Pengangguran Nasional 4,65 Persen, Jawa Barat Masih 6,61 Persen: Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang Soroti Masa Depan Kerja Generasi Muda
Reza Prasatria Dharma: Kampus Jangan Hanya Mengantarkan Mahasiswa ke Wisuda, tetapi Juga Membekali Mereka Menghadapi Dunia Kerja HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 2 September 2026 Persoalan lapangan kerja kembali menjadi perhatian penting bagi mahasiswa dan generasi muda Indonesia. Data ketenagakerjaan terbaru...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Reza Prasatria Dharma: Kampus Jangan Hanya Mengantarkan Mahasiswa ke Wisuda, tetapi Juga Membekali Mereka Menghadapi Dunia Kerja
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 2 September 2026
Persoalan lapangan kerja kembali menjadi perhatian penting bagi mahasiswa dan generasi muda Indonesia. Data ketenagakerjaan terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional pada Mei 2026 sebesar 4,65 persen, turun tipis 0,03 poin persentase dibanding Februari 2026.
Jumlah angkatan kerja nasional mencapai 155,41 juta orang, sementara penduduk yang bekerja sebanyak 148,19 juta orang. BPS juga mencatat rata-rata upah buruh pada Mei 2026 sebesar Rp3,39 juta per bulan
Namun bagi Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, angka nasional tersebut perlu dibaca bersama kondisi daerah.
Di Jawa Barat, tempat Hambalang, Kabupaten Bogor berada, TPT Mei 2026 tercatat 6,61 persen. Angka tersebut memang turun tipis dari 6,64 persen pada Februari, tetapi masih lebih tinggi daripada tingkat pengangguran nasional.
Jawa Barat: 27,10 Juta Orang Masuk Angkatan Kerja
BPS Jawa Barat mencatat angkatan kerja provinsi tersebut pada Mei 2026 mencapai 27,10 juta orang. Sebanyak 25,31 juta orang tercatat bekerja.
Sektor perdagangan besar dan eceran menjadi lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbesar di Jawa Barat, mencapai sekitar 5,50 juta orang atau 21,71 persen dari penduduk yang bekerja.
Persoalan kualitas pekerjaan juga perlu diperhatikan. Hanya sekitar 44,01 persen pekerja Jawa Barat yang tercatat bekerja dalam kegiatan formal. Tingkat setengah pengangguran bahkan meningkat dari 7,48 persen pada Februari menjadi 7,88 persen pada Mei 2026.
Artinya, persoalan ketenagakerjaan tidak cukup dinilai hanya dari apakah seseorang mempunyai pekerjaan.
Kualitas, stabilitas, produktivitas, pendapatan dan kesesuaian pekerjaan dengan kompetensi juga penting.
Reza: Wisuda Bukan Garis Akhir
Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius dunia pendidikan tinggi.
“Kampus jangan hanya mengantarkan mahasiswa sampai wisuda. Pendidikan tinggi juga harus membekali mahasiswa dengan kompetensi, pengalaman, kemampuan beradaptasi dan keberanian menciptakan peluang ketika memasuki dunia kerja,” kata Reza Prasatria Dharma.
Menurut Reza, gelar akademik tetap mempunyai nilai penting. Namun perubahan teknologi, pola bisnis dan kebutuhan industri membuat mahasiswa perlu mempunyai kemampuan yang dapat dibuktikan selain ijazah.
Mahasiswa perlu membangun portofolio, pengalaman organisasi, kemampuan digital, komunikasi, bahasa, jejaring profesional, pengalaman magang serta keterampilan sesuai bidang masing-masing.
Ada Pekerjaan, tetapi Apakah Berkualitas?
Data nasional menunjukkan jumlah penduduk bekerja meningkat sekitar 522 ribu orang dibanding Februari 2026. Pertanian, kehutanan dan perikanan masih menjadi kelompok lapangan usaha terbesar dengan sekitar 42,60 juta pekerja atau 28,75 persen.
Perkembangan tersebut positif dari sisi penyerapan tenaga kerja.
Namun Satuan Mahasiswa ETH menilai diskusi publik perlu bergerak lebih jauh dari sekadar jumlah pekerjaan.
Pertanyaannya juga harus mencakup: apakah pekerjaan tersebut memberikan penghasilan yang layak, mempunyai perlindungan kerja, memungkinkan peningkatan keterampilan dan memberikan kesempatan berkembang?
