Gejala “Bangkalan” tekan produksi durian Sulawesi Tengah, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang: petani butuh solusi cepat, bukan sekadar penelitian
Hambalang — Selasa, 1 September 2026, Persoalan gejala “Bangkalan” yang menyerang tanaman durian di Sulawesi Tengah menjadi perhatian serius setelah berdampak terhadap produktivitas dan kualitas hasil panen petani, terutama di Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso. Kementerian Pertanian menyatakan telah...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang — Selasa, 1 September 2026, Persoalan gejala “Bangkalan” yang menyerang tanaman durian di Sulawesi Tengah menjadi perhatian serius setelah berdampak terhadap produktivitas dan kualitas hasil panen petani, terutama di Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso.
Kementerian Pertanian menyatakan telah menerjunkan tim gabungan lintas lembaga ke lapangan pada 26–27 Agustus 2026. Tim melibatkan Kementan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pemerintah daerah, perguruan tinggi, karantina, petugas perlindungan tanaman, serta unsur terkait lainnya.
Hasil pengamatan awal menunjukkan gejala Bangkalan diduga berkaitan dengan gangguan fisiologis tanaman pada fase berbuah, termasuk persoalan ketersediaan dan keseimbangan unsur hara makro maupun mikro. Namun penyebab pastinya masih membutuhkan pengujian laboratorium.
Gejala yang ditemukan di lapangan antara lain buah gugur sebelum mencapai kematangan optimal, daging buah mengkal atau tidak matang sempurna, aroma berkurang, rasa hambar hingga warna buah yang cenderung pucat. Kondisi tersebut berpotensi menekan produktivitas sekaligus pendapatan petani durian.
Menanggapi persoalan tersebut, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang (ETH) menilai langkah pemerintah menerjunkan tim ahli merupakan langkah penting. Namun penanganannya harus bergerak cepat sampai menghasilkan solusi yang dapat diterapkan langsung oleh petani.
“Petani tidak bisa menunggu terlalu lama. Ketika buah rontok sebelum matang atau kualitasnya jatuh, yang hilang bukan sekadar angka produksi, tetapi pendapatan keluarga petani. Karena itu penelitian harus dipercepat dan hasilnya segera diterjemahkan menjadi langkah penanganan yang bisa dilaksanakan di kebun.”
Satuan Petani ETH menegaskan bahwa pemerintah perlu memastikan pengujian terhadap tanah, daun dan buah menghasilkan rekomendasi yang jelas mengenai pemupukan, perbaikan kondisi tanah, pengendalian gangguan tanaman serta pola budidaya yang sesuai dengan kondisi masing-masing sentra durian.
Kementan sendiri menyebut sampel tanah, daun dan buah dari tanaman sehat maupun yang menunjukkan gejala Bangkalan sedang diuji. Aspek nutrisi tanaman dan kondisi pH tanah menjadi salah satu fokus perhatian.
Jangan biarkan petani menanggung kerugian sendirian
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang juga meminta pemerintah pusat dan daerah melakukan pendataan terhadap kebun dan petani yang terdampak. Data tersebut diperlukan agar tingkat kerusakan dan potensi kerugian dapat diketahui secara lebih jelas.
“Kalau gangguan ini menyebabkan produksi petani turun secara signifikan, pemerintah harus hadir sampai pada tingkat kebun. Jangan berhenti pada rapat, penelitian dan kunjungan lapangan. Harus ada pendampingan, rekomendasi teknis yang sederhana, mudah dipahami petani, serta bantuan sarana produksi apabila memang diperlukan.”
Persoalan tersebut semakin penting karena durian merupakan salah satu komoditas unggulan Sulawesi Tengah. Data yang dikutip ANTARA dari Dinas TPH Sulawesi Tengah menyebut luas kebun durian di provinsi itu sekitar 36 ribu hektare, dengan sekitar 12 ribu hektare telah berproduksi. BPS tahun 2025 mencatat produksi durian Sulawesi Tengah mencapai sekitar 95.140 ton, dengan Poso dan Parigi Moutong sebagai sentra produksi terbesar.
Satuan Petani ETH menilai besarnya potensi tersebut harus dibarengi sistem perlindungan tanaman yang kuat.
“Jangan sampai pemerintah berbicara besar mengenai ekspor dan perluasan pasar, sementara petani di kebun justru menghadapi penurunan produksi tanpa kepastian penanganan. Fondasi ekspor adalah petani. Kalau kebunnya bermasalah, rantai usaha di atasnya juga akan terdampak.”
Satuan Petani ETH tawarkan empat langkah
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang meminta pemerintah mempercepat penyelesaian pengujian laboratorium dan mengumumkan hasilnya secara terbuka kepada petani. Setelah penyebabnya semakin jelas, pemerintah perlu menyiapkan standar penanganan Bangkalan yang dapat diterapkan sesuai kondisi kebun.
Pendampingan penyuluh dan tenaga teknis juga harus diperkuat langsung di sentra produksi. Pemerintah perlu memetakan tingkat serangan sekaligus mempertimbangkan dukungan sarana produksi bagi petani yang mengalami dampak berat.
Terakhir, pengawasan harus dilakukan secara berkelanjutan agar penanganan tidak selesai setelah tim ahli meninggalkan lokasi.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang menegaskan bahwa ukuran keberhasilan penanganan Bangkalan bukan banyaknya rapat atau tim yang dibentuk, melainkan pulihnya produktivitas kebun, terjaganya kualitas durian, dan kembali amannya pendapatan petani.
Sumber fakta: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, BRMP Sulawesi Tengah, dan ANTARA, Agustus–September 2026.





