EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Integritas Akademik Jadi Taruhan di Era AI, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang: Kampus Harus Berani Melawan Plagiarisme dan Manipulasi Ilmiah

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Reza Prasatria Dharma: Mahasiswa Boleh Memanfaatkan Teknologi, tetapi Kejujuran Akademik Tidak Bisa Diserahkan kepada Mesin HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 2 September 2026 Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam kehidupan mahasiswa. Teknologi kini mampu membantu mencari...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Reza Prasatria Dharma: Mahasiswa Boleh Memanfaatkan Teknologi, tetapi Kejujuran Akademik Tidak Bisa Diserahkan kepada Mesin

HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 2 September 2026

Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam kehidupan mahasiswa. Teknologi kini mampu membantu mencari informasi, menerjemahkan bahasa, membuat program komputer, menganalisis data hingga menghasilkan teks dalam hitungan detik.

banner 468x60

Namun kemudahan tersebut menghadirkan persoalan yang semakin penting bagi pendidikan tinggi Indonesia: bagaimana menjaga integritas akademik ketika teknologi dapat menghasilkan karya dengan sangat cepat?

Pemerintah telah menempatkan persoalan ini sebagai bagian penting dari transformasi pendidikan. Kementerian Komunikasi dan Digital sebelumnya mengingatkan perguruan tinggi agar penggunaan generative AI tidak menggantikan proses berpikir mahasiswa. Kampus didorong tetap mengutamakan kemampuan berpikir kritis, etika, dan integritas akademik.

Bagi Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, isu tersebut tidak dapat dianggap sekadar persoalan teknis penggunaan aplikasi.

Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan terhadap pendidikan tinggi dan kualitas lulusan Indonesia.

AI Bukan Musuh Pendidikan

Satuan Mahasiswa ETH tidak memandang AI sebagai teknologi yang harus dijauhi mahasiswa.

Sebaliknya, kemampuan menggunakan AI secara tepat dapat menjadi salah satu kompetensi penting.

Mahasiswa dapat memanfaatkannya untuk membantu memahami konsep, menemukan arah pencarian literatur, mengolah informasi, mempelajari bahasa pemrograman atau meningkatkan produktivitas.

Masalah muncul ketika teknologi digunakan untuk menggantikan seluruh proses intelektual mahasiswa, lalu hasilnya diserahkan sebagai karya pribadi tanpa pemeriksaan dan pertanggungjawaban.

Di titik tersebut, persoalannya bukan lagi kecanggihan teknologi.

Persoalannya adalah integritas.

Reza: Kejujuran Akademik Tidak Bisa Diserahkan kepada Mesin

Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, menilai mahasiswa perlu mampu membedakan penggunaan AI sebagai alat bantu dengan penggunaan AI untuk menghindari proses belajar.

“Mahasiswa boleh memanfaatkan teknologi, termasuk AI, tetapi kejujuran akademik tidak bisa kita serahkan kepada mesin. Kalau sebuah karya memakai nama kita, maka kita harus memahami isinya, memeriksa sumbernya dan berani mempertanggungjawabkannya,” kata Reza Prasatria Dharma.

Menurut Reza, mahasiswa tidak boleh menganggap jawaban AI selalu benar.

AI generatif dapat menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan tetapi keliru, termasuk referensi yang tidak ada atau kesimpulan yang tidak didukung sumber.

Karena itu kemampuan verifikasi menjadi semakin penting.

Plagiarisme Tidak Hilang Hanya karena Teknologinya Berubah

Sebelum AI generatif berkembang, perguruan tinggi sudah menghadapi persoalan plagiarisme, fabrikasi data, manipulasi penelitian, jasa pembuatan tugas hingga berbagai bentuk kecurangan akademik.

AI membuat tantangan tersebut menjadi lebih kompleks.

Sebuah teks dapat dibuat ulang.

Gambar dapat dihasilkan secara sintetis.

Suara dan video dapat dimanipulasi.

Data bahkan dapat dibuat terlihat seolah-olah berasal dari penelitian nyata.

Karena itu, Satuan Mahasiswa ETH memandang kampus perlu memperkuat pendidikan integritas sejak mahasiswa baru memasuki perguruan tinggi.

Mahasiswa harus memahami apa yang dimaksud dengan plagiarisme, fabrikasi, falsifikasi, konflik kepentingan dan penggunaan teknologi yang tidak etis.

Pemerintah Sudah Mengatur Integritas Akademik

Indonesia telah memiliki kerangka regulasi mengenai integritas akademik.

Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2021 tentang Integritas Akademik dalam Menghasilkan Karya Ilmiah mengatur prinsip-prinsip integritas akademik serta bentuk pelanggaran dalam menghasilkan karya ilmiah.

Regulasi tersebut penting karena perkembangan teknologi tidak menghapus tanggung jawab akademik.

Cara membuat sebuah karya mungkin berubah.

