Dari Kampus ke Lahan, Kolaborasi Pertanian Modern Buka Jalan bagi Wirausaha Muda
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — Minggu, 13 September 2026. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya melahirkan lulusan yang siap mencari pekerjaan, tetapi juga mencetak generasi muda yang mampu menciptakan usaha dan lapangan kerja melalui sektor pertanian. Gagasan tersebut menguat setelah...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — Minggu, 13 September 2026. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya melahirkan lulusan yang siap mencari pekerjaan, tetapi juga mencetak generasi muda yang mampu menciptakan usaha dan lapangan kerja melalui sektor pertanian.
Gagasan tersebut menguat setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengajak perguruan tinggi berkolaborasi mengembangkan berbagai komoditas pertanian. Ajakan itu disampaikan dalam kuliah umum penerimaan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Makassar di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (12/9).
Menurut Amran, generasi muda yang berada di lingkungan perguruan tinggi mempunyai kemampuan dan peluang untuk mengembangkan pertanian dengan pola modern. Pengetahuan akademik, riset, teknologi, dan semangat kewirausahaan mahasiswa dapat dipadukan untuk menghasilkan kegiatan pertanian yang produktif.
Kementerian Pertanian menyatakan telah menyiapkan lahan serta bibit kakao, jambu mete, dan jagung untuk mendukung pengembangan komoditas. Bibit tersebut akan diberikan secara gratis, disertai bantuan pengolahan tanah dan pendanaan.
“Ada lahan kami siapkan, kami siapkan yang ada sekarang kakao, mente, jagung itu gratis,” kata Amran sebagaimana diberitakan ANTARA.
Menteri Pertanian turut mengajak Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar Prof. Dr. Ir. Rakhim Nanda membangun kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan instansi terkait. Perguruan tinggi dapat menentukan lahan yang akan dikembangkan, kemudian menyusun program bersama pemerintah daerah, direktorat jenderal, dan lembaga yang menangani ketahanan pangan.
Lahan pertanian tersebut nantinya tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga dapat difungsikan sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan usaha bagi mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dari proses menyiapkan lahan, menanam, merawat tanaman, memanen, mengolah, hingga memasarkan hasil produksi.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang (ETH) menilai kerja sama antara kampus, pemerintah, dan petani dapat menjadi jalan baru untuk mempercepat modernisasi pertanian sekaligus menjawab persoalan regenerasi petani.
“Mahasiswa harus mendapatkan kesempatan turun langsung ke lahan agar pengetahuan dari kampus dapat bertemu dengan pengalaman petani. Dari kolaborasi itu dapat lahir inovasi, usaha baru, dan teknologi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapangan,” demikian pernyataan Satuan Petani ETH.
Menurut Satuan Petani ETH, pemberian lahan, bibit, dan pendanaan merupakan langkah awal yang baik. Namun, program tersebut harus mempunyai sasaran terukur agar tidak berhenti setelah kegiatan penanaman.
Pendampingan perlu dilakukan sampai masa panen dan pemasaran. Mahasiswa serta petani membutuhkan bimbingan mengenai pemilihan komoditas, kesesuaian lahan, penggunaan pupuk, pengendalian hama, pengoperasian alat pertanian, pengolahan hasil, dan perencanaan usaha.
“Bibit gratis harus dipastikan bermutu dan sesuai dengan kondisi lahan. Setelah produksi berhasil, pemerintah bersama perguruan tinggi juga perlu membantu membuka akses pasar agar hasil pertanian mempunyai nilai ekonomi yang layak,” lanjut Satuan Petani ETH.
Perguruan tinggi dapat membentuk lahan percontohan, pusat riset terapan, inkubator bisnis pertanian, dan unit pengolahan hasil. Mahasiswa dari berbagai bidang juga dapat dilibatkan, mulai dari pertanian, teknologi, ekonomi, komunikasi hingga manajemen.
Kolaborasi lintas bidang tersebut penting karena tantangan pertanian tidak hanya berkaitan dengan produksi. Petani juga menghadapi persoalan pembiayaan, pengemasan, penyimpanan, distribusi, pemasaran, perubahan iklim, dan fluktuasi harga.
Satuan Petani ETH berpandangan bahwa pertanian modern tidak cukup hanya ditandai dengan penggunaan mesin atau teknologi digital. Modernisasi harus mampu menekan biaya produksi, meningkatkan hasil panen, mengurangi risiko kerugian, dan memperbaiki kesejahteraan petani.
Program kolaborasi kampus juga diharapkan membuka pandangan mahasiswa bahwa sektor pertanian memiliki peluang ekonomi yang luas. Selain menjadi petani, generasi muda dapat mengembangkan usaha pembibitan, jasa alat pertanian, pengolahan pangan, perdagangan hasil panen, teknologi pertanian, dan pemasaran digital.
“Ketika kampus bergerak menuju lahan, pertanian memperoleh tambahan pengetahuan dan tenaga muda. Mahasiswa juga mendapatkan ruang untuk menciptakan usaha serta lapangan kerja yang bermanfaat bagi masyarakat,” tutup Satuan Petani ETH.
Berita ini disusun berdasarkan laporan ANTARA Makassar, 12 September 2026�.





