Pemerintah Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Ciptakan 2,4 Juta Lapangan Kerja, Satuan Mahasiswa ETH: Generasi Muda Harus Menjadi Pelaku Utama Pertumbuhan
**JAKARTA, 29 Agustus 2026** — Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 persen dapat menciptakan sekitar **2,4 juta lapangan pekerjaan**. Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang (ETH) menilai target tersebut perlu diterjemahkan menjadi kesempatan kerja yang nyata dan berkualitas, khususnya bagi...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
**JAKARTA, 29 Agustus 2026** — Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 persen dapat menciptakan sekitar **2,4 juta lapangan pekerjaan**. Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang (ETH) menilai target tersebut perlu diterjemahkan menjadi kesempatan kerja yang nyata dan berkualitas, khususnya bagi mahasiswa, lulusan baru dan generasi muda Indonesia.
Menteri Keuangan **Purbaya Yudhi Sadewa** pada Jumat, 28 Agustus 2026, menjelaskan proyeksi tersebut didasarkan pada perkiraan bahwa setiap pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen dapat menciptakan sekitar **400 ribu lapangan kerja**. Dengan pertumbuhan 6 persen, pemerintah memperkirakan sekitar 2,4 juta pekerjaan dapat tercipta. ([ANTARA News][1])
Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, **Reza Prasatria Dharma**, menilai pertumbuhan ekonomi harus dilihat bukan hanya melalui angka statistik, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat dan generasi muda.
**“Pertumbuhan ekonomi harus membuka pintu masa depan bagi generasi muda. Mahasiswa yang hari ini belajar di kampus harus mempunyai keyakinan bahwa setelah lulus tersedia kesempatan untuk bekerja, berwirausaha, berinovasi dan ikut membangun perekonomian Indonesia,”** kata Reza dalam draf pernyataan Satuan Mahasiswa ETH, Sabtu (29/8/2026).
### Target Pertumbuhan 6 Persen pada 2027
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada **2027 mencapai 6 persen secara tahunan**, sebagaimana tercantum dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan target pertumbuhan dalam APBN 2026 sebesar 5,4 persen. ([ANTARA News][1])
Dalam kerangka RAPBN 2027, pemerintah juga menargetkan tingkat pengangguran terbuka berada pada rentang **4,30–4,87 persen**.
Target kemiskinan ditetapkan pada kisaran **6,0–6,5 persen**, sementara rasio gini ditargetkan berada pada rentang 0,362–0,367. ([ANTARA News][1])
[Laporan ANTARA tentang proyeksi 2,4 juta lapangan kerja](https://www.antaranews.com/berita/5716135/purbaya-pertumbuhan-ekonomi-6-persen-ciptakan-24-juta-lapangan-kerja?utm_source=chatgpt.com)
### 2,4 Juta Pekerjaan Dinilai Belum Cukup
Purbaya juga mengakui bahwa proyeksi penciptaan 2,4 juta lapangan kerja tersebut **belum cukup untuk menyerap seluruh tenaga kerja usia kerja**.
Menurut perhitungannya, penyerapan tenaga kerja yang lebih luas membutuhkan pertumbuhan ekonomi sekitar **6,5–6,7 persen**. Karena itu, pemerintah ingin mendorong pertumbuhan ekonomi secara bertahap agar berlangsung semakin cepat dan mampu menyerap pengangguran. ([Antara News Yogyakarta][2])
Satuan Mahasiswa ETH menilai pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tantangan Indonesia tidak selesai hanya dengan mengejar pertumbuhan ekonomi.
**“Dua juta lebih lapangan pekerjaan tentu merupakan peluang besar apabila dapat diwujudkan. Tetapi persoalan berikutnya adalah kualitas pekerjaannya, besaran pendapatannya, perlindungan pekerjanya dan apakah generasi muda Indonesia memiliki kompetensi untuk mengisinya,”** ujar Reza.
### Sarjana Jangan Hanya Mengejar Ijazah
Menurut Satuan Mahasiswa ETH, perubahan struktur ekonomi menuntut mahasiswa mempersiapkan diri jauh sebelum wisuda.
Kemampuan akademik tetap penting, tetapi perlu dilengkapi keterampilan digital, penguasaan teknologi dan AI, komunikasi, bahasa asing, kepemimpinan, kewirausahaan, kreativitas serta kemampuan menyelesaikan persoalan.
Reza mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan ijazah sebagai satu-satunya modal memasuki dunia kerja.
**“Kampus memberi kita pendidikan, tetapi mahasiswa juga harus membangun kompetensinya sendiri. Jangan menunggu lulus baru bertanya pekerjaan apa yang tersedia. Sejak kuliah, mahasiswa harus mulai menentukan kemampuan apa yang akan membuat dirinya dibutuhkan,”** katanya.
### Kampus Harus Terhubung dengan Dunia Kerja
Satuan Mahasiswa ETH juga mendorong perguruan tinggi memperkuat hubungan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.
Program magang, sertifikasi kompetensi, inkubasi bisnis, penelitian terapan, kewirausahaan mahasiswa serta kerja sama kampus dengan industri dan UMKM dinilai perlu diperluas.
Tujuannya bukan menjadikan perguruan tinggi sekadar “pabrik tenaga kerja”, melainkan memastikan ilmu yang diperoleh mahasiswa dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata.
**“Pendidikan tinggi tetap harus melahirkan manusia yang kritis dan berintegritas. Tetapi mahasiswa juga membutuhkan keterampilan agar ilmu tersebut mempunyai nilai ketika diterapkan di masyarakat dan dunia kerja,”** ujar Reza.
### Jangan Hanya Menunggu Lowongan, Ciptakan Lapangan Kerja
Satuan Mahasiswa ETH mendorong mahasiswa melihat kewirausahaan sebagai salah satu pilihan setelah menyelesaikan pendidikan.
Menurut Reza, generasi muda mempunyai peluang besar mengembangkan usaha di bidang ekonomi digital, teknologi, industri kreatif, pangan, pertanian, perikanan, pariwisata, jasa profesional dan berbagai sektor lainnya.
Namun mahasiswa yang ingin menjadi pengusaha juga membutuhkan ekosistem yang mendukung, seperti akses pembiayaan, pelatihan, pendampingan, kemudahan legalitas dan pasar.
**“Indonesia membutuhkan generasi pencari kerja, tetapi juga membutuhkan generasi pencipta kerja. Satu mahasiswa yang berhasil membangun usaha dan mempekerjakan sepuluh orang sudah memberikan kontribusi nyata terhadap bangsa,”** katanya.
### Pertumbuhan Harus Menghasilkan Pekerjaan Berkualitas
Satuan Mahasiswa ETH menilai keberhasilan penciptaan lapangan kerja seharusnya tidak hanya dihitung berdasarkan jumlah orang yang bekerja.
Kualitas pekerjaan juga perlu diperhatikan, termasuk pendapatan yang layak, kepastian hubungan kerja, keselamatan kerja, jaminan sosial dan kesempatan meningkatkan kompetensi.
Reza menilai generasi muda membutuhkan pekerjaan yang memungkinkan mereka membangun masa depan.
**“Kita tentu membutuhkan jumlah lapangan kerja yang besar. Tetapi kita juga membutuhkan pekerjaan yang bermartabat dan memberikan kesempatan kepada anak muda untuk tumbuh,”** ujarnya.
### Mahasiswa Harus Ikut Mengawal Kebijakan Ekonomi
Satuan Mahasiswa ETH mengajak mahasiswa tidak melihat persoalan ekonomi sebagai urusan pemerintah dan pengusaha semata.
Kebijakan APBN, investasi, industri, pendidikan, ketenagakerjaan, UMKM dan ekonomi digital memiliki dampak langsung terhadap masa depan mahasiswa.
Karena itu, organisasi mahasiswa didorong melakukan kajian terhadap kebijakan ekonomi dan memberikan rekomendasi berbasis data.
**“Mahasiswa harus mampu membaca APBN, memahami data pengangguran, melihat kebutuhan industri dan mengkritisi kebijakan ekonomi dengan argumentasi. Gerakan mahasiswa akan jauh lebih kuat apabila kritik disertai data dan solusi,”** ujar Reza.
### Generasi Muda Harus Menjadi Pelaku Utama
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang berharap target pertumbuhan ekonomi 6 persen dapat benar-benar menghasilkan kesempatan kerja yang luas dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Namun keberhasilan tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha dan generasi muda.
**“Jangan jadikan mahasiswa dan pemuda hanya penonton pertumbuhan ekonomi. Berikan ruang kepada mereka menjadi pekerja profesional, peneliti, inovator, pengusaha dan pencipta lapangan kerja. Pertumbuhan Indonesia akan jauh lebih kuat ketika generasi mudanya menjadi pelaku utama,”** pungkas Reza.





