EXPLORE GLOBAL

⚑ QUICK SHORTCUTS

πŸ“‚ KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Berita Terkini, Daerah, Global

PEDOMAN BARU KONSUMSI IKAN NASIONAL TERBIT, SATUAN NELAYAN ELANG TIGA HAMBALANG: DATA HARUS BERUJUNG PADA PASAR DAN HARGA YANG LAYAK BAGI NELAYAN

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

**JAKARTA, KAMIS 27 AGUSTUS 2026 β€”** Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menyoroti kebijakan terbaru Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengenai penghitungan konsumsi ikan masyarakat dan mendorong agar data konsumsi nasional tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi digunakan untuk memperkuat pasar,...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

**JAKARTA, KAMIS 27 AGUSTUS 2026 β€”** Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menyoroti kebijakan terbaru Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengenai penghitungan konsumsi ikan masyarakat dan mendorong agar data konsumsi nasional tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi digunakan untuk memperkuat pasar, distribusi serta kesejahteraan nelayan Indonesia.

KKP telah menetapkan **Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 60 Tahun 2026 tentang Pedoman Penghitungan Konsumsi Ikan Masyarakat** pada **20 Agustus 2026**. Keputusan tersebut saat ini berstatus berlaku.

banner 468x60

Menurut Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang, hadirnya pedoman nasional yang lebih jelas penting karena data konsumsi ikan dapat menjadi salah satu dasar pemerintah dalam membaca kebutuhan pasar, merencanakan distribusi dan menghubungkan produksi perikanan dengan kebutuhan masyarakat.

Namun data tersebut akan mempunyai arti lebih besar apabila akhirnya menghasilkan **kepastian pembeli dan harga yang lebih baik bagi nelayan**.

## KONSUMSI IKAN 2025 CAPAI 26,08 KG PER KAPITA

Laporan Kinerja KKP Tahun 2025 mencatat **Konsumsi Ikan Masyarakat (KIM) nasional mencapai 26,08 kilogram per kapita per tahun**.

Target tahun 2025 ditetapkan sebesar **26,26 kilogram per kapita per tahun**, sehingga realisasinya mencapai sekitar **99,31 persen dari target**.

KKP juga mencatat total serapan ikan nasional untuk konsumsi masyarakat mencapai sekitar **7,34 juta ton**.

Angka konsumsi tersebut meningkat sekitar **3,05 persen dibandingkan 2024**, ketika konsumsi ikan masyarakat tercatat 25,31 kilogram per kapita per tahun.

Satuan Nelayan ETH memandang peningkatan konsumsi merupakan sinyal positif karena semakin besar konsumsi domestik, semakin besar pula potensi pasar hasil perikanan Indonesia.

## ETH: PASAR DALAM NEGERI JANGAN DIANGGAP KELAS DUA

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai sektor perikanan tidak boleh terlalu bergantung kepada pasar ekspor.

Pasar domestik dengan ratusan juta penduduk merupakan kekuatan ekonomi yang sangat besar.

**β€œEkspor penting, tetapi masyarakat Indonesia sendiri merupakan pasar terbesar bagi ikan yang dihasilkan nelayan kita. Peningkatan konsumsi harus menjadi kekuatan ekonomi bagi masyarakat pesisir.”**

Menurut organisasi, pemerintah perlu membangun keseimbangan antara peningkatan ekspor dan penguatan pasar dalam negeri.

Ketika pasar domestik kuat, nelayan memiliki lebih banyak pilihan pembeli dan tidak terlalu bergantung pada satu saluran pemasaran.

## TARGET 2029 MENCAPAI 28,63 KG PER KAPITA

Dokumen perencanaan KKP 2025–2029 menempatkan target Konsumsi Ikan Masyarakat mencapai **28,63 kilogram per kapita per tahun pada 2029**.

Satuan Nelayan ETH menilai kenaikan konsumsi menuju target tersebut harus disiapkan bersama dengan kemampuan produksi dan distribusi.

Jika konsumsi meningkat tetapi distribusi tidak merata, harga dapat tinggi di wilayah konsumen sementara harga di tingkat nelayan tetap rendah.

Karena itu, persoalan utama bukan hanya berapa banyak ikan dikonsumsi.

Yang harus diperhatikan adalah **bagaimana ikan bergerak dari kapal nelayan sampai ke meja makan masyarakat dengan rantai perdagangan yang efisien dan adil**.

## DATA KONSUMSI HARUS DIPERTEMUKAN DENGAN DATA PRODUKSI

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong pemerintah mengintegrasikan data konsumsi dengan data produksi perikanan.

