EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terbaru, Berita Terkini, Global

Pasar Malaysia Terbuka, tapi Nelayan Temajuk Masih Terkendala BBM dan Es

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

HAMBALANG, 16 September 2026 — Potensi perikanan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, kembali mendapat sorotan setelah pemerintah daerah mendorong Malaysia menjadi salah satu pasar utama produk perikanan dari wilayah tersebut. Namun di balik peluang pasar lintas negara itu, nelayan di Temajuk...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

HAMBALANG, 16 September 2026 — Potensi perikanan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, kembali mendapat sorotan setelah pemerintah daerah mendorong Malaysia menjadi salah satu pasar utama produk perikanan dari wilayah tersebut. Namun di balik peluang pasar lintas negara itu, nelayan di Temajuk masih menghadapi persoalan mendasar: belum tersedia SPBU khusus nelayan dan belum ada pabrik es di wilayah mereka.

Inilah ironi yang tidak boleh diabaikan.

banner 468x60

Pasar ekspor bisa terbuka. Ikan bernilai tinggi tersedia. Jalur perdagangan lintas batas berpotensi berkembang.

Tetapi bila nelayan masih kesulitan memperoleh bahan bakar dan es untuk menjaga mutu ikan, maka kesempatan besar tersebut berisiko tidak sepenuhnya dinikmati oleh mereka yang setiap hari turun ke laut.

PRODUKSI IKAN LEBIH DARI 11 RIBU TON SETAHUN

Data yang disampaikan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sambas menunjukkan produksi perikanan tangkap yang tercatat melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara Pemangkat rutin melampaui 11.000 ton per tahun. Komoditas yang dihasilkan antara lain tongkol, tenggiri, bawal, kakap merah, kerapu, lobster hingga gurita.

Wilayah Sambas juga memiliki garis pantai sekitar 198,76 kilometer, berbatasan dengan Laut Natuna dan Sarawak, Malaysia. Posisi ini menjadikan kawasan pesisir Sambas strategis untuk kegiatan penangkapan sekaligus perdagangan hasil laut.

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai besarnya produksi tersebut harus diikuti dengan penguatan posisi ekonomi nelayan.

Jangan sampai volume produksi besar, pasar ekspor terbuka, tetapi nelayan tetap berada pada mata rantai paling lemah.

UBUR-UBUR BISA HASILKAN RATUSAN JUTA, POTENSI LAUTNYA BESAR

Salah satu komoditas menarik di Temajuk adalah ubur-ubur.

Menurut keterangan Dinas Perikanan dan Kelautan Sambas, satu pengumpul atau kilang dapat menghasilkan sekitar 40–60 ton ubur-ubur dalam satu musim, dengan omzet diperkirakan mencapai Rp600 juta–Rp700 juta. Produk tersebut dipasarkan ke Pulau Jawa, Malaysia, hingga Taiwan, dengan kisaran harga Rp20 ribu–Rp25 ribu per kilogram. ([Antara News Kalbar][1])

Angka tersebut menunjukkan bahwa laut di kawasan perbatasan memiliki nilai ekonomi yang sangat besar.

Tetapi pertanyaan yang perlu terus dijawab adalah:

Berapa besar nilai ekonomi itu benar-benar kembali kepada nelayan?

Siapa yang paling besar menikmati margin?

Nelayan, pengumpul, pengolah, atau pedagang di hilir?

Transparansi rantai harga menjadi penting agar nelayan mengetahui nilai sesungguhnya dari hasil tangkapan mereka.

BELUM ADA SPBU NELAYAN: BBM MASIH JADI TITIK LEMAH

Di tengah potensi perikanan tersebut, nelayan Temajuk disebut belum mempunyai SPBU khusus nelayan.

Pasokan bahan bakar masih bergantung pada SPBU Tanah Hitam yang menjadi satu-satunya fasilitas pengisian BBM di Kecamatan Paloh.

Bagi nelayan, BBM bukan sekadar komponen biaya.

