EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Gelombang Tinggi hingga 3,5 Meter, Satuan Nelayan ETH: Jangan Paksa Nelayan Melaut demi Mengejar Penghasilan

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

BMKG mengeluarkan peringatan gelombang tinggi di sejumlah perairan. Samudra Hindia barat Aceh berpotensi mencapai 3,5 meter, sementara perairan selatan Sumba juga menghadapi gelombang tinggi dan hembusan angin kuat. HAMBALANG, 16 September 2026 — Keselamatan nelayan kembali menjadi perhatian serius setelah...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

BMKG mengeluarkan peringatan gelombang tinggi di sejumlah perairan. Samudra Hindia barat Aceh berpotensi mencapai 3,5 meter, sementara perairan selatan Sumba juga menghadapi gelombang tinggi dan hembusan angin kuat.

HAMBALANG, 16 September 2026 — Keselamatan nelayan kembali menjadi perhatian serius setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi gelombang tinggi hingga 3,5 meter di Samudra Hindia barat Aceh untuk periode prakiraan 16–19 September 2026. Pada 16 September dini hari, BMKG mencatat gelombang sekitar 3,1 meter di wilayah tersebut disertai potensi hujan petir.

banner 468x60

Di perairan selatan Sumba, BMKG juga memperkirakan potensi gelombang mencapai sekitar 3,1 meter, dengan hembusan angin yang pada beberapa jam diprakirakan dapat meningkat hingga lebih dari 30 knot.

Bagi nelayan kecil, kondisi seperti ini bukan sekadar angka dalam prakiraan cuaca.

Tiga meter gelombang di laut dapat menjadi batas antara mencari nafkah dan mempertaruhkan nyawa.

NELAYAN SERING DIHADAPKAN PADA PILIHAN SULIT

Ketika gelombang tinggi datang, nelayan kecil menghadapi dilema.

Tidak melaut berarti kehilangan pemasukan.

Melaut berarti menghadapi risiko.

Di banyak keluarga pesisir, satu hari tidak turun ke laut dapat berarti tidak ada hasil tangkapan yang dijual pada hari berikutnya.

Karena itu, Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang memandang peringatan cuaca ekstrem tidak boleh hanya berhenti pada kalimat:

“Nelayan diminta berhati-hati.”

Persoalannya jauh lebih dalam.

Bagaimana dengan nelayan yang tidak melaut selama beberapa hari?

Bagaimana kebutuhan keluarganya?

Bagaimana cicilan kapal, biaya alat tangkap, kebutuhan BBM dan kebutuhan rumah tangga mereka?

Keselamatan harus menjadi prioritas, tetapi dampak ekonominya juga tidak boleh diabaikan.

BMKG: PERAHU NELAYAN SANGAT SENSITIF TERHADAP GELOMBANG DAN ANGIN

Dalam pedoman keselamatan pelayaran, BMKG mengingatkan bahwa perahu nelayan sudah berada pada kondisi berisiko ketika kecepatan angin mencapai sekitar 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter.

Angka tersebut menunjukkan betapa seriusnya kondisi ketika gelombang di sejumlah wilayah diprakirakan dapat melampaui 3 meter.

Perahu kecil tentu memiliki kemampuan berbeda dengan kapal besar.

Karena itu, satu peringatan cuaca tidak dapat diperlakukan sama untuk seluruh jenis kapal.

Nelayan tradisional yang menggunakan perahu kecil menjadi kelompok yang paling membutuhkan informasi cepat dan akurat.

JANGAN TUNGGU KAPAL TERBALIK BARU KESELAMATAN DIBICARAKAN

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai budaya keselamatan harus dimulai sebelum nelayan meninggalkan dermaga.

Pemeriksaan cuaca dan kondisi laut harus menjadi kebiasaan.

Tetapi tanggung jawab tersebut tidak boleh dibebankan seluruhnya kepada nelayan.

Informasi BMKG harus benar-benar sampai ke:

dermaga, pelabuhan perikanan, koperasi nelayan, kelompok nelayan dan desa-desa pesisir.

Jangan sampai peringatan sudah diterbitkan secara digital, tetapi nelayan yang hendak melaut justru tidak mengetahui bahwa beberapa mil di depan mereka terdapat potensi gelombang tinggi.

