Ikan Nelayan Masuk Pasar Program MBG, Satuan Nelayan ETH: Jangan Sampai Pasar Besar Terbuka, Nelayan Tetap Menjual Murah
Maluku Tenggara mulai menghubungkan hasil tangkapan nelayan kecil dengan kebutuhan pangan Program Makan Bergizi Gratis. Peluangnya besar, tetapi harga, kualitas, kontinuitas pembelian, dan posisi tawar nelayan menjadi bagian yang perlu diawasi. HAMBALANG, 16 September 2026 β Program Makan Bergizi Gratis...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Maluku Tenggara mulai menghubungkan hasil tangkapan nelayan kecil dengan kebutuhan pangan Program Makan Bergizi Gratis. Peluangnya besar, tetapi harga, kualitas, kontinuitas pembelian, dan posisi tawar nelayan menjadi bagian yang perlu diawasi.
HAMBALANG, 16 September 2026 β Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai membuka peluang pasar baru bagi hasil tangkapan nelayan kecil di Kabupaten Maluku Tenggara. Pemerintah daerah mendorong ikan lokal diolah menjadi produk seperti bakso ikan untuk menjadi alternatif sumber protein dalam rantai penyediaan makanan bergizi.
Bagi masyarakat nelayan, peluang tersebut dapat menjadi lebih dari sekadar program pangan.
Jika dilaksanakan dengan tata kelola yang baik, kebutuhan bahan baku dalam jumlah besar dan berkelanjutan dapat menciptakan pasar yang lebih pasti bagi ikan hasil tangkapan nelayan.
Namun ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
Apakah nelayan akan memperoleh harga yang layak?
Apakah pembelian dilakukan langsung dari kelompok nelayan atau melalui rantai perantara yang panjang?
Siapa menentukan harga ikan?
Dan apakah nelayan kecil benar-benar menjadi penerima manfaat utama?
Inilah aspek yang perlu menjadi perhatian dalam pelaksanaan program.
PERIKANAN BESAR, TAPI 1.536 KELUARGA NELAYAN MASIH MISKIN
Data yang disampaikan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara menunjukkan sektor perikanan menyumbang sekitar 22,20 persen terhadap perekonomian daerah dalam lima tahun terakhir. Namun besarnya kontribusi tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan kondisi kesejahteraan masyarakat nelayan.
Berdasarkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional yang dikutip pemerintah daerah, terdapat 1.536 kepala keluarga nelayan atau 1.863 orang yang masih berada dalam kondisi miskin.
Lebih memprihatinkan lagi, **835 kepala keluarga atau 1.038 orang masuk kategori miskin ekstrem
Angka tersebut memperlihatkan persoalan mendasar dalam ekonomi kelautan.
Daerah dapat kaya ikan, tetapi keluarga yang menangkap ikan belum tentu ikut menikmati kekayaan tersebut.
Karena itu, pembukaan pasar baru harus diukur dari perubahan pendapatan yang benar-benar masuk ke rumah tangga nelayan.
JANGAN HANYA BICARA IKAN MASUK MBG β BICARA JUGA HARGA DI TINGKAT NELAYAN
Dalam rantai perdagangan ikan, persoalan nelayan sering kali tidak terletak pada ada atau tidaknya pembeli.
Masalahnya adalah berapa harga yang diterima nelayan ketika ikan keluar dari kapal.
Harga dapat berubah ketika melewati pengepul, pengangkut, pengolah hingga pemasok akhir.
Karena itu, Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menyoroti pentingnya transparansi dalam skema pembelian hasil tangkapan apabila ikan nelayan digunakan untuk kebutuhan MBG.
Nelayan perlu mengetahui:
harga pembelian, standar kualitas, volume kebutuhan, jadwal pengiriman dan mekanisme pembayaran.
Jika pasar baru tercipta tetapi harga di tingkat nelayan tetap rendah, maka manfaat ekonominya akan jauh lebih kecil daripada potensi sebenarnya.
IKAN JANGAN HANYA DIJUAL SEGAR, NILAI TAMBAH HARUS TINGGAL DI DESA PESISIR
Pemkab Maluku Tenggara mendorong pengolahan ikan menjadi produk bernilai tambah. Pelatihan pembuatan bakso ikan dilakukan bersama GEF 6 Coastal Fisheries Initiative Indonesia dengan materi yang juga mencakup mutu, kebersihan, keamanan pangan, dan standar produk.
Pendekatan ini membuka peluang lain.
Selama ini banyak hasil tangkapan nelayan dijual dalam kondisi segar.
