Keong Emas Diolah Jadi Sumber Protein Pakan Ayam, Satuan Petani ETH: Inovasi Bahan Pakan Lokal Harus Diperkuat untuk Tekan Biaya Peternak
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 9 Oktober 2026. Organisme yang selama ini dikenal sebagai hama tanaman padi ternyata mempunyai peluang untuk diubah menjadi sumber bahan baku pakan ternak. Tim Universitas Nusa Cendana (Undana) mengembangkan pemanfaatan keong emas (Pomacea canaliculata)...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — 9 Oktober 2026. Organisme yang selama ini dikenal sebagai hama tanaman padi ternyata mempunyai peluang untuk diubah menjadi sumber bahan baku pakan ternak. Tim Universitas Nusa Cendana (Undana) mengembangkan pemanfaatan keong emas (Pomacea canaliculata) menjadi tepung sumber protein alternatif untuk pakan ayam bagi peternak skala rumah tangga di Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang inovasi tersebut menarik karena berpotensi menjawab dua persoalan sekaligus: membantu mengendalikan organisme yang merusak tanaman padi dan membuka alternatif bahan pakan bagi peternak unggas.
Namun inovasi lokal tersebut belum dapat otomatis dianggap sebagai solusi nasional. Pengembangannya perlu melalui pengujian mutu, keamanan, kontinuitas bahan baku serta perhitungan keekonomian sebelum direplikasi dalam skala luas.
Dari Hama Sawah Menjadi Bahan Pakan
Program Undana dilaksanakan di Desa Umbu Pabal Selatan, Kecamatan Umbu Ratunggay Barat, Kabupaten Sumba Tengah. Peternak mendapat pelatihan mengenai pengumpulan keong, pencucian, perebusan atau pengukusan, pemisahan daging dan cangkang, pengeringan hingga penggilingan menjadi tepung. Tepung tersebut kemudian digunakan sebagai salah satu komponen formulasi pakan ayam.
Program tersebut diarahkan kepada peternak ayam skala rumah tangga yang selama ini menghadapi tingginya biaya pakan komersial. Pada saat yang sama, keong emas tersedia di area persawahan dan saluran air serta dikenal sebagai organisme pengganggu tanaman padi.
Menurut Satuan Petani ETH, pendekatan tersebut memperlihatkan pentingnya melihat persoalan pertanian secara terintegrasi.
Apa yang menjadi masalah bagi petani padi berpotensi menjadi bahan baku bagi peternak apabila dapat diproses secara aman dan ekonomis.
Kandungan Protein Dilaporkan 50–56 Persen
Program Studi Peternakan Undana menyebut tepung keong emas yang digunakan dalam pelatihan memiliki protein kasar sekitar 50–56 persen dan energi sekitar 3.000 kkal per kilogram. Kandungan kalsiumnya juga disebut berpotensi mendukung kebutuhan mineral ternak unggas.
Tim memberikan contoh formulasi pakan 100 kilogram. Untuk fase grower, salah satu komposisi demonstrasi menggunakan sekitar 27 kilogram tepung keong, sedangkan untuk ayam petelur sekitar 22 kilogram. Angka tersebut merupakan formulasi yang digunakan dalam kegiatan Undana dan bukan standar nasional yang otomatis cocok untuk setiap jenis ayam atau kondisi usaha.
Satuan Petani ETH menilai perbedaan itu penting dijelaskan.
Peternak tidak seharusnya sekadar mengganti sebagian pakan dengan bahan alternatif tanpa memperhitungkan kebutuhan protein, energi, mineral, umur ternak serta keseimbangan nutrisi.
Keong Tidak Boleh Diberikan Mentah
Undana secara khusus mengingatkan bahwa keong emas tidak diberikan dalam kondisi mentah. Dalam pelatihan, proses pengolahan mencakup pemanasan, pemisahan cangkang, pengeringan dan penggilingan sebelum digunakan dalam ransum.
Bagi Satuan Petani Elang Tiga Hambalang, aspek keamanan harus menjadi syarat utama setiap inovasi pakan lokal.
