PENGANGGURAN GENERASI MUDA JADI ALARM, REZA PRASATRIA DHARMA: KAMPUS JANGAN HANYA CETAK IJAZAH
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang Dorong Gerakan Nasional “Kuliah, Kompeten, Kerja dan Berkarya” BOGOR, JAWA BARAT — Persoalan pengangguran generasi muda dan lulusan perguruan tinggi harus menjadi perhatian serius pemerintah, dunia pendidikan dan dunia usaha. **Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang Dorong Gerakan Nasional “Kuliah, Kompeten, Kerja dan Berkarya”
BOGOR, JAWA BARAT — Persoalan pengangguran generasi muda dan lulusan perguruan tinggi harus menjadi perhatian serius pemerintah, dunia pendidikan dan dunia usaha.
**Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang (ETH)** menilai keberhasilan pendidikan tinggi tidak cukup diukur dari banyaknya mahasiswa yang berhasil memperoleh gelar. Perguruan tinggi juga harus mampu mempersiapkan mahasiswa menghadapi perubahan dunia kerja, perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial (AI), ekonomi kreatif dan kewirausahaan.
**Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma**, mendorong pemerintah membangun strategi nasional yang lebih kuat untuk menjembatani mahasiswa dan lulusan baru dengan lapangan pekerjaan.
> **“Kampus jangan hanya menjadi tempat mencetak ijazah. Kampus harus menjadi tempat mencetak manusia yang mempunyai ilmu, keterampilan, keberanian berinovasi dan kemampuan menciptakan masa depannya sendiri.”**
# BPS: TPT INDONESIA 4,65 PERSEN
Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rilis ketenagakerjaan terbaru pada **5 Agustus 2026** mencatat jumlah angkatan kerja berdasarkan Sakernas Mei 2026 mencapai **155,41 juta orang**.
Jumlah penduduk yang bekerja tercatat **148,19 juta orang**, meningkat sekitar 522 ribu orang dibanding Februari 2026.
Sementara itu, **Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 berada pada angka 4,65 persen**, turun tipis 0,03 poin persentase dibanding Februari 2026.
BPS juga mencatat rata-rata upah buruh pada Mei 2026 sebesar **Rp3,39 juta per bulan**.
Satuan Mahasiswa ETH mengapresiasi adanya penurunan TPT. Namun, menurut organisasi mahasiswa tersebut, persoalan ketenagakerjaan tidak cukup dilihat hanya dari turunnya persentase pengangguran nasional.
Kualitas pekerjaan, tingkat upah, kesesuaian antara pendidikan dengan pekerjaan, jaminan perlindungan pekerja serta kesempatan generasi muda memperoleh pekerjaan pertama juga harus menjadi perhatian.
# LEBIH DARI SATU JUTA PENGANGGUR BERLATAR PERGURUAN TINGGI
Persoalan yang secara khusus mendapat perhatian Satuan Mahasiswa ETH adalah pengangguran terdidik.
Kementerian Ketenagakerjaan pada **13 Agustus 2026**, dengan merujuk data BPS, menyebut jumlah penganggur dengan latar belakang pendidikan **Diploma IV, S1, S2 hingga S3 mencapai 1.033.182 orang pada Mei 2026**.
Kemnaker menilai salah satu faktor utama persoalan tersebut adalah **skill mismatch**, yakni ketidaksesuaian antara kompetensi pencari kerja dengan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan dan industri.
Persoalan lain yang disebut adalah rendahnya literasi digital serta sejumlah kemampuan nonteknis atau *soft skills*.
Menurut Reza, angka tersebut harus menjadi alarm bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia.
> **“Kalau seseorang sudah menempuh pendidikan bertahun-tahun tetapi setelah lulus tidak menemukan jembatan menuju dunia kerja, maka ada sesuatu yang harus kita evaluasi bersama. Jangan hanya menyalahkan mahasiswa atau lulusan. Kita harus melihat kurikulum, kebutuhan industri, kualitas pelatihan, informasi pasar kerja dan penciptaan lapangan kerja.”**
# 33,5 PERSEN LULUSAN DISEBUT BEKERJA TIDAK SESUAI BIDANG
Menteri Ketenagakerjaan **Yassierli** pada awal Agustus 2026 juga menyoroti ketidaksesuaian antara pendidikan tinggi dan kebutuhan industri.
Menurut data Kemnaker yang disampaikan Menaker, sekitar **33,5 persen lulusan perguruan tinggi bekerja tidak sesuai dengan bidang ilmunya**.
Pemerintah karena itu mendorong perguruan tinggi semakin dekat dengan dunia industri agar kompetensi lulusan dapat diselaraskan dengan kebutuhan nyata pasar kerja.
Satuan Mahasiswa ETH menilai kolaborasi kampus dan dunia usaha memang penting, tetapi pendidikan tinggi tidak boleh berubah menjadi sekadar “pabrik tenaga kerja”.