Pemerintah harus mampu membaca:

* daerah dengan produksi ikan tinggi;
* daerah dengan konsumsi tinggi;
* daerah yang mengalami kekurangan pasokan;
* komoditas yang paling banyak dibutuhkan masyarakat;
* musim produksi;
* kebutuhan cold storage;
* serta biaya logistik antardaerah.

Dengan informasi tersebut, kebijakan distribusi ikan dapat dilakukan secara lebih tepat.

Daerah surplus dapat dihubungkan dengan daerah yang membutuhkan pasokan.

## PERBEDAAN KONSUMSI ANTARDAERAH MASIH BESAR

Data KKP menunjukkan terdapat perbedaan cukup lebar dalam konsumsi ikan antarprovinsi.

Pada 2025, KKP mencatat **Sulawesi Utara** memiliki konsumsi ikan sekitar **48,97 kilogram per kapita per tahun**, sedangkan **Papua Pegunungan** berada sekitar **10,66 kilogram per kapita per tahun**.

Satuan Nelayan ETH menilai kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan konsumsi tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan ikan.

Akses distribusi, harga, kebiasaan konsumsi, kondisi geografis dan infrastruktur juga mempunyai peranan penting.

Karena itu, peningkatan konsumsi harus dibarengi pembangunan sistem logistik nasional.

## RANTAI DINGIN MENJADI KUNCI

Ikan merupakan komoditas yang mudah mengalami penurunan kualitas.

Karena itu, Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong perluasan fasilitas:

* pabrik es;
* cold storage;
* kendaraan berpendingin;
* fasilitas penyimpanan di pelabuhan;
* serta distribusi berpendingin hingga wilayah konsumen.

KKP sebelumnya mencatat terdapat **2.287 unit cold storage dengan kapasitas sekitar 899 ribu ton** yang digunakan sebagai bagian dari sistem penyangga pasokan perikanan nasional.

Menurut Satuan Nelayan ETH, kapasitas tersebut perlu terus dioptimalkan dan diperluas terutama di wilayah yang belum memiliki rantai dingin memadai.

## HARGA DI NELAYAN DAN HARGA DI PASAR HARUS SAMA-SAMA DIAWASI

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai pemerintah perlu memantau perbedaan harga sepanjang rantai perdagangan.

Tidak jarang masyarakat konsumen mengeluhkan harga ikan tinggi, sementara nelayan merasa harga jual hasil tangkapan mereka rendah.

Kondisi seperti itu dapat terjadi apabila biaya distribusi tinggi atau rantai perdagangan terlalu panjang.

Karena itu, data konsumsi ikan harus dipadukan dengan informasi harga di tingkat:

* nelayan;
* tempat pelelangan ikan;
* distributor;
* pasar induk;
* dan konsumen.

**Harga yang tinggi di konsumen tidak otomatis berarti nelayan menerima keuntungan besar.**

## KOPERASI HARUS MEMPERPENDEK RANTAI PERDAGANGAN

Satuan Nelayan ETH kembali mendorong koperasi nelayan mengambil peranan lebih besar dalam pemasaran.

Koperasi dapat membeli atau mengumpulkan hasil tangkapan anggota kemudian menjualnya secara kolektif kepada pasar, industri, hotel, restoran, sekolah maupun program pemerintah.

Jika dikelola secara profesional, koperasi dapat membantu memperpendek rantai perdagangan dan meningkatkan posisi tawar nelayan.

Koperasi juga dapat mengelola es, cold storage dan transportasi sehingga biaya dapat dibagi secara kolektif.

## PROGRAM MAKAN IKAN HARUS MENYERAP PRODUK LOKAL

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong setiap program pemerintah yang berkaitan dengan peningkatan konsumsi ikan memperhatikan hasil produksi daerah.

Kebutuhan ikan untuk kegiatan pemerintah, pendidikan, program gizi maupun kegiatan sosial sebaiknya sebisa mungkin dihubungkan dengan nelayan, koperasi dan produsen lokal sesuai mekanisme pengadaan dan ketentuan yang berlaku.

Dengan demikian, program peningkatan konsumsi dapat menciptakan dua manfaat sekaligus:

**memperbaiki asupan pangan masyarakat dan memperkuat ekonomi produsen perikanan.**

## KONSUMSI MENINGKAT HARUS DIIKUTI PENDAPATAN NELAYAN MENINGKAT

Satuan Nelayan ETH menilai ada indikator yang jauh lebih penting dari sekadar peningkatan kilogram konsumsi per kapita.

Pemerintah juga harus mengetahui apakah peningkatan permintaan berpengaruh terhadap:

* harga ikan di tingkat nelayan;
* pendapatan rumah tangga nelayan;
* volume ikan yang terserap;
* jumlah koperasi yang berkembang;
* berkurangnya hasil tangkapan yang terbuang;
* dan bertambahnya lapangan pekerjaan sektor perikanan.

