TBC Masih Ancam Jutaan Warga, DPN Elang Tiga Hambalang: Pemeriksaan Gratis Harus Masuk Desa, Pesantren dan Permukiman Padat
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — Senin, 31 Agustus 2026 Tuberkulosis atau TBC masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (DPN ETH) mendorong pemerintah memperluas pemeriksaan dan penemuan kasus secara aktif...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — Senin, 31 Agustus 2026 Tuberkulosis atau TBC masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang (DPN ETH) mendorong pemerintah memperluas pemeriksaan dan penemuan kasus secara aktif hingga tingkat desa, pesantren, pasar, tempat kerja dan kawasan permukiman padat agar masyarakat yang terinfeksi dapat ditemukan serta diobati sedini mungkin.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan Indonesia masih menghadapi estimasi sekitar 1,09 juta kasus TBC per tahun. TBC juga masih menjadi penyakit menular dengan angka kematian sangat tinggi di Indonesia. Kemenkes dalam perkembangan Agustus 2026 menyebut sekitar 120 ribu kematian terjadi setiap tahun akibat penyakit tersebut.
Kondisi tersebut membuat penemuan kasus menjadi salah satu kunci utama untuk memutus rantai penularan.
Pemerintah Perluas Skrining ke Pesantren dan Permukiman Padat
Pada Agustus 2026, Kementerian Kesehatan memperluas skrining TBC melalui pemeriksaan rontgen dada berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di pondok pesantren serta kawasan permukiman padat penduduk.
Program nasional tersebut diluncurkan pada 13 Agustus 2026 melalui pelaksanaan skrining TBC, rontgen dada dan Cek Kesehatan Gratis di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara.
Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Agama juga memperkuat kerja sama untuk membawa pemeriksaan ke pesantren, madrasah dan lingkungan masyarakat yang memiliki kepadatan penduduk tinggi.
Pemerintah menyiapkan sekitar 10.000 unit rontgen yang akan didistribusikan secara bertahap ke puskesmas. Sejumlah peralatan dirancang portabel sehingga dapat digunakan untuk mendatangi masyarakat secara langsung.
DPN Elang Tiga Hambalang menilai pendekatan tersebut penting karena masyarakat yang merasa sehat belum tentu mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi TBC.
H. Safrizal: Pelayanan Kesehatan Harus Mendatangi Rakyat
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang H. Safrizal berpandangan penanganan TBC tidak boleh hanya mengandalkan masyarakat datang sendiri ke rumah sakit atau puskesmas.
Menurut sikap DPN ETH, pelayanan kesehatan perlu semakin aktif mendatangi kelompok masyarakat yang mempunyai risiko tinggi tetapi memiliki keterbatasan waktu, biaya maupun akses untuk memeriksakan diri.
Pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui puskesmas keliling, pemeriksaan di desa, pesantren, sekolah, kawasan pekerja, pasar dan permukiman padat.
Bagi DPN ETH, semakin cepat seseorang diketahui positif TBC, semakin cepat pula pengobatan dapat dilakukan dan risiko penularan terhadap anggota keluarga serta masyarakat dapat ditekan.
100 Persen Kontak Erat Perlu Diperiksa
Kementerian Kesehatan juga mendorong 100 persen kontak erat pasien TBC diperiksa.
Strategi tersebut penting karena orang yang tinggal serumah atau sering berinteraksi dekat dengan pasien mempunyai risiko lebih tinggi terpapar. Kementerian Kesehatan menegaskan TBC dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan secara teratur, dan pengobatan tersedia melalui fasilitas kesehatan pemerintah.
DPN Elang Tiga Hambalang mendukung penguatan pelacakan kontak tersebut.
Ketika satu pasien ditemukan, pemeriksaan sebaiknya tidak berhenti pada individu tersebut. Keluarga dan orang yang berinteraksi dekat perlu memperoleh informasi serta akses pemeriksaan agar penularan dapat dihentikan lebih awal.
Banten Jadi Contoh Penemuan Kasus
Perkembangan positif terlihat di Provinsi Banten.
Kementerian Kesehatan pada 20 Agustus 2026 menyatakan Banten, khususnya Kabupaten Tangerang, menunjukkan capaian yang baik dalam program Cek Kesehatan Gratis dan penemuan kasus TBC sehingga dijadikan salah satu model percontohan.
Data Kemenkes per 19 Agustus mencatat cakupan Cek Kesehatan Gratis di Banten mencapai sekitar 5,93 juta orang, sementara penemuan kasus TBC pada periode sebelumnya telah melampaui estimasi beban kasus dan tingkat keberhasilan pengobatan mencapai 91 persen.
DPN ETH menilai praktik baik tersebut perlu dipelajari dan disesuaikan untuk daerah lain.
Ganda Satria Dharma: Jangan Biarkan Stigma Menghalangi Pengobatan
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang Ganda Satria Dharma menilai edukasi masyarakat harus berjalan bersamaan dengan perluasan fasilitas pemeriksaan.
Masih adanya stigma terhadap penderita TBC dapat menyebabkan sebagian masyarakat takut melakukan pemeriksaan atau menyembunyikan kondisi kesehatannya.
DPN ETH menegaskan penderita TBC bukan pihak yang harus dikucilkan.
Masyarakat justru harus didorong untuk memeriksakan diri, memperoleh diagnosis yang benar dan menjalani pengobatan sampai tuntas berdasarkan arahan tenaga kesehatan.
TBC merupakan penyakit yang dapat diobati. Karena itu stigma justru berpotensi menghambat penemuan kasus serta memperpanjang rantai penularan.
Pemeriksaan Harus Diikuti Pengobatan Sampai Sembuh
DPN Elang Tiga Hambalang juga mengingatkan bahwa keberhasilan program kesehatan tidak cukup dihitung berdasarkan banyaknya masyarakat yang diperiksa.
Setelah seseorang ditemukan terindikasi atau positif TBC, harus ada kepastian mengenai pemeriksaan lanjutan, pengobatan, pemantauan kepatuhan minum obat serta dukungan terhadap keluarga pasien.
Kementerian Kesehatan menetapkan target cakupan penemuan kasus TBC sebesar 90 persen dari estimasi kasus nasional. Target tersebut merupakan salah satu indikator penting dalam percepatan eliminasi penyakit.
Menurut DPN ETH, target tersebut perlu diterjemahkan menjadi pelayanan nyata sampai tingkat paling bawah.
DPN ETH Dorong Enam Langkah Nasional
Dari Hambalang, DPN Elang Tiga Hambalang mendorong enam langkah untuk memperkuat penanganan TBC.
Pertama, perluas pemeriksaan gratis sampai desa dan permukiman padat. Jangan menunggu masyarakat datang ketika kondisinya sudah berat.
Kedua, periksa kontak erat pasien. Keluarga dan orang yang sering berinteraksi dengan pasien perlu mendapatkan pemeriksaan lebih cepat.
Ketiga, perkuat puskesmas. Ketersediaan alat diagnostik, tenaga kesehatan dan obat harus terjamin.
Keempat, hapus stigma. Penderita harus didukung menjalani pengobatan, bukan dikucilkan.
Kelima, kawal pasien hingga pengobatan selesai. Pengobatan yang tidak tuntas dapat menimbulkan persoalan kesehatan yang lebih kompleks.
Keenam, libatkan organisasi masyarakat dan kader kesehatan. Edukasi mengenai gejala, pemeriksaan dan pengobatan dapat diperluas melalui komunitas yang dekat dengan warga.
Organisasi Masyarakat Bisa Membantu Edukasi
DPN ETH menilai organisasi kemasyarakatan dapat mempunyai peranan penting tanpa mengambil alih kewenangan tenaga kesehatan.
Jajaran organisasi dapat membantu menyebarkan informasi yang benar, mendorong masyarakat memeriksakan diri, mengarahkan warga menuju fasilitas kesehatan serta membantu menghilangkan stigma.
Pendekatan semacam itu semakin relevan karena upaya eliminasi TBC membutuhkan keterlibatan banyak pihak, tidak hanya Kementerian Kesehatan.
Dari Hambalang untuk Kesehatan Rakyat Indonesia
DPN Elang Tiga Hambalang menegaskan kesehatan merupakan salah satu persoalan yang harus ditempatkan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ketua Umum DPN ETH H. Safrizal bersama Sekretaris Jenderal Ganda Satria Dharma mendorong agar percepatan penanggulangan TBC benar-benar dirasakan sampai masyarakat yang selama ini sulit memperoleh pemeriksaan.
Bagi DPN ETH, satu pasien yang ditemukan lebih awal bukan sekadar angka dalam laporan kesehatan.
Ia dapat berarti satu orang mendapatkan kesempatan sembuh lebih cepat, satu keluarga lebih terlindungi dan satu rantai penularan dapat dihentikan.
Dari Hambalang untuk Indonesia — Temukan Lebih Awal, Obati Sampai Sembuh, Putus Penularan TBC.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang:
H. Safrizal
Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Elang Tiga Hambalang:
Ganda Satria Dharma