Perguruan tinggi tetap mempunyai fungsi membangun ilmu pengetahuan, karakter, penelitian, inovasi dan daya kritis.
Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara **kemampuan akademik dan kesiapan menghadapi kehidupan setelah kampus**.
# REZA: MAHASISWA HARUS DIPERSIAPKAN SEBELUM LULUS
Menurut **Reza Prasatria Dharma**, persiapan memasuki dunia kerja seharusnya tidak baru dimulai setelah mahasiswa menjalani wisuda.
Mahasiswa sejak berada di bangku kuliah perlu mendapatkan kesempatan untuk:
1. **Magang di perusahaan, BUMN, pemerintahan dan lembaga profesional.**
2. Memperoleh sertifikasi kompetensi yang relevan.
3. Mempelajari teknologi digital dan kecerdasan artifisial.
4. Mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan dan kerja tim.
5. Mendapatkan pendidikan kewirausahaan yang praktis.
6. Berinteraksi langsung dengan dunia usaha dan industri.
7. Mengembangkan portofolio kerja sebelum lulus.
8. Mendapatkan informasi pasar kerja yang akurat dan terbuka.
9. Mengembangkan usaha serta industri kreatif sejak mahasiswa.
10. Membangun jejaring profesional nasional maupun internasional.
Menurut Reza, konsep pendidikan yang hanya berorientasi pada nilai akademik sudah tidak cukup menghadapi perubahan dunia kerja.
# MAGANG NASIONAL HARUS DIPERLUAS DAN DIAWASI
Pemerintah melalui Kemnaker menjalankan **Program Magang Nasional 2026** sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan kesiapan kerja lulusan baru.
Menaker Yassierli menyatakan pemerintah pada 2026 membuka peluang bagi sekitar **150 ribu calon tenaga kerja dalam tiga tahap**, dengan sekitar **8.000 mitra**, termasuk perusahaan swasta, BUMN dan instansi pemerintahan.
Kemnaker menyebut program tersebut diharapkan membantu menekan pengangguran muda, khususnya di kalangan lulusan perguruan tinggi.
Satuan Mahasiswa ETH mendukung perluasan program magang, namun menekankan bahwa kegiatan magang harus benar-benar memberikan **kompetensi, pengalaman, pembimbingan dan peluang karier**, bukan menjadi cara memperoleh tenaga kerja murah.
> **“Magang harus menjadi pintu masuk menuju kompetensi dan pekerjaan. Jangan sampai mahasiswa hanya diberikan pekerjaan rutin tanpa pembelajaran dan tanpa peningkatan kemampuan.”**
# EKONOMI KREATIF JADI PELUANG GENERASI MUDA
Sektor ekonomi kreatif juga dinilai memiliki potensi besar sebagai alternatif penciptaan lapangan pekerjaan.
Menteri Ekonomi Kreatif **Teuku Riefky Harsya** pada **22 Agustus 2026** menyatakan sekitar **27,4 juta orang bekerja di sektor ekonomi kreatif**, dan sekitar **63 persen** di antaranya berasal dari kelompok Gen Z dan milenial.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Ekraf menyebut sekitar **82 persen dari sekitar 7,5 juta penganggur** merupakan Gen Z dan milenial. Angka 82 persen tersebut merupakan angka yang disampaikan Kementerian Ekonomi Kreatif dalam konteks potensi sektor ekraf dan perlu dibedakan dari rilis statistik ketenagakerjaan terbaru BPS.
Satuan Mahasiswa ETH menilai ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu jalan bagi generasi muda untuk tidak sepenuhnya bergantung pada lapangan pekerjaan konvensional.
Industri konten digital, desain, aplikasi, permainan digital, film, musik, kuliner, fesyen, fotografi, animasi dan berbagai subsektor kreatif dapat menjadi ruang baru bagi mahasiswa untuk menciptakan pekerjaan.
# AI: ANCAMAN ATAU PELUANG?
Perkembangan kecerdasan artifisial juga mengubah struktur dunia kerja.
Kementerian Ekonomi Kreatif pada **15 Agustus 2026** menyatakan pemanfaatan AI berpeluang membuka akses pekerjaan dan kewirausahaan bagi generasi muda, termasuk melalui model pekerjaan fleksibel serta *gig economy*.
Menurut Satuan Mahasiswa ETH, mahasiswa tidak boleh hanya memandang AI sebagai ancaman yang akan menggantikan tenaga manusia.
Generasi muda justru harus mempunyai kemampuan menggunakan teknologi tersebut secara produktif.
Namun pemerintah dan perguruan tinggi juga perlu mengantisipasi pekerjaan yang terdisrupsi teknologi serta memastikan mahasiswa mendapatkan keterampilan yang relevan dengan masa depan.
# SATUAN MAHASISWA ETH AJUKAN 8 AGENDA NASIONAL
Untuk menghadapi persoalan pengangguran generasi muda, **Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang** mendorong delapan agenda:
### 1. KAMPUS TERHUBUNG DENGAN DUNIA KERJA
Perguruan tinggi harus mempunyai jaringan aktif dengan perusahaan, UMKM, BUMN, pemerintahan dan sektor ekonomi kreatif.
### 2. MAGANG BERKUALITAS SEBELUM LULUS
Mahasiswa harus mendapatkan kesempatan memperoleh pengalaman profesional nyata.
### 3. PEMBARUAN KURIKULUM
Kurikulum perlu mengikuti perkembangan teknologi tanpa meninggalkan kemampuan akademik dan berpikir kritis.
### 4. SERTIFIKASI KOMPETENSI
Lulusan harus memiliki bukti keterampilan selain ijazah akademik.
### 5. PUSAT KARIER DI SETIAP KAMPUS
Informasi lowongan, konsultasi karier dan hubungan dengan pemberi kerja harus tersedia secara aktif.
### 6. PROGRAM WIRAUSAHA MAHASISWA
Mahasiswa harus mendapatkan akses pendampingan, inkubasi, pembiayaan dan pasar.
### 7. LITERASI AI DAN DIGITAL
Kemampuan memanfaatkan teknologi harus menjadi kompetensi dasar generasi muda.
### 8. DATABASE PASAR KERJA NASIONAL YANG TRANSPARAN
Mahasiswa harus mengetahui sektor apa yang sedang membutuhkan tenaga kerja serta kompetensi apa yang dibutuhkan.
# JANGAN SALAHKAN GENERASI MUDA SENDIRIAN
Satuan Mahasiswa ETH juga meminta agar persoalan pengangguran muda tidak disederhanakan menjadi stigma bahwa generasi muda malas bekerja atau terlalu memilih pekerjaan.
Menurut Reza, persoalan ketenagakerjaan merupakan hasil interaksi banyak faktor: pertumbuhan ekonomi, investasi, penciptaan pekerjaan, kualitas pendidikan, upah, perkembangan teknologi, kebutuhan industri, distribusi kesempatan kerja antardaerah serta kemampuan pencari kerja.
Karena itu, penyelesaiannya membutuhkan keterlibatan pemerintah, kampus, mahasiswa, perusahaan dan masyarakat.
> **“Jangan semua beban diletakkan di pundak generasi muda. Anak muda juga harus meningkatkan kemampuan dan bekerja keras, tetapi negara, kampus dan dunia usaha mempunyai tanggung jawab menyediakan ekosistem yang membuka kesempatan.”**
# DARI PENCARI KERJA MENJADI PENCIPTA LAPANGAN KERJA
Reza juga mendorong perubahan paradigma di kalangan mahasiswa.
Mahasiswa tidak hanya perlu dipersiapkan menjadi **pencari kerja**, tetapi sebagian juga harus didorong menjadi **pencipta lapangan pekerjaan**.
Kewirausahaan mahasiswa, ekonomi kreatif, UMKM digital, koperasi mahasiswa dan perusahaan rintisan berbasis teknologi perlu mendapatkan dukungan lebih besar.
Menurutnya, apabila satu usaha yang dibangun mahasiswa mampu tumbuh dan mempekerjakan lima atau sepuluh orang, maka gerakan kewirausahaan generasi muda dalam skala nasional dapat memberikan dampak besar.
# REZA PRASATRIA DHARMA: IJAZAH HARUS BERTEMU DENGAN KESEMPATAN
**Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang Reza Prasatria Dharma** menegaskan bahwa isu lapangan pekerjaan akan menjadi salah satu perhatian organisasinya.
Satuan Mahasiswa ETH akan mendorong kajian dan program yang menghubungkan mahasiswa dengan pelatihan, dunia usaha, teknologi, kewirausahaan dan ekonomi kreatif.
> **“Mahasiswa tidak membutuhkan janji bahwa masa depan akan baik-baik saja. Mahasiswa membutuhkan kompetensi, akses dan kesempatan. Ijazah harus bertemu dengan lapangan kerja, inovasi dan keberanian menciptakan usaha.”**
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang menyerukan agar persoalan pengangguran generasi muda ditempatkan sebagai **agenda strategis nasional**.
Bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila generasi mudanya memperoleh pendidikan yang berkualitas, pekerjaan yang layak serta kesempatan untuk berkarya.
Sebaliknya, apabila jutaan generasi muda mengalami kesulitan memasuki dunia kerja, Indonesia berpotensi kehilangan salah satu momentum pembangunan terbesarnya.
## SATUAN MAHASISWA ELANG TIGA HAMBALANG
**Ketua Umum: Reza Prasatria Dharma**
### **KOLABORASI — INTEGRITAS — PRESTASI**
**Kuliah — Kompeten — Kerja — Berkarya**
**“Generasi Muda Bukan Beban Negara, Generasi Muda Adalah Kekuatan Masa Depan Indonesia.”**





