EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Karhutla dan Kekeringan Masih Dominasi Bencana, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang: Kampus Harus Turun Tangan Jaga Lingkungan

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

Reza Prasatria Dharma Dorong Mahasiswa Mengubah Kepedulian Lingkungan Menjadi Riset, Edukasi, Teknologi, dan Pengabdian Nyata HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 2 September 2026 Kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan masih menjadi ancaman nyata di tengah musim kemarau. Laporan terbaru Badan Nasional...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

Reza Prasatria Dharma Dorong Mahasiswa Mengubah Kepedulian Lingkungan Menjadi Riset, Edukasi, Teknologi, dan Pengabdian Nyata

HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 2 September 2026

Kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan masih menjadi ancaman nyata di tengah musim kemarau. Laporan terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diterbitkan 1 September 2026 menyebut kejadian bencana yang dilaporkan hingga pukul 07.00 WIB masih didominasi karhutla dan kekeringan.

banner 468x60

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan tidak berhenti ketika Agustus berakhir.

Di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, kebakaran di Desa Latimojong, Kecamatan Buntu Batu, menghanguskan sekitar 7 hektare lahan sebelum berhasil dipadamkan pada 31 Agustus. Jalur pendakian masih ditutup sementara sebagai langkah antisipasi.

Sementara itu, karhutla di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada 31 Agustus berdampak pada sekitar 11,1 hektare lahan. BNPB melaporkan api berhasil dikendalikan pada hari yang sama dan tidak terdapat korban jiwa.

Bagi Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, perkembangan tersebut harus menjadi perhatian mahasiswa dan perguruan tinggi karena persoalan lingkungan berkaitan langsung dengan kehidupan generasi muda.

Kekeringan Mulai Menyentuh Kebutuhan Air

Ancaman kemarau bukan hanya persoalan kebakaran.

Di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, kekeringan mengurangi ketersediaan air bersih bagi masyarakat Desa Ujung Loe. BNPB mencatat kondisi itu berdampak pada 18 kepala keluarga atau 72 jiwa, sehingga BPBD menyalurkan satu tangki air bersih berkapasitas 5.000 liter.

Peristiwa tersebut menunjukkan dampak lingkungan dapat dengan cepat berubah menjadi persoalan kebutuhan dasar masyarakat.

Ketika sumber air berkurang, dampaknya dapat menjalar ke kesehatan, pertanian, aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial.

BMKG: Kondisi Kering Semakin Meluas

Peringatan mengenai risiko tersebut sejalan dengan analisis BMKG.

BMKG menyatakan sekitar 80 persen wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau pada akhir Agustus. Sedikitnya 15 laporan karhutla tercatat pada periode 25–27 Agustus di delapan provinsi.

Pemantauan satelit Himawari-9 pada 25 Agustus juga menunjukkan peningkatan hotspot berkepercayaan tinggi di beberapa wilayah Kalimantan. Di Kalimantan Tengah, misalnya, jumlahnya meningkat dari 113 menjadi 352 titik dalam data yang dibandingkan BMKG. ([BMKG][2])

Namun kondisi Indonesia tidak seragam. BMKG tetap memperingatkan kemungkinan hujan lokal, petir dan angin kencang di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Barat.

Artinya, masyarakat perlu menghadapi dua risiko sekaligus: kondisi kering yang meningkatkan potensi kebakaran serta cuaca lokal yang tetap dapat berubah cepat.

Reza: Mahasiswa Jangan Hanya Bicara Lingkungan

Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, mendorong mahasiswa menjadikan persoalan lingkungan sebagai ruang penerapan ilmu pengetahuan.

“Mahasiswa jangan hanya berbicara tentang lingkungan ketika terjadi bencana. Kampus mempunyai ilmu, penelitian, teknologi dan energi generasi muda. Semua itu harus mulai diarahkan untuk membantu mencegah persoalan sebelum dampaknya semakin besar,” kata Reza Prasatria Dharma.

