EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Kampus Masuk Era AI, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang: Teknologi Jangan Menggantikan Daya Kritis Mahasiswa

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Reza Prasatria Dharma Dorong Perguruan Tinggi Menyiapkan Generasi yang Menguasai AI, Menjaga Integritas Akademik, dan Tetap Berani Berpikir Mandiri HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 2 September 2026 Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin masuk ke jantung pendidikan tinggi Indonesia....

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Reza Prasatria Dharma Dorong Perguruan Tinggi Menyiapkan Generasi yang Menguasai AI, Menjaga Integritas Akademik, dan Tetap Berani Berpikir Mandiri

HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 2 September 2026

Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin masuk ke jantung pendidikan tinggi Indonesia. Pemerintah tidak lagi membicarakan AI hanya sebagai teknologi masa depan, tetapi mulai menempatkannya sebagai bagian dari transformasi pembelajaran, pengelolaan data, penelitian, dan pengembangan kompetensi mahasiswa.

banner 468x60

Pemerintah pada Maret 2026 telah menerbitkan pedoman nasional melalui SKB tujuh menteri tentang pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta AI pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pedoman tersebut diarahkan agar teknologi digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.

Perkembangan itu semakin relevan setelah Kemdiktisaintek pada 1 September 2026 kembali menempatkan AI, keamanan siber, integrasi data dan kualitas layanan digital sebagai bagian penting transformasi pendidikan tinggi.

Bagi Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, perubahan tersebut harus disambut dengan kesiapan, tetapi juga dengan sikap kritis.

Mahasiswa harus menguasai AI tanpa menyerahkan kemampuan berpikirnya kepada AI.

Pemerintah: AI Jangan Menggantikan Proses Berpikir

Kekhawatiran tersebut juga telah disampaikan pemerintah.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria pada 7 Agustus 2026 meminta perguruan tinggi tidak menjadikan generative AI sebagai pengganti proses berpikir mahasiswa.

Menurut Komdigi, AI seharusnya menjadi mitra pembelajaran yang tetap mengutamakan berpikir kritis, etika dan integritas akademik.

Persoalannya menjadi semakin kompleks karena AI generatif kini dapat membuat teks, gambar, audio, video, program komputer, rangkuman, hingga membantu analisis dalam hitungan detik.

Kemampuan tersebut membuka peluang besar.

Tetapi ia juga menciptakan pertanyaan baru bagi pendidikan tinggi.

Ketika Tugas Bisa Dibuat Mesin, Apa Arti Belajar?

Satuan Mahasiswa ETH menilai salah satu tantangan terbesar perguruan tinggi adalah memastikan mahasiswa tidak berubah menjadi sekadar operator AI.

Jika tugas diberikan dosen, lalu mahasiswa memasukkan pertanyaan ke AI dan menyerahkan jawabannya tanpa membaca, memeriksa, atau memahaminya, proses pendidikan kehilangan sebagian tujuan dasarnya.

Perguruan tinggi bukan hanya tempat menghasilkan jawaban.

Kampus adalah tempat mahasiswa belajar bertanya, meragukan, memeriksa bukti, menyusun argumentasi dan mempertanggungjawabkan kesimpulan.

Kemampuan tersebut justru semakin penting ketika mesin mampu menghasilkan jawaban yang terlihat sangat meyakinkan.

Reza: Jangan Serahkan Pikiran kepada Mesin

Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, mendorong mahasiswa memanfaatkan AI secara produktif tanpa kehilangan kemandirian intelektual.

“Mahasiswa harus menguasai AI, tetapi jangan menyerahkan kemampuan berpikir kita kepada mesin. Teknologi boleh membantu mencari informasi dan meningkatkan produktivitas, tetapi mahasiswa tetap harus membaca, memeriksa fakta, membangun argumentasi dan bertanggung jawab atas karya yang dibuatnya,” kata Reza Prasatria Dharma.

Menurut Reza, kemampuan menggunakan AI akan menjadi semakin penting dalam dunia akademik maupun pekerjaan.

Namun kemampuan tersebut harus berjalan bersama integritas.

Mahasiswa harus mampu membedakan antara menggunakan teknologi sebagai alat bantu dan menyerahkan seluruh pekerjaan intelektual kepada teknologi.

Ancaman Hoaks dan Deepfake

Persoalan AI tidak berhenti pada tugas kuliah.

Komdigi pada Agustus 2026 juga mengingatkan generasi muda mengenai meningkatnya hoaks, penipuan digital dan manipulasi konten berbasis AI yang semakin sulit dikenali. Pemerintah mendorong pelajar tidak hanya menjadi pengguna internet, tetapi ikut membentuk ruang digital yang aman dan bertanggung jawab.

Kemampuan membuat foto, suara dan video sintetis yang semakin realistis membuat mahasiswa membutuhkan keterampilan verifikasi yang lebih tinggi.