Keinginan menekan biaya tidak boleh membuat peternak mengabaikan proses sanitasi, kualitas bahan, penyimpanan serta formulasi nutrisi.
Jika inovasi hendak diperluas, pemerintah dan perguruan tinggi perlu menyusun prosedur sederhana yang dapat diterapkan masyarakat secara konsisten.
Berpotensi Membantu Petani Padi Sekaligus Peternak
Keong emas dikenal merusak tanaman padi muda. Apabila pengumpulan dilakukan secara terorganisasi, pemanfaatannya sebagai bahan pakan berpotensi memberikan insentif ekonomi tambahan dalam pengendalian hama.
Satuan Petani ETH melihat peluang membangun model kelompok tani padi–koperasi–peternak unggas.
Petani membantu mengumpulkan organisme pengganggu dari persawahan. Unit pengolahan kelompok melakukan perebusan, pengeringan dan penepungan. Peternak kemudian memperoleh bahan baku lokal dengan mutu yang telah distandardisasi.
Dengan sistem semacam ini, sebuah masalah di sektor tanaman dapat menjadi input ekonomi bagi sektor peternakan.
Namun pengambilan keong tetap harus mengikuti prinsip pengendalian hama terpadu dan tidak mendorong pembudidayaan atau penyebaran keong emas ke area baru hanya karena mempunyai nilai ekonomi.
Bahan Lokal Bukan Berarti Harus Menggantikan Seluruh Pakan
Satuan Petani ETH menekankan bahwa pengembangan sumber protein alternatif sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari diversifikasi bahan baku pakan, bukan klaim bahwa satu bahan dapat menggantikan seluruh kebutuhan ransum.
Jagung, sumber protein, mineral, vitamin dan komponen lain tetap perlu diformulasikan sesuai kebutuhan ternak.
Keberhasilan inovasi harus diuji melalui indikator nyata: pertumbuhan ayam, produksi telur, kesehatan ternak, konversi pakan, tingkat kematian dan biaya produksi per kilogram hasil.
Dengan demikian, keputusan peternak didasarkan pada data, bukan sekadar tren.
Empat Usulan Satuan Petani Elang Tiga Hambalang
- Lakukan uji multilokasi bahan pakan keong emas. Kementerian Pertanian, perguruan tinggi dan lembaga riset dapat menguji formulasi pada ayam kampung, petelur maupun jenis unggas lainnya sebelum rekomendasi diperluas.
- Bangun standar pengolahan yang aman. Prosedur pengumpulan, perebusan, pengeringan, penepungan, penyimpanan dan pengujian mutu harus mudah diterapkan peternak rakyat.
- Hitung keekonomian secara terbuka. Harga pokok tepung keong perlu dibandingkan dengan bahan protein pakan lain, termasuk biaya tenaga kerja, bahan bakar, pengeringan dan transportasi.
- Integrasikan pengendalian hama dengan usaha peternakan. Sentra padi yang mempunyai populasi keong emas tinggi dapat diuji sebagai lokasi pengembangan unit pengolahan berbasis koperasi tanpa mendorong penyebaran hama ke wilayah baru.
Inovasi Lokal Bisa Menjadi Bagian dari Solusi Nasional
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung inovasi perguruan tinggi yang mampu menjawab persoalan nyata masyarakat.
Indonesia mempunyai keragaman sumber daya lokal yang besar. Apabila riset mampu mengubah limbah, hasil samping pertanian atau organisme pengganggu menjadi bahan produktif secara aman, maka ketergantungan terhadap input berbiaya tinggi dapat dikurangi secara bertahap.
Namun setiap inovasi harus melalui pembuktian ilmiah, perhitungan ekonomi dan standar keamanan.
Bagi Satuan Petani ETH, kemandirian pakan tidak berarti menggunakan bahan lokal dengan cara apa pun. Kemandirian pakan berarti memanfaatkan sumber daya Indonesia secara aman, efisien, terukur dan menguntungkan petani serta peternak.
Dengan pendekatan tersebut, keong emas dapat berubah dari sekadar hama sawah menjadi contoh bagaimana pertanian dan peternakan dapat saling menguatkan dalam satu ekosistem ketahanan pangan nasional.