Tetapi tuntutan mengenai kejujuran, pertanggungjawaban dan penghormatan terhadap karya orang lain tetap berlaku.

KPK Juga Menyoroti Integritas Pendidikan

Persoalan integritas pendidikan mempunyai dimensi yang lebih luas daripada plagiarisme.

KPK melalui Survei Penilaian Integritas Pendidikan sebelumnya menemukan berbagai persoalan dalam ekosistem pendidikan, termasuk kecurangan akademik, gratifikasi dan sejumlah masalah tata kelola.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan antikorupsi tidak cukup diajarkan melalui mata kuliah.

Integritas harus terlihat dalam praktik kehidupan kampus.

Mahasiswa yang sejak kuliah terbiasa menganggap kecurangan sebagai sesuatu yang normal berisiko membawa budaya tersebut ketika memasuki dunia profesional.

Karena itu kampus mempunyai peran strategis membangun kebiasaan jujur sejak ruang kelas.

Reza: Jangan Mengejar Nilai dengan Mengorbankan Integritas

Reza menilai tekanan mendapatkan nilai tinggi tidak boleh menjadi alasan melakukan kecurangan.

“Nilai akademik penting, tetapi integritas jauh lebih panjang umurnya daripada angka di transkrip. Kita tidak boleh menghasilkan lulusan yang terlihat pintar di atas kertas tetapi terbiasa mencari jalan pintas dengan cara yang tidak jujur,” ujar Reza.

Menurut Satuan Mahasiswa ETH, budaya akademik yang sehat juga membutuhkan sistem pendidikan yang adil.

Dosen perlu memberikan tugas yang mempunyai tujuan jelas.

Mahasiswa perlu memperoleh akses pembelajaran yang memadai.

Sementara mekanisme pemeriksaan pelanggaran harus dilaksanakan secara objektif dan memberi ruang klarifikasi.

Kampus Jangan Hanya Mengandalkan Detektor AI

Satuan Mahasiswa ETH menilai teknologi pendeteksi AI atau plagiarisme dapat membantu, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya dasar penilaian.

Sistem otomatis juga mempunyai keterbatasan.

Karena itu, perguruan tinggi dapat memperkuat metode penilaian yang menilai proses, bukan hanya produk akhir.

Mahasiswa dapat diminta menjelaskan metode penelitian.

Mempertahankan argumentasi secara lisan.

Menunjukkan data mentah.

Mencatat proses pengerjaan.

Menjelaskan sumber.

Atau mempresentasikan bagaimana sebuah kesimpulan diperoleh.

Dengan cara tersebut, mahasiswa tidak cukup hanya menyerahkan dokumen.

Mahasiswa harus menunjukkan bahwa ia memahami karya tersebut.

Lima Agenda Integritas Akademik

Sebagai analisis organisasi, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong lima agenda: pendidikan integritas akademik sejak mahasiswa baru; pedoman penggunaan AI yang jelas; kewajiban transparansi penggunaan AI dalam karya akademik sesuai aturan kampus; mekanisme pemeriksaan dugaan pelanggaran yang adil dan berbasis bukti; serta penguatan metode penilaian yang menguji kemampuan berpikir mahasiswa.

Lima agenda tersebut merupakan pandangan organisasi, bukan kebijakan resmi pemerintah.

Tujuannya bukan membuat mahasiswa takut menggunakan teknologi.

Tujuannya adalah memastikan teknologi memperkuat pendidikan tanpa merusak kejujuran akademik.

Mahasiswa Juga Harus Berani Mengoreksi Budaya Curang

Integritas kampus tidak hanya menjadi tanggung jawab rektor atau dosen.

Mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang sama.

Budaya berbagi jawaban ujian.

Membayar orang mengerjakan tugas.

Memalsukan data penelitian.

Mengubah hasil eksperimen.

Mengambil karya orang lain tanpa atribusi.

Atau menyerahkan karya yang tidak dipahami sendiri tidak seharusnya dinormalisasi.

Gerakan mahasiswa yang berbicara mengenai keadilan dan antikorupsi juga harus berani menjaga integritas di lingkungan akademiknya sendiri.

Dari Hambalang untuk Mahasiswa Indonesia

Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong perguruan tinggi Indonesia tidak melihat AI hanya dari sisi kecanggihan teknologi.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

manusia seperti apa yang ingin dihasilkan oleh pendidikan tinggi?

Reza Prasatria Dharma menegaskan:

“Teknologi akan terus berubah. AI akan semakin canggih. Tetapi mahasiswa Indonesia harus mempertahankan sesuatu yang tidak boleh berubah: keberanian berpikir sendiri, kejujuran dalam berkarya dan tanggung jawab atas ilmu yang kita hasilkan.”

Bagi Satuan Mahasiswa ETH, kampus yang maju bukan hanya kampus yang cepat mengadopsi teknologi.

Kampus yang maju adalah kampus yang mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan integritas.

banner 336x280