Ekspor Indonesia Capai US$221,23 Miliar, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang Dorong UMKM dan Koperasi Masuk Rantai Pasok Perdagangan Global
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — Senin, 2 November 2026. Kinerja perdagangan internasional Indonesia menunjukkan perkembangan positif setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa nilai ekspor nasional sepanjang Januari–September 2026 telah mencapai US$221,23 miliar, meningkat 5,58 persen dibandingkan periode yang...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — Senin, 2 November 2026.
Kinerja perdagangan internasional Indonesia menunjukkan perkembangan positif setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa nilai ekspor nasional sepanjang Januari–September 2026 telah mencapai US$221,23 miliar, meningkat 5,58 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Perkembangan tersebut memperlihatkan kemampuan Indonesia mempertahankan kegiatan ekspor di tengah dinamika perekonomian global, perubahan harga komoditas, serta meningkatnya persaingan perdagangan antarnegara.
Berdasarkan data yang diumumkan BPS pada Senin, 2 November 2026, nilai ekspor Indonesia pada September 2026 mencapai US$27,59 miliar, meningkat 11,87 persen dibandingkan September tahun sebelumnya.
Sementara itu, ekspor nonmigas pada September 2026 tercatat sebesar US$26,64 miliar, meningkat 12,39 persen secara tahunan.
Penguatan tersebut menjadi perkembangan penting bagi kegiatan usaha nasional, khususnya industri pengolahan, perusahaan eksportir, pengusaha daerah, koperasi produktif, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Namun, peningkatan ekspor nasional perlu diikuti penguatan kapasitas produksi dalam negeri agar manfaat perdagangan internasional dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang perkembangan tersebut sebagai momentum untuk memperkuat kemampuan perusahaan nasional dalam menghasilkan produk bernilai tambah, meningkatkan kualitas produksi, serta memperluas jaringan perdagangan internasional.
Dalam pandangan Asosiasi Pengusaha ETH, pertumbuhan ekspor harus menjadi kesempatan bagi pengusaha kecil untuk meningkatkan skala bisnis, memperoleh akses pasar, dan membangun kemitraan dengan perusahaan besar.
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong pemerintah memastikan peningkatan ekspor Indonesia dapat memperkuat industri dalam negeri, membuka kesempatan usaha bagi UMKM dan koperasi, menciptakan lapangan pekerjaan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai daerah.
BPS Umumkan Ekspor Nasional Tumbuh 5,58 Persen
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik, Ateng Hartono, menyampaikan perkembangan perdagangan internasional Indonesia dalam rilis statistik resmi di Jakarta, Senin, 2 November 2026.
Berdasarkan data BPS, nilai ekspor nasional selama Januari–September 2026 mencapai US$221,23 miliar.
Nilai tersebut meningkat 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada September 2026 saja, ekspor Indonesia mencapai US$27,59 miliar.
Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan 11,87 persen dibandingkan September 2025.
Sementara itu, ekspor nonmigas September 2026 mencapai US$26,64 miliar atau meningkat 12,39 persen secara tahunan.
BPS juga melaporkan bahwa industri pengolahan menjadi salah satu kontributor penting terhadap peningkatan ekspor nasional.
Perkembangan tersebut menunjukkan pentingnya kegiatan manufaktur dalam mendukung perdagangan internasional Indonesia.
Namun, angka ekspor merupakan nilai perdagangan barang yang tercatat dalam statistik resmi.
Nilai tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai keuntungan bersih perusahaan atau pendapatan yang seluruhnya diterima produsen dalam negeri.
Biaya bahan baku, proses produksi, pengangkutan, pemasaran, dan kewajiban perdagangan tetap memengaruhi keuntungan yang diperoleh masing-masing perusahaan.
Asosiasi Pengusaha ETH Dorong Ekspor Berbasis Produksi Nasional
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai penguatan ekspor harus menjadi kesempatan meningkatkan kemampuan produksi nasional.
Indonesia membutuhkan lebih banyak perusahaan yang mampu mengolah bahan baku menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Pengembangan industri pengolahan dapat membuka kesempatan usaha bagi pemasok bahan baku, produsen komponen, perusahaan kemasan, penyedia jasa logistik, serta berbagai kegiatan pendukung lainnya.
Namun, keterlibatan perusahaan kecil membutuhkan peningkatan kemampuan teknis dan administrasi.
Karena itu, Asosiasi Pengusaha ETH mengusulkan agar pemerintah memperkuat program pengembangan pemasok nasional.
Perusahaan besar yang mempunyai jaringan ekspor perlu didorong membuka kesempatan kemitraan bagi UMKM dan koperasi yang memenuhi standar kualitas serta kelayakan usaha.
Peningkatan ekspor harus memperkuat kemampuan Indonesia menghasilkan produk sendiri sekaligus memperbesar kesempatan masyarakat membangun kegiatan ekonomi produktif.
Ekspor September Mencapai US$27,59 Miliar
Kinerja ekspor September 2026 menunjukkan perkembangan yang lebih kuat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Nilai ekspor pada September meningkat menjadi US$27,59 miliar.
Sebagai perbandingan, ekspor Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar US$26,61 miliar.
Perkembangan tersebut menunjukkan adanya peningkatan nilai ekspor secara bulanan.
Namun, kenaikan nilai ekspor tidak selalu berarti volume barang yang dikirim meningkat dengan persentase identik.
Nilai perdagangan juga dipengaruhi perubahan harga komoditas dan komposisi produk yang diekspor.
Karena itu, penilaian terhadap perkembangan perdagangan perlu memperhatikan jenis barang, tujuan ekspor, nilai transaksi, serta kondisi permintaan internasional.
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang peningkatan tersebut sebagai kesempatan untuk memperluas kegiatan produksi.
Namun, pemerintah perlu memastikan perusahaan nasional mampu mempertahankan kualitas dan memenuhi kebutuhan pembeli secara berkelanjutan.
Pengusaha Membutuhkan Kepastian Pasar
Asosiasi Pengusaha ETH menilai kepastian pasar menjadi salah satu faktor penting dalam kegiatan ekspor.
Perusahaan yang memperoleh pesanan dalam jumlah besar membutuhkan kemampuan menyediakan bahan baku, mengatur jadwal produksi, dan memenuhi kