PISA 2025: Sains dan Membaca Naik, Matematika Belum Membaik, Reza Prasatria Dharma: Pemerintah Jangan Puas pada Angka, Mutu Pendidikan Harus Terasa di Ruang Kelas
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 16 SEPTEMBER 2026. Hasil terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menjadi perhatian Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang. Organisasi mahasiswa tersebut meminta pemerintah tidak berhenti pada narasi kenaikan skor, tetapi menggunakan hasil PISA sebagai dasar...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR — 16 SEPTEMBER 2026. Hasil terbaru Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menjadi perhatian Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang. Organisasi mahasiswa tersebut meminta pemerintah tidak berhenti pada narasi kenaikan skor, tetapi menggunakan hasil PISA sebagai dasar untuk mengukur secara terbuka efektivitas kebijakan pendidikan, kualitas guru, pembelajaran matematika, literasi, pemerataan mutu sekolah, serta penggunaan anggaran pendidikan.
Fakta Terverifikasi
OECD merilis hasil PISA 2025 pada 8 September 2026. PISA kali ini diikuti lebih dari 760 ribu murid dari 91 negara dan ekonomi dan berfokus terutama pada sains.
Kemendikdasmen mencatat skor sains Indonesia naik dari 383 pada 2022 menjadi 389 pada 2025, sedangkan membaca bergerak dari 359 menjadi 365. Skor matematika Indonesia tercatat 364, dibandingkan 366 pada 2022.
Data OECD memberi konteks penting: perubahan skor matematika Indonesia sebesar minus 2 poin dari 2022 dinilai tidak signifikan secara statistik. OECD juga mencatat rata-rata skor matematika Indonesia 364, sementara rata-rata OECD 463.
Akses pendidikan bagi kelompok usia 15 tahun juga semakin luas. Coverage Index Indonesia naik dari sekitar 0,46 pada 2003 menjadi 0,90 pada PISA 2025.
Pemerintah Siapkan Empat Strategi
Perkembangan terbaru pada 15 September 2026, Kemendikdasmen menyampaikan empat arah tindak lanjut hasil PISA: penguatan kompetensi guru, peningkatan kualitas pembelajaran, penyelarasan asesmen, dan penguatan peran keluarga.
Penguatan guru mencakup peningkatan kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru serta kompetensi pedagogik dan digital. Pemerintah juga menyebut pembelajaran mendalam, digitalisasi, literasi, numerasi dan karakter sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas pembelajaran.
Reza: Angka PISA Harus Menjadi Instrumen Evaluasi Pemerintah
Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, menilai kenaikan numerik pada sains dan membaca patut dicatat, tetapi pemerintah tidak boleh menjadikannya alasan untuk mengendurkan evaluasi.
“Kalau sains dan membaca meningkat, kita apresiasi. Tetapi tugas mahasiswa bukan hanya merayakan angka. Kita juga harus bertanya mengapa kemampuan matematika belum menunjukkan perbaikan, bagaimana kualitas pembelajaran di daerah, dan apakah anggaran pendidikan benar-benar menghasilkan peningkatan kemampuan anak-anak Indonesia.”
Akses Sudah Meluas, Sekarang Mutu Harus Dikejar
ANALISIS DAN SIKAP SATUAN MAHASISWA ETH: meningkatnya coverage index menunjukkan semakin banyak anak usia 15 tahun berada dalam sistem pendidikan formal.
Namun organisasi menilai tahap berikutnya harus lebih berat: memastikan anak yang berada di sekolah benar-benar belajar dengan baik.
“Keberhasilan membawa anak masuk sekolah harus dilanjutkan dengan keberhasilan membuat mereka memperoleh pendidikan bermutu. Sekolah tidak cukup hadir secara administratif. Murid harus benar-benar mendapatkan guru yang berkualitas, metode pembelajaran yang baik dan fasilitas yang mendukung.”
Satuan Mahasiswa ETH menilai ukuran keberhasilan kebijakan pendidikan harus bergeser dari sekadar jumlah sekolah, jumlah peserta program atau serapan anggaran menuju hasil belajar dan pemerataan mutu.
Matematika Harus Menjadi Perhatian Khusus
Satuan Mahasiswa ETH meminta pemerintah menjelaskan strategi yang lebih terukur untuk meningkatkan kemampuan matematika.
Bukan sekadar menambah materi, tetapi memperbaiki cara murid memahami konsep dan menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah.
OECD menjelaskan PISA mengukur kemampuan siswa berusia 15 tahun menghadapi masalah kompleks, berpikir kritis dan menerapkan pengetahuan, bukan sekadar menghafal pelajaran.
“Kalau persoalannya kemampuan bernalar, jawabannya tidak cukup dengan menambah latihan soal. Pemerintah perlu mengevaluasi metode mengajar, kompetensi guru, kualitas buku, beban pembelajaran dan kondisi sekolah.”
Jangan Tutupi Ketimpangan dengan Angka Nasional
Menurut Satuan Mahasiswa ETH, rata-rata nasional berpotensi menutupi variasi kondisi antardaerah.
Karena itu pemerintah didorong membuka data pendidikan yang memungkinkan masyarakat membandingkan perkembangan kemampuan literasi, numerasi dan sains berdasarkan wilayah serta karakteristik sekolah, dengan tetap melindungi data pribadi murid.