Menurut Satuan Mahasiswa ETH, kontribusi mahasiswa tidak berarti mengambil alih pekerjaan petugas pemadam ataupun lembaga penanggulangan bencana.

Kekuatan mahasiswa berada pada pengetahuan, penelitian, inovasi, pendidikan masyarakat dan kontrol sosial.

Semua Jurusan Bisa Berkontribusi

Persoalan lingkungan bersifat multidisiplin.

Mahasiswa kehutanan dan pertanian dapat melakukan pemetaan kerentanan lahan serta edukasi pencegahan kebakaran.

Mahasiswa teknik dan informatika dapat mengembangkan sensor, pemetaan digital, drone, aplikasi pelaporan maupun analisis data.

Mahasiswa kesehatan dapat membantu edukasi mengenai risiko paparan asap.

Mahasiswa hukum dapat mengkaji regulasi serta penegakan hukum lingkungan.

Mahasiswa ekonomi dapat menghitung dampak kerusakan lingkungan terhadap masyarakat.

Sementara mahasiswa komunikasi dapat membantu mengubah data ilmiah menjadi informasi yang mudah dipahami publik.

Dengan demikian, persoalan lingkungan bukan hanya urusan mahasiswa dari fakultas tertentu.

Teknologi Bisa Membantu Pencegahan

Penggunaan teknologi membuka peluang besar bagi perguruan tinggi.

Data satelit, sistem informasi geografis, sensor kualitas udara, kecerdasan artifisial dan analisis data dapat digunakan untuk membantu membaca perubahan lingkungan.

Kampus dapat menjadi laboratorium pengembangan teknologi tersebut.

“Kita ingin mahasiswa bergerak dari sekadar mengatakan ‘selamatkan lingkungan’ menjadi mampu menunjukkan apa yang bisa dilakukan. Buat risetnya, petakan masalahnya, kembangkan teknologinya dan turun membantu masyarakat,” ujar Reza.

Satuan Mahasiswa ETH menilai pendekatan tersebut dapat membuat gerakan lingkungan mahasiswa lebih terukur dan berkelanjutan.

Lima Agenda Mahasiswa untuk Lingkungan

Sebagai analisis organisasi, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong lima agenda: membangun kelompok mahasiswa siaga lingkungan; memperkuat riset dan pemetaan risiko bencana; melakukan edukasi pencegahan karhutla dan penghematan air; mengembangkan teknologi pemantauan lingkungan; serta membangun kolaborasi antara mahasiswa, kampus, masyarakat dan pemerintah daerah.

Agenda tersebut bukan program pemerintah, melainkan gagasan Satuan Mahasiswa ETH untuk memperbesar kontribusi mahasiswa.

Prinsip utamanya adalah pencegahan lebih baik daripada menunggu bencana membesar.

Jangan Bakar Lahan dan Sampah Sembarangan

BNPB secara khusus mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, tidak membakar sampah sembarangan serta tidak membuang puntung rokok yang dapat memicu kebakaran.

Di wilayah terdampak asap, BNPB juga menganjurkan penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Sementara masyarakat di wilayah yang mengalami keterbatasan air diminta menggunakan air secara bijaksana.

BMKG memberikan imbauan serupa, termasuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla serta segera melaporkan indikasi titik api.

Dari Hambalang untuk Lingkungan Indonesia

Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong kampus menjadikan persoalan lingkungan sebagai salah satu agenda penting penelitian dan pengabdian masyarakat.

Reza menegaskan:

“Generasi muda akan mewarisi lingkungan yang kita jaga hari ini. Karena itu mahasiswa tidak cukup menjadi penonton. Kita harus menjadi generasi yang menggunakan ilmu untuk menjaga ruang hidup masyarakat dan masa depan Indonesia.”

Satuan Mahasiswa ETH memandang gerakan lingkungan mahasiswa harus tetap kritis terhadap kebijakan publik, tetapi kritik tersebut perlu berjalan bersama data, penelitian dan solusi.

Mahasiswa menjaga lingkungan bukan hanya dengan suara, tetapi dengan ilmu dan tindakan.

banner 336x280