EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Sumut Kembangkan Kawasan Perikanan dari Hulu ke Hilir, Satuan Nelayan ETH: Kenaikan Produksi Harus Sejalan dengan Pendapatan Nelayan

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Hambalang, Kabupaten Bogor — Sabtu, 19 September 2026 Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengembangkan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, memperkuat ekonomi masyarakat pesisir, sekaligus meningkatkan nilai tambah...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Hambalang, Kabupaten Bogor — Sabtu, 19 September 2026 Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengembangkan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, memperkuat ekonomi masyarakat pesisir, sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil perikanan.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Utara Jenny Masniari Sinaga mengatakan pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap pada 2026 diprioritaskan di pantai barat dan pantai timur Sumatera Utara, sementara pengembangan menuju Kepulauan Nias direncanakan pada 2027. Pemprov Sumut juga bekerja sama dengan Universitas Sumatera Utara dalam penyusunan rencana induk kawasan tersebut.

banner 468x60

Target produksi 2026 mencapai 383 ribu ton

Berdasarkan data DKP Sumut yang dipublikasikan pemerintah daerah, produksi perikanan Sumatera Utara pada 2025 tercatat 382.127,77 ton. Untuk 2026, pemerintah daerah menetapkan target produksi 383.036,91 ton, dengan realisasi hingga triwulan II mencapai 200.931,45 ton.

Sejumlah daerah dengan produksi perikanan tinggi antara lain Tapanuli Tengah, Batu Bara, Asahan dan Tanjungbalai. Data produksi tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menentukan kawasan unggulan.

Nelayan akan mendapat dukungan alat tangkap dan hilirisasi

Dalam keterangan resmi Pemprov Sumut, konsep kawasan unggulan dirancang mulai dari produksi hingga pengolahan. Pemerintah menyatakan nelayan akan diberikan dukungan alat tangkap dan bantuan lain sesuai kebutuhan, kemudian hasil perikanannya akan diperkuat melalui hilirisasi dan pengolahan.

DKP Sumut juga menyebut pengembangan ekonomi biru sektor perikanan tangkap diprioritaskan antara lain di Sibolga, Tanjungbalai, Asahan dan Batu Bara. Pada 2026, salah satu arah pengembangan nilai tambah juga mencakup komoditas ikan asin.

Komoditas potensial yang disebut pemerintah antara lain ikan kembung, tembang, kerang darah, tetengkek, senangin, cumi-cumi, tenggiri, lencam, udang jerbung dan layang benggol.

Satuan Nelayan ETH: jangan hanya mengejar tonase

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang memandang peningkatan produksi perikanan penting, tetapi keberhasilan pembangunan sektor perikanan sebaiknya tidak hanya diukur dari berapa ton ikan yang berhasil diproduksi.

Yang lebih penting bagi nelayan adalah apakah peningkatan produksi diikuti dengan kenaikan pendapatan bersih, harga ikan yang lebih baik, biaya BBM yang terkendali, akses terhadap es dan cold storage, kepastian pembeli, serta biaya distribusi yang lebih efisien.

Bagian tersebut merupakan analisis dan fokus pengawasan Satuan Nelayan ETH, bukan pernyataan Pemprov Sumatera Utara.

Produksi tinggi tidak otomatis membuat nelayan sejahtera

Produksi ikan yang meningkat dapat memperbesar pasokan di pasar. Namun apabila kapasitas penyimpanan, pengolahan dan pemasaran tidak berkembang secara seimbang, kelebihan pasokan pada waktu tertentu berpotensi menekan harga ikan di tingkat nelayan.

Karena itu, Satuan Nelayan ETH menilai pendekatan dari hulu hingga hilir perlu memastikan nelayan tidak berhenti sebagai pemasok bahan baku.

Nelayan dan koperasi nelayan perlu mendapat akses yang wajar terhadap pengolahan, penyimpanan, distribusi dan pasar akhir, sehingga peningkatan nilai tambah tidak hanya dinikmati pada tingkat perdagangan atau industri.

Empat daerah prioritas perlu dikawal

Satuan Nelayan ETH menilai pengembangan kawasan di Sibolga, Tanjungbalai, Asahan dan Batu Bara dapat menjadi contoh untuk menilai efektivitas program.

Hal-hal yang patut dikawal meliputi:

  • penerima bantuan alat tangkap dan dasar penetapannya;
  • kesesuaian alat tangkap dengan aturan dan karakter wilayah perairan;
  • harga ikan yang diterima nelayan sebelum dan sesudah program;
  • ketersediaan BBM dan es;
  • kapasitas cold storage dan fasilitas pengolahan;
  • akses nelayan kecil terhadap fasilitas;
  • kepastian pasar hasil tangkapan; serta
  • transparansi anggaran dan pelaksanaan program.

Ekonomi biru harus menjaga laut sekaligus meningkatkan penghasilan

Pemprov Sumut juga mengembangkan kawasan konservasi laut dan pesisir sebagai bagian dari pendekatan ekonomi biru, termasuk di beberapa wilayah Kepulauan Nias, Tapanuli Tengah, Batu Bara dan Serdang Bedagai. Pemerintah menyatakan pendekatan tersebut ditujukan untuk menyeimbangkan peningkatan produksi, pertumbuhan ekonomi dan kelestarian ekosistem laut.

Satuan Nelayan ETH menilai keseimbangan tersebut perlu dijaga. Peningkatan produksi perikanan tidak boleh mengabaikan keberlanjutan stok ikan, terumbu karang, mangrove dan ruang tangkap nelayan tradisional.

Fakta, pernyataan pemerintah dan analisis

Fakta: target produksi perikanan Sumatera Utara pada 2026 sebesar 383.036,91 ton, dengan realisasi hingga triwulan II sebesar 200.931,45 ton.

Pernyataan pemerintah: Pemprov Sumut menyatakan kawasan unggulan dikembangkan secara terintegrasi dari hulu ke hilir untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat pesisir.

Analisis Satuan Nelayan ETH: keberhasilan program perlu diukur dari pendapatan bersih nelayan, kestabilan harga ikan, akses pasar, biaya melaut, akses terhadap fasilitas pengolahan dan manfaat ekonomi yang benar-benar diterima masyarakat pesisir.

banner 336x280
Secret Link