KKN Jangan Berakhir Saat Mahasiswa Pulang, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang Dorong Pengabdian Kampus Tinggalkan Dampak Nyata
Reza Prasatria Dharma: Mahasiswa Harus Datang Membawa Ilmu, Bekerja Bersama Masyarakat, dan Meninggalkan Program yang Bisa Dilanjutkan HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR β 2 September 2026 Pengabdian mahasiswa kepada masyarakat kembali menjadi perhatian setelah KKN Tematik Generasi NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Reza Prasatria Dharma: Mahasiswa Harus Datang Membawa Ilmu, Bekerja Bersama Masyarakat, dan Meninggalkan Program yang Bisa Dilanjutkan
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR β 2 September 2026
Pengabdian mahasiswa kepada masyarakat kembali menjadi perhatian setelah KKN Tematik Generasi NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif (Gentaskin) Batch 2 menyelesaikan sekitar dua bulan kegiatan di desa-desa sasaran di Nusa Tenggara Timur.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui publikasi LLDIKTI Wilayah XV pada 2 September 2026 melaporkan penarikan mahasiswa dilaksanakan di Kampus Institut Pendidikan Soe pada 31 Agustus 2026. Kegiatan itu sekaligus menjadi momentum evaluasi program yang telah dijalankan mahasiswa bersama masyarakat.
Bagi Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, momentum tersebut mengangkat pertanyaan yang lebih besar mengenai model pengabdian mahasiswa di Indonesia:
Apa yang tertinggal di masyarakat setelah mahasiswa KKN kembali ke kampus?
KKN Harus Lebih dari Program Seremonial
KKN merupakan salah satu ruang penting yang mempertemukan mahasiswa dengan persoalan masyarakat secara langsung.
Di desa, mahasiswa dapat menemukan persoalan yang mungkin tidak terlihat dari ruang kuliah: pendidikan, kesehatan, ekonomi keluarga, UMKM, lingkungan, teknologi, administrasi hingga akses informasi.
Karena itu, Satuan Mahasiswa ETH memandang KKN seharusnya tidak hanya dinilai dari jumlah kegiatan yang dilaksanakan.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah kegiatan tersebut relevan, dapat diterapkan dan mempunyai kemungkinan berlanjut setelah mahasiswa meninggalkan lokasi.
Program Gentaskin Dorong Keberlanjutan
Publikasi resmi Kemdiktisaintek menyebut KKN Tematik Gentaskin Batch 2 berlangsung sekitar dua bulan.
Kepala LLDIKTI Wilayah XV Adrianus Amheka menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa, dosen pembimbing, pemerintah daerah dan masyarakat yang terlibat. Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan kolaborasi setelah program selesai.
Hal tersebut relevan dengan tantangan pengabdian mahasiswa secara umum.
Program yang baik tidak semestinya hilang bersamaan dengan berakhirnya masa KKN.
Reza: Jangan Datang, Buat Acara, Lalu Pulang
Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, mendorong perubahan cara melihat pengabdian mahasiswa.
βKKN jangan sekadar membuat mahasiswa datang, membuat kegiatan, mengambil dokumentasi, lalu pulang. Mahasiswa harus datang membawa ilmu, bekerja bersama masyarakat, dan sebisa mungkin meninggalkan sesuatu yang dapat diteruskan setelah program berakhir,β kata Reza Prasatria Dharma.
Menurut Reza, keberlanjutan tidak selalu membutuhkan proyek besar.
Sebuah sistem administrasi desa yang lebih sederhana, pelatihan pemasaran UMKM, modul pendidikan anak, pemetaan persoalan lingkungan atau peningkatan keterampilan digital dapat mempunyai nilai apabila benar-benar dibutuhkan masyarakat dan dapat dilanjutkan.
Masyarakat Bukan Objek
Satuan Mahasiswa ETH menilai salah satu prinsip terpenting pengabdian adalah menempatkan masyarakat sebagai mitra, bukan objek program.
Mahasiswa membawa pengetahuan akademik.
Namun masyarakat memiliki pengalaman mengenai kondisi daerahnya sendiri.
Karena itu program sebaiknya dibangun setelah mendengar kebutuhan warga, pemerintah desa dan kelompok masyarakat.
Pendekatan ini juga mencegah mahasiswa datang dengan program yang terlihat menarik di atas kertas tetapi tidak sesuai kebutuhan lapangan.
Kampus Bisa Membentuk KKN Berbasis Masalah
Sebagai analisis organisasi, Satuan Mahasiswa ETH mendorong kampus memperkuat KKN berbasis persoalan nyata.
Mahasiswa lintas jurusan dapat ditempatkan dalam satu tim.
Mahasiswa kesehatan menangani edukasi kesehatan.
Mahasiswa pertanian membantu produktivitas dan pascapanen.
Mahasiswa ekonomi mendampingi UMKM.
Mahasiswa informatika membantu digitalisasi.
Mahasiswa hukum memberikan literasi hukum.
Mahasiswa komunikasi membantu promosi potensi daerah.
Dengan pola tersebut, satu persoalan dapat dilihat dari beberapa disiplin ilmu sekaligus.
KKN Bisa Menjadi Laboratorium Sosial Mahasiswa
Pengabdian masyarakat juga memberikan manfaat besar bagi mahasiswa.
Di lapangan, mahasiswa belajar bahwa persoalan masyarakat sering tidak mempunyai jawaban sederhana.
Sebuah masalah ekonomi dapat berkaitan dengan pendidikan.
Masalah kesehatan dapat berkaitan dengan sanitasi dan pendapatan.
Masalah lingkungan dapat berkaitan dengan kebiasaan, teknologi dan kebijakan.
Kemampuan membaca keterkaitan tersebut merupakan pendidikan yang sulit diperoleh hanya melalui buku.
Reza: Ukur Dampaknya, Bukan Hanya Jumlah Kegiatan
Reza mendorong kampus mulai mengukur hasil pengabdian secara lebih konkret.
βKalau mahasiswa membuat pelatihan UMKM, lihat apakah usaha masyarakat benar-benar terbantu. Kalau membuat program lingkungan, lihat apakah masyarakat dapat meneruskannya. Kita perlu mulai mengukur dampak, bukan hanya menghitung berapa kegiatan yang sudah dilaksanakan,β ujar Reza.
Satuan Mahasiswa ETH menilai dokumentasi tetap diperlukan sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Namun laporan sebaiknya tidak berhenti pada foto kegiatan dan jumlah peserta.
Perguruan tinggi dapat mengevaluasi perubahan yang dihasilkan.
Lima Agenda Pengabdian Mahasiswa Berdampak
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mengusulkan lima prinsip penguatan pengabdian mahasiswa: memetakan kebutuhan masyarakat sebelum program dimulai; membentuk tim lintas disiplin; menetapkan indikator hasil yang dapat diukur; menyerahkan pengetahuan dan sistem kepada masyarakat agar dapat diteruskan; serta melakukan evaluasi setelah mahasiswa meninggalkan lokasi.
Kelima poin tersebut merupakan analisis dan usulan organisasi, bukan kebijakan pemerintah.
Tujuannya sederhana:
KKN selesai, tetapi manfaatnya jangan ikut selesai.
Pengabdian dan Masa Depan Pendidikan Tinggi
Agenda tersebut juga berkaitan dengan arah pendidikan tinggi yang semakin menekankan dampak ilmu pengetahuan terhadap masyarakat.
Kampus tidak hanya mempunyai fungsi pendidikan.
Perguruan tinggi juga menjalankan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Karena itu, mahasiswa seharusnya memperoleh pengalaman bagaimana pengetahuan akademik diterjemahkan menjadi solusi nyata.
Pengabdian bahkan dapat menjadi awal penelitian baru.
Persoalan yang ditemukan mahasiswa di lapangan dapat dibawa kembali ke kampus, diteliti, kemudian hasil penelitiannya dikembalikan kepada masyarakat.
Terbentuklah siklus:
masalah masyarakat β penelitian kampus β inovasi β penerapan β evaluasi.
Dari Hambalang untuk Mahasiswa Indonesia
Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong mahasiswa Indonesia memandang KKN dan pengabdian masyarakat bukan sekadar kewajiban akademik.
Ia merupakan kesempatan memahami Indonesia dari dekat.
Desa bukan laboratorium percobaan mahasiswa.
Masyarakat bukan objek laporan.
Dan pengabdian bukan sekadar dokumentasi.
Reza Prasatria Dharma menegaskan:
βIlmu akan mempunyai nilai lebih besar ketika mampu menjawab kebutuhan manusia. Mahasiswa harus kembali dari masyarakat bukan hanya membawa laporan KKN, tetapi juga membawa pemahaman baru tentang persoalan rakyat dan tanggung jawab kita sebagai kaum terdidik.β