Informasi cuaca yang tidak sampai kepada nelayan sama artinya dengan peringatan yang kehilangan fungsi.

HP MATI, SINYAL HILANG, NELAYAN BISA KEHILANGAN INFORMASI

Persoalan keselamatan di laut juga menyangkut teknologi komunikasi.

Di daratan, perubahan prakiraan cuaca dapat diterima melalui telepon genggam dalam hitungan menit.

Di tengah laut, situasinya berbeda.

Sinyal dapat hilang.

Baterai dapat habis.

Peralatan komunikasi kapal dapat terbatas.

Karena itu, nelayan terutama yang beroperasi jauh dari pantai membutuhkan sistem komunikasi yang lebih andal.

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong penguatan fasilitas berupa radio komunikasi, perangkat navigasi, akses informasi cuaca maritim serta mekanisme komunikasi darurat di sentra-sentra nelayan.

CUACA BURUK BUKAN HANYA MASALAH KESELAMATAN, TAPI JUGA MASALAH EKONOMI

Ketika gelombang tinggi terjadi beberapa hari berturut-turut, rantai ekonomi perikanan ikut terganggu.

Kapal tidak berangkat.

Pasokan ikan berkurang.

Pedagang kekurangan barang.

Pekerja bongkar muat kehilangan pekerjaan.

Pengolah ikan kekurangan bahan baku.

Dan keluarga nelayan kehilangan pemasukan.

Karena itu, dampak cuaca ekstrem terhadap nelayan perlu dipandang sebagai persoalan ekonomi pesisir.

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai perlu ada perhatian terhadap skema perlindungan ekonomi bagi nelayan ketika kondisi laut tidak memungkinkan untuk melaut dalam waktu tertentu.

INFORMASI CUACA HARUS SAMPAI SAMPAI KE PERAHU TERKECIL

Indonesia mempunyai ribuan desa pesisir dengan kondisi infrastruktur yang berbeda-beda.

Tidak semua nelayan memiliki kapal modern.

Tidak semua mempunyai radar.

Tidak semua mempunyai perangkat komunikasi canggih.

Karena itu, penyebaran informasi keselamatan harus dirancang untuk menjangkau nelayan paling kecil sekalipun.

Bisa melalui pelabuhan.

Bisa melalui kepala desa.

Bisa melalui kelompok nelayan.

Bisa melalui radio komunikasi.

Bisa pula melalui pesan singkat kepada komunitas pesisir.

Yang terpenting adalah satu:

nelayan mengetahui kondisi laut sebelum memutuskan berangkat.

SATUAN NELAYAN ETH: NYAWA NELAYAN TIDAK BOLEH DITUKAR DENGAN SATU HARI HASIL TANGKAPAN

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mengingatkan masyarakat nelayan untuk menjadikan informasi BMKG sebagai salah satu pertimbangan utama sebelum melaut.

Tidak ada hasil tangkapan yang sebanding dengan kehilangan nyawa.

Namun pemerintah dan pemangku kepentingan juga harus memahami mengapa sebagian nelayan tetap berangkat meski kondisi laut berbahaya.

Sering kali jawabannya sederhana:

karena mereka harus membawa uang pulang untuk keluarga.

Di sinilah perlindungan nelayan harus hadir secara menyeluruh.

Bukan hanya menyuruh nelayan berhenti melaut.

Tetapi memastikan bahwa ketika mereka harus berhenti demi keselamatan, keluarga mereka tidak ikut kehilangan perlindungan ekonomi.

LAUT ADALAH SUMBER KEHIDUPAN, BUKAN TEMPAT MEMPERTARUHKAN NYAWA

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang akan terus mendorong penguatan keselamatan nelayan sebagai bagian utama pembangunan sektor perikanan nasional.

Kapal yang layak.

Alat keselamatan.

Perangkat navigasi.

Informasi cuaca.

Komunikasi darurat.

Dan perlindungan ekonomi.

Semua itu bukan kemewahan.

Itu kebutuhan dasar nelayan Indonesia.

Jangan biarkan nelayan harus memilih antara pulang tanpa uang atau berangkat dengan mempertaruhkan nyawa.

SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG

“KUAT BERSAMA, TANGGUH DI LAUT”

Hambalang, 16 September 2026

banner 336x280