Ketika ikan diolah menjadi produk siap konsumsi, sebagian nilai ekonominya dapat meningkat.
Namun nilai tambah tersebut sebaiknya tidak seluruhnya berpindah keluar dari kawasan pesisir.
Kelompok nelayan, keluarga nelayan dan UMKM pesisir juga perlu mempunyai kesempatan masuk ke industri pengolahan.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penangkap ikan, tetapi juga bagian dari rantai produksi yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi.
SPPG DIDORONG BERMITRA DENGAN KELOMPOK PENGOLAH IKAN
Pemerintah daerah mendorong Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk membangun kemitraan dengan kelompok pengolah hasil perikanan sehingga produk ikan lokal dapat menjadi alternatif sumber protein bagi Program MBG.
Skema tersebut berpotensi membentuk rantai ekonomi:
NELAYAN β PENGOLAH/UMKM β SPPG β PENERIMA MAKANAN BERGIZI
Jika rantai ini berjalan dengan baik, manfaat ekonominya dapat berputar di daerah.
Tetapi tata kelolanya harus transparan.
Jangan sampai peluang pembelian dalam jumlah besar justru menciptakan ketergantungan baru kepada segelintir pemasok.
NELAYAN MEMBUTUHKAN KEPASTIAN PASAR, BUKAN PESANAN SESAT
Pasar hasil perikanan memiliki persoalan klasik: harga sering berubah dan permintaan tidak selalu stabil.
Karena itu, bila kebutuhan ikan untuk program pangan pemerintah hendak dihubungkan dengan nelayan, diperlukan kepastian.
Berapa kebutuhan ikan setiap minggu?
Jenis ikan apa yang dibutuhkan?
Berapa standar harganya?
Bagaimana apabila cuaca buruk menyebabkan nelayan tidak dapat melaut?
Bagaimana pembayaran dilakukan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar nelayan tidak melakukan investasi atau meningkatkan produksi tanpa kepastian penyerapan.
STANDAR MUTU JANGAN MALAH MENUTUP PINTU NELAYAN KECIL
Program makanan untuk anak tentu membutuhkan standar keamanan pangan yang ketat.
Hal tersebut penting.
Tetapi nelayan kecil dan kelompok pengolah pesisir juga membutuhkan pendampingan agar dapat memenuhi standar tersebut.
Mereka memerlukan rantai dingin, tempat pengolahan yang higienis, sertifikasi, pelatihan, kemasan dan akses pembiayaan.
Tanpa dukungan tersebut, standar yang tinggi dapat membuat peluang pasar hanya bisa dimasuki pelaku usaha yang sudah mempunyai modal besar.
Nelayan kecil berisiko kembali menjadi pemasok bahan mentah dengan margin paling rendah.
SATUAN NELAYAN ETH: UKUR PROGRAM DARI PENDAPATAN NELAYAN
Bagi Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang, munculnya pasar baru untuk hasil tangkapan merupakan perkembangan yang penting untuk diawasi dari sisi manfaat ekonomi masyarakat pesisir.
Ukuran keberhasilannya tidak cukup hanya:
berapa ton ikan dibeli, berapa banyak menu ikan disediakan, atau berapa UMKM terlibat.
Yang juga harus dilihat adalah:
berapa peningkatan pendapatan nelayan?
Berapa harga ikan sebelum dan setelah program berjalan?
Berapa banyak kelompok nelayan yang menjadi pemasok?
Dan berapa besar nilai ekonomi yang tetap berputar di desa pesisir?
Data semacam itulah yang dapat menunjukkan apakah kebijakan benar-benar menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat nelayan.
LAUT MENYEDIAKAN PANGAN, NELAYAN JUGA HARUS SEJAHTERA
Ikan merupakan sumber protein penting.
Nelayan adalah orang-orang yang memastikan hasil laut sampai ke meja makan masyarakat.
Karena itu, ketika ikan lokal masuk ke program pangan dalam skala besar, kesejahteraan orang yang menangkapnya juga patut menjadi bagian dari perhatian.
Jangan sampai anak-anak mendapatkan ikan bergizi, tetapi keluarga nelayan yang menangkap ikan tersebut tetap hidup dalam kemiskinan.
Pasar baru harus menjadi jalan menuju harga yang lebih adil, usaha pesisir yang lebih kuat dan nelayan yang lebih sejahtera.
SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG
βKUAT BERSAMA, TANGGUH DI LAUTβ
Hambalang, 16 September 2026