Reza menegaskan:
“Ketika pemerintah menyampaikan angka nasional, mahasiswa juga harus bertanya: bagaimana daerah tertinggal, bagaimana sekolah di desa, bagaimana anak dari keluarga miskin, dan apakah mereka mendapatkan kualitas pembelajaran yang setara.”
Empat Strategi Pemerintah Harus Punya Target Terukur
Satuan Mahasiswa ETH menilai empat strategi tindak lanjut Kemendikdasmen merupakan arah kebijakan yang dapat diuji publik.
Karena itu pemerintah diminta menetapkan target, jadwal dan indikator keberhasilannya.
Jika kompetensi guru diperkuat, publik perlu mengetahui berapa guru yang meningkat kualifikasinya dan apa dampaknya pada kualitas belajar.
Jika digitalisasi diperluas, pemerintah juga perlu menunjukkan apakah teknologi meningkatkan proses belajar atau hanya menambah perangkat.
Jika asesmen diselaraskan, pemerintah perlu menunjukkan bagaimana hasil asesmen dipakai memperbaiki sekolah.
“Jangan biarkan kebijakan pendidikan berhenti menjadi daftar program. Setiap program harus bisa ditanya: targetnya apa, anggarannya berapa, hasilnya apa dan kapan masyarakat bisa melihat perbaikannya.”
Mahasiswa Minta Transparansi Anggaran Pendidikan
Satuan Mahasiswa ETH juga menilai perbaikan mutu pendidikan tidak dapat dipisahkan dari penggunaan anggaran negara.
Mahasiswa perlu mengawasi apakah anggaran benar-benar diarahkan kepada kebutuhan yang mempunyai dampak terhadap kualitas pembelajaran: guru, ruang kelas, buku, laboratorium, akses digital, fasilitas dasar dan intervensi bagi sekolah yang tertinggal.
“Anggaran pendidikan jumlahnya besar karena pendidikan adalah prioritas negara. Karena itu pengawasannya juga harus besar. Mahasiswa berhak mempertanyakan apakah uang tersebut sampai pada persoalan utama yang dihadapi murid dan guru.”
Enam Pertanyaan kepada Kemendikdasmen
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang meminta pemerintah menjelaskan kepada publik: apa penyebab kemampuan matematika belum membaik; daerah mana yang membutuhkan intervensi paling besar; bagaimana empat strategi tindak lanjut PISA diterjemahkan menjadi target terukur; berapa anggaran untuk masing-masing intervensi; bagaimana dampak peningkatan kompetensi guru akan dievaluasi; dan kapan masyarakat dapat melihat laporan hasil pelaksanaannya.
Pertanyaan tersebut merupakan bagian dari pengawasan terhadap kebijakan, bukan penilaian terhadap individu tertentu.
Mahasiswa Harus Ikut Memeriksa Kebijakan Pendidikan
Reza menilai mahasiswa, khususnya dari bidang pendidikan, statistik, psikologi, teknologi, ekonomi dan kebijakan publik, dapat ikut membaca data PISA dan kebijakan pemerintah secara lebih kritis.
“Gerakan mahasiswa pendidikan jangan hanya bergerak ketika UKT atau biaya kuliah bermasalah. Masa depan mahasiswa juga ditentukan oleh mutu pendidikan sejak SD, SMP dan SMA. Kita harus ikut mengawasi sistem pendidikan dari hulunya.”
Lima Tuntutan Satuan Mahasiswa ETH
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong publikasi target nasional perbaikan numerasi dan literasi; keterbukaan indikator empat strategi tindak lanjut PISA; prioritas intervensi bagi daerah dan sekolah yang tertinggal; evaluasi anggaran pendidikan berdasarkan hasil belajar; serta pelibatan mahasiswa, guru, orang tua dan akademisi dalam evaluasi kebijakan pendidikan.
Organisasi juga mengingatkan agar hasil PISA tidak dipakai sekadar untuk membangun citra keberhasilan ataupun menciptakan stigma terhadap guru dan murid.
PISA adalah salah satu alat evaluasi, bukan satu-satunya ukuran mutu pendidikan.
Dari Hambalang: Jangan Puas Anak Masuk Sekolah, Pastikan Mereka Benar-Benar Belajar
Dari Hambalang, Kabupaten Bogor, Reza menegaskan bahwa peningkatan akses pendidikan merupakan modal penting, tetapi tantangan berikutnya adalah mutu.
“Indonesia tidak cukup hanya memastikan anak duduk di bangku sekolah. Negara harus memastikan ketika mereka keluar dari sekolah, mereka mampu membaca secara kritis, memahami sains, bernalar dengan matematika dan menghadapi perubahan teknologi.”
Satuan Mahasiswa ETH menyatakan pendidikan akan terus ditempatkan sebagai salah satu bidang utama sosial kontrol mahasiswa karena kualitas sekolah hari ini menentukan kualitas Indonesia pada masa mendatang.
Akses pendidikan harus diperluas. Guru harus diperkuat. Anggaran harus diawasi. Ketimpangan mutu harus dikurangi. Dan setiap kebijakan harus dibuktikan dengan hasil belajar yang nyata.
Hambalang, Kabupaten Bogor | 16 September 2026
SATUAN MAHASISWA ELANG TIGA HAMBALANG
Ketua Umum: Reza Prasatria Dharma





