Inklusi Keuangan Indonesia Capai 93,62 Persen, Asosiasi Pengusaha ETH Dorong UMKM Maksimalkan QRIS dan Layanan Keuangan Digital
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat β 18 September 2026. Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong UMKM dan pengusaha nasional mempercepat penggunaan pembayaran digital, rekening usaha dan layanan keuangan formal sebagai bagian dari transformasi bisnis. Dorongan tersebut relevan dengan langkah pemerintah...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat β 18 September 2026. Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong UMKM dan pengusaha nasional mempercepat penggunaan pembayaran digital, rekening usaha dan layanan keuangan formal sebagai bagian dari transformasi bisnis. Dorongan tersebut relevan dengan langkah pemerintah memperluas kepemilikan rekening dan integrasi QRIS bagi masyarakat.
Pemerintah pada 8 September 2026 menyampaikan bahwa berdasarkan survei OJK dan BPS, tingkat inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 93,62 persen, sementara tingkat literasi keuangan berada pada 63,57 persen. Pemerintah juga membahas perluasan kepemilikan rekening serta integrasi QRIS untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal dan digital.
ETH: Digitalisasi Harus Menghasilkan Pertumbuhan Usaha
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai semakin luasnya akses keuangan perlu diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas pengusaha, bukan sekadar bertambahnya pengguna layanan digital.
βUMKM tidak cukup hanya mempunyai QRIS. Digitalisasi harus membantu pengusaha membangun pencatatan transaksi, memisahkan keuangan pribadi dan usaha, memperkuat laporan keuangan serta membuka akses yang lebih luas terhadap pembiayaan.β
Bagi pelaku usaha, transaksi digital yang terdokumentasi dengan baik dapat membantu membangun administrasi bisnis yang lebih tertib. Namun, kelayakan pembiayaan tetap bergantung pada persyaratan dan penilaian masing-masing lembaga keuangan.
Literasi Masih Perlu Diperkuat
Perbedaan antara tingkat inklusi keuangan 93,62 persen dan literasi 63,57 persen juga menunjukkan pentingnya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai produk dan risiko keuangan.
ETH menilai edukasi kepada pengusaha perlu mencakup pengelolaan arus kas, pembukuan, kredit produktif, keamanan transaksi digital, pembiayaan syariah hingga perlindungan terhadap penipuan keuangan.
βAkses keuangan yang luas harus diikuti kemampuan mengelola keuangan. Pengusaha harus memahami biaya, manfaat dan risiko setiap produk keuangan sebelum menggunakannya.β
ETH Dorong UMKM Digital Finance Center
Sebagai tindak lanjut, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong pembentukan ETH UMKM Digital Finance Center. Program ini dapat menjadi pusat pendampingan anggota untuk memperoleh NIB dan rekening usaha, menggunakan QRIS, membangun pembukuan digital, menyusun laporan keuangan sederhana serta mempersiapkan akses pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan usahanya.
ETH juga dapat membangun kolaborasi dengan perbankan, pemerintah, penyelenggara sistem pembayaran dan lembaga terkait untuk menyelenggarakan klinik keuangan bagi pengusaha.
Target akhirnya adalah membangun alur:
legalitas usaha β rekening bisnis β QRIS β pencatatan transaksi β laporan keuangan β akses pembiayaan β ekspansi usaha.
βETH ingin digitalisasi memberikan hasil yang konkret: transaksi lebih mudah, administrasi lebih tertib, akses pembiayaan semakin terbuka dan usaha semakin berkembang. Teknologi harus menjadi alat pengusaha Indonesia untuk naik kelas.β
Dengan agenda tersebut, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong transformasi digital yang tidak berhenti pada pembayaran nontunai, tetapi berkembang menjadi ekosistem pengelolaan usaha yang lebih profesional dan terhubung dengan sistem keuangan formal.