BBM menentukan apakah kapal bisa berangkat atau tidak.

Jarak mendapatkan bahan bakar, ketersediaan stok, serta harga yang harus dibayar langsung memengaruhi biaya operasi dan keuntungan nelayan.

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang memandang peningkatan pasar hasil perikanan harus berjalan seiring dengan perbaikan akses energi bagi nelayan.

Pasar ekspor tidak banyak berarti jika ongkos melaut justru semakin berat.

PABRIK ES BELUM ADA, MUTU IKAN JADI TARUHAN

Masalah lain adalah ketersediaan es.

Temajuk disebut belum memiliki pabrik es. Nelayan masih mengandalkan es rumah tangga dan harus mengambil pasokan dari Tanah Hitam ketika membutuhkan jumlah yang lebih besar. ([Antara News Kalbar][1])

Ini persoalan serius.

Ikan adalah produk yang sangat bergantung pada rantai dingin.

Semakin lama hasil tangkapan tidak mendapat penanganan yang baik, kualitas ikan dapat menurun dan nilai jualnya ikut tertekan.

Artinya, nelayan dapat melakukan seluruh kerja berat di laut tetapi kehilangan sebagian nilai hasil tangkapannya karena fasilitas dasar di darat tidak tersedia.

Nelayan tidak cukup hanya diberi akses ke laut. Mereka juga membutuhkan infrastruktur setelah ikan tiba di dermaga.

PASAR MALAYSIA HARUS MENINGKATKAN NILAI JUAL NELAYAN

Pemerintah Kabupaten Sambas menyebut pembukaan kembali perlintasan Temajuk–Telok Melano berpotensi memperpendek jalur pemasaran dan membuka peluang perdagangan yang lebih luas ke Malaysia.

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang melihat peluang tersebut perlu diterjemahkan menjadi manfaat yang dapat diukur di tingkat nelayan.

Bukan hanya berapa banyak ikan yang dikirim keluar.

Tetapi:

Apakah harga di tingkat nelayan meningkat?

Apakah nelayan mendapatkan pembeli lebih banyak?

Apakah ketergantungan pada satu atau dua pengepul berkurang?

Apakah biaya distribusi menjadi lebih rendah?

Dan yang paling penting:

Apakah pendapatan keluarga nelayan benar-benar naik?

SATUAN NELAYAN ETH: BANGUN EKONOMI LAUT DARI KEBUTUHAN DASAR

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai pengembangan ekonomi perikanan harus dimulai dari kebutuhan yang paling dekat dengan kehidupan nelayan.

BBM yang mudah dijangkau.

Pabrik es.

Cold storage.

Dermaga yang layak.

Akses pasar.

Informasi harga.

Modal usaha.

Tanpa fondasi tersebut, nelayan berisiko tetap menjadi pemasok bahan mentah sementara nilai tambah terbesar dinikmati di bagian hilir.

Peluang ekspor harus menjadi jalan menuju peningkatan kesejahteraan nelayan, bukan sekadar menambah angka perdagangan.

LAUT KAYA, INFRASTRUKTUR NELAYAN JANGAN TERTINGGAL

Kasus Temajuk mencerminkan persoalan yang relevan bagi banyak daerah pesisir Indonesia.

Potensi laut besar.

Ikan tersedia.

Pasar ada.

Tetapi infrastruktur dasar sering kali belum mengikuti.

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang akan terus mendorong perhatian publik terhadap persoalan BBM nelayan, rantai dingin, akses pasar, harga ikan dan pembagian nilai ekonomi yang lebih transparan dalam rantai perikanan.

Jangan bangga hanya karena ikan Indonesia laku di luar negeri.

Yang harus menjadi perhatian adalah apakah nelayan yang menangkap ikan itu juga semakin sejahtera.

SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG
“KUAT BERSAMA, TANGGUH DI LAUT”

Hambalang, 16 September 2026

banner 336x280