Apabila konsumsi meningkat tetapi kesejahteraan produsen tidak berubah, maka masih ada persoalan dalam distribusi nilai ekonomi.

## NELAYAN BUTUH KEPASTIAN PASAR

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menilai kepastian pasar menjadi persoalan penting bagi masyarakat pesisir.

Nelayan menghadapi risiko besar ketika melaut.

Mereka mengeluarkan biaya BBM, es, perbekalan, pemeliharaan kapal dan tenaga kerja tanpa mengetahui secara pasti berapa hasil yang akan diperoleh.

Setelah ikan didaratkan, nelayan masih menghadapi ketidakpastian harga.

Karena itu, pemerintah perlu memperluas model kemitraan antara nelayan dengan:

* koperasi;
* tempat pelelangan;
* industri pengolahan;
* retail;
* pasar modern;
* serta pembeli institusional.

Kontrak pembelian yang transparan akan memberikan kepastian lebih baik bagi produsen.

## JANGAN BIARKAN IKAN BERLIMPAH TETAPI SULIT SAMPAI KE KONSUMEN

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan tantangan distribusi yang sangat besar.

Daerah penghasil ikan tidak selalu berada dekat dengan pusat konsumsi.

Karena itu, Satuan Nelayan ETH menilai pembangunan jalan distribusi perikanan sama pentingnya dengan peningkatan produksi.

Ketersediaan kapal pengangkut, kendaraan dingin, gudang dan jaringan pasar akan menentukan apakah ikan dapat sampai kepada konsumen dalam kondisi baik.

Ketika distribusi buruk, produsen dapat mengalami harga rendah karena kelebihan pasokan lokal sementara konsumen di daerah lain membayar harga tinggi.

## DATA HARUS TERBUKA DAN MUDAH DIPAHAMI

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang mendorong pemerintah mempublikasikan data konsumsi ikan secara terbuka hingga tingkat provinsi dan, apabila memungkinkan, kabupaten/kota.

Informasi tersebut dapat membantu:

* koperasi menentukan pasar;
* nelayan memahami tren permintaan;
* pemerintah daerah merencanakan distribusi;
* pelaku usaha menentukan investasi;
* serta masyarakat mengawasi perkembangan sektor perikanan.

Data pemerintah akan mempunyai nilai ekonomi apabila dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

## ETH: JANGAN HANYA HITUNG BERAPA IKAN DIMAKAN, HITUNG JUGA KESEJAHTERAAN NELAYAN

Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang menyambut adanya **Kepmen KP Nomor 60 Tahun 2026** sebagai dasar baru dalam penghitungan konsumsi ikan masyarakat.

Namun organisasi menegaskan bahwa angka konsumsi pada akhirnya harus dihubungkan dengan kehidupan manusia yang menghasilkan ikan.

**β€œJangan hanya hitung berapa kilogram ikan yang dimakan masyarakat. Hitung juga apakah nelayan memperoleh harga yang layak, apakah pendapatannya meningkat dan apakah keluarganya semakin sejahtera.”**

Menurut Satuan Nelayan ETH, konsumsi ikan nasional harus menjadi kekuatan untuk membangun pasar domestik yang kokoh.

Jika masyarakat semakin banyak mengonsumsi ikan, permintaan meningkat.

Jika sistem distribusi dan pasar dikelola dengan baik, permintaan tersebut dapat memperkuat ekonomi nelayan.

**KONSUMSI IKAN MENINGKAT β€” PASAR DOMESTIK KUAT β€” PRODUK NELAYAN TERSERAP β€” MASYARAKAT PESISIR SEJAHTERA.**

### CATATAN FAKTUAL

**Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 60 Tahun 2026 tentang Pedoman Penghitungan Konsumsi Ikan Masyarakat** ditetapkan pada **20 Agustus 2026** dan berstatus berlaku.

KKP mencatat Konsumsi Ikan Masyarakat tahun 2025 sebesar **26,08 kg/kapita/tahun**, total serapan ikan sekitar **7,34 juta ton**, dan target konsumsi tahun 2029 sebesar **28,63 kg/kapita/tahun**.

Pernyataan mengenai harga nelayan, penguatan koperasi, integrasi data produksi-konsumsi dan kepastian pasar dalam berita ini merupakan **rumusan sudut pemberitaan Satuan Nelayan Elang Tiga Hambalang**, bukan isi langsung Kepmen KP Nomor 60 Tahun 2026. Sebelum diterbitkan sebagai sikap resmi organisasi, bagian tersebut sebaiknya memperoleh persetujuan pengurus.

**Sumber utama:** JDIH Kementerian Kelautan dan Perikanan RI; Laporan Kinerja KKP Tahun 2025; dan dokumen perencanaan KKP 2025–2029.

banner 336x280