Bagi generasi muda, pertanyaan lain bahkan lebih mendasar:
Apakah ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan ketika mereka memasuki pasar kerja?
Magang Bisa Menjadi Jembatan
Pemerintah telah memperluas Program Pemagangan Lulusan Perguruan Tinggi. Permenaker Nomor 9 Tahun 2026 antara lain mengatur perluasan cakupan kepesertaan, uang saku bulanan selama maksimal enam bulan serta fasilitasi sertifikasi kompetensi bagi peserta yang menyelesaikan program.
Satuan Mahasiswa ETH melihat pemagangan dapat menjadi salah satu jembatan antara kampus dan dunia profesional apabila dilaksanakan dengan kualitas yang baik.
Magang tidak seharusnya menjadikan lulusan sebagai tenaga kerja murah.
Peserta perlu memperoleh pengalaman, pembimbingan dan kompetensi yang benar-benar dapat digunakan setelah program berakhir.
Reza: Mahasiswa Jangan Menunggu Lulus
Reza mendorong mahasiswa mulai membangun kesiapan karier sejak masih berada di perguruan tinggi.
“Jangan menunggu menerima ijazah baru bertanya pekerjaan apa yang tersedia. Sejak kuliah mahasiswa harus mulai membangun kemampuan, karya, pengalaman dan jaringan. Kita harus mempersiapkan diri menghadapi pasar kerja sekaligus belajar menciptakan lapangan kerja,” ujar Reza.
Menurut Satuan Mahasiswa ETH, prinsip tersebut tidak berarti pendidikan tinggi harus berubah menjadi sekadar lembaga pelatihan tenaga kerja.
Perguruan tinggi tetap mempunyai tugas mengembangkan ilmu pengetahuan, penelitian, karakter dan daya kritis.
Namun kemampuan intelektual tersebut perlu dihubungkan dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan perekonomian.
Teknologi Mengubah Jenis Pekerjaan
Perkembangan AI, otomatisasi dan digitalisasi juga membuat kebutuhan kompetensi berubah cepat.
Karena itu, mahasiswa dari semua jurusan perlu memiliki tingkat literasi teknologi tertentu.
Mahasiswa hukum akan semakin sering menghadapi bukti elektronik dan persoalan perlindungan data.
Mahasiswa ekonomi akan bersentuhan dengan analitik dan otomatisasi.
Mahasiswa komunikasi menghadapi AI generatif dan perubahan industri media.
Mahasiswa pertanian berhadapan dengan pertanian presisi.
Sementara mahasiswa teknik dan informatika menghadapi kebutuhan untuk terus memperbarui kemampuan karena teknologi yang dipelajari hari ini dapat berkembang sangat cepat.
Satuan Mahasiswa ETH Usulkan Lima Agenda
Sebagai analisis organisasi, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong lima agenda bagi perguruan tinggi dan gerakan mahasiswa: memperkuat akses magang berkualitas; memperluas sertifikasi dan pelatihan kompetensi; membangun pusat karier yang aktif; mempertemukan mahasiswa dengan dunia usaha dan profesional sejak masa kuliah; serta mendorong kewirausahaan dan inovasi mahasiswa sebagai jalur penciptaan pekerjaan.
Agenda tersebut bukan kebijakan pemerintah, melainkan pandangan organisasi terhadap tantangan transisi mahasiswa menuju dunia kerja.
Dari Hambalang: Mahasiswa Harus Menjadi Pencipta Peluang
Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang menilai persoalan lapangan kerja generasi muda tidak dapat dibebankan hanya kepada mahasiswa.
Pemerintah mempunyai peran menciptakan iklim ekonomi dan ketenagakerjaan yang sehat.
Perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab meningkatkan kualitas pendidikan.
Dunia usaha perlu membuka jalur pengembangan talenta.
Sedangkan mahasiswa harus mempersiapkan kompetensinya.
Reza menegaskan:
“Kita tidak ingin generasi muda Indonesia hanya menjadi generasi pencari pekerjaan. Mahasiswa juga harus dipersiapkan menjadi profesional, inovator, pengusaha dan pencipta lapangan kerja.”
Dengan lebih dari 155 juta orang berada dalam angkatan kerja nasional, tantangan Indonesia bukan semata-mata menyediakan pekerjaan.
Tantangannya adalah membangun pekerjaan produktif dan berkualitas yang memungkinkan generasi muda berkembang serta ikut menggerakkan perekonomian.





