Wilayah Rawan Kekeringan
Sekretaris Jenderal DPN Elang Tiga Hambalang Ganda Satria Dharma berpandangan pemerintah pusat dan daerah perlu memperkuat pemetaan sawah yang mulai mengalami kekurangan air sehingga intervensi dapat dilakukan berdasarkan tingkat urgensi.
DPN ETH mendorong pemerintah memprioritaskan wilayah sentra produksi pangan, memastikan pompa ditempatkan pada lokasi yang mempunyai sumber air yang dapat dimanfaatkan, serta melakukan evaluasi terhadap luas lahan yang berhasil diselamatkan setelah bantuan diberikan.
DPN ETH juga memandang perlindungan petani tidak cukup dilakukan ketika bencana kekeringan sudah terjadi. Infrastruktur irigasi, embung, pompanisasi, informasi iklim, asuransi pertanian dan pengelolaan sumber air perlu menjadi sistem mitigasi yang berjalan secara berkesinambungan.
Bagi DPN ETH, menjaga sawah tetap produktif berarti menjaga penghasilan petani sekaligus menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat Indonesia.