Melihat video tidak lagi otomatis berarti peristiwa tersebut benar-benar terjadi.

Mendengar rekaman suara tidak selalu membuktikan orang tersebut benar-benar mengucapkannya.

Karena itu, mahasiswa harus semakin terbiasa memeriksa sumber asli, konteks, tanggal, dokumen primer dan konfirmasi dari pihak terkait.

Kampus Perlu Mengubah Cara Mengajar

Satuan Mahasiswa ETH memandang kehadiran AI juga menuntut perubahan metode pendidikan.

Melarang seluruh penggunaan AI bukan jawaban yang memadai.

Sebaliknya, membiarkan penggunaannya tanpa aturan juga berisiko merusak integritas akademik.

Perguruan tinggi perlu menjelaskan kapan AI boleh digunakan, bagaimana penggunaannya harus diungkapkan, serta batas yang dapat dikategorikan sebagai pelanggaran akademik.

Penilaian mahasiswa juga dapat diarahkan lebih banyak pada proses berpikir.

Presentasi lisan.

Diskusi.

Analisis kasus.

Proyek lapangan.

Eksperimen.

Pembuktian sumber.

Dan kemampuan mempertahankan argumentasi.

Dengan demikian, mahasiswa tidak cukup hanya menyerahkan sebuah jawaban.

Mahasiswa harus mampu menjelaskan mengapa jawaban tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

Lima Agenda Mahasiswa Menghadapi AI

Sebagai analisis organisasi, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mengusulkan lima agenda: literasi AI untuk seluruh jurusan; pendidikan verifikasi fakta dan anti-deepfake; pedoman penggunaan AI dalam tugas dan penelitian; perlindungan data mahasiswa; serta pengembangan inovasi AI buatan mahasiswa untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.

Kelima agenda tersebut merupakan pandangan organisasi, bukan kebijakan pemerintah.

Satuan Mahasiswa ETH menilai literasi AI juga tidak boleh menjadi monopoli mahasiswa informatika.

Mahasiswa hukum perlu memahami persoalan regulasi dan bukti digital.

Mahasiswa ekonomi menghadapi otomatisasi dan analisis data.

Mahasiswa komunikasi menghadapi disinformasi dan konten sintetis.

Mahasiswa kesehatan akan bersentuhan dengan AI medis.

Mahasiswa pertanian dapat menggunakan AI untuk analisis tanaman dan produktivitas.

Hampir semua bidang akan bersentuhan dengan teknologi ini.

Mahasiswa Harus Bergerak dari Pengguna Menjadi Pencipta

Reza menilai generasi muda Indonesia juga perlu bergerak lebih jauh daripada sekadar menggunakan produk AI buatan pihak lain.

“Kalau jutaan mahasiswa Indonesia hanya menjadi pengguna teknologi, kita akan terus bergantung kepada teknologi yang diciptakan orang lain. Kampus harus menjadi tempat mahasiswa mulai membangun aplikasi, riset dan inovasi yang menjawab persoalan Indonesia,” ujar Reza.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional.

AI dapat digunakan untuk membantu pertanian, pendidikan, pelayanan publik, kesehatan, mitigasi bencana, UMKM, transportasi hingga pengelolaan lingkungan.

Tetapi teknologi yang baik harus dibangun berdasarkan kebutuhan manusia.

AI Tidak Boleh Menghilangkan Integritas Akademik

Satuan Mahasiswa ETH juga mengingatkan bahwa kemudahan teknologi tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan plagiarisme atau manipulasi akademik.

Mahasiswa tetap bertanggung jawab atas karya yang mencantumkan namanya.

Jika AI menghasilkan referensi palsu, data keliru atau kesimpulan yang tidak mempunyai dasar, mahasiswa tidak dapat begitu saja melepaskan tanggung jawab dengan mengatakan bahwa kesalahan berasal dari mesin.

Nama mahasiswa berada pada karya tersebut. Tanggung jawab juga berada pada mahasiswa.

Dari Hambalang untuk Mahasiswa Indonesia

Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang menyerukan agar mahasiswa Indonesia tidak takut menghadapi perkembangan AI.

Namun mahasiswa juga tidak boleh terlena oleh kemudahannya.

Reza Prasatria Dharma menegaskan:

“Gunakan AI untuk membuat kita bekerja lebih baik, bukan berhenti berpikir. Generasi mahasiswa Indonesia harus menjadi generasi yang menguasai teknologi, menjaga integritas, dan tetap mempunyai keberanian untuk berpikir sendiri.”

AI mungkin dapat menghasilkan jawaban dalam hitungan detik.

Tetapi pendidikan tinggi mempunyai tujuan yang jauh lebih besar daripada menghasilkan jawaban.

Pendidikan harus menghasilkan manusia yang mampu menentukan apakah sebuah jawaban benar, adil, bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan.

banner 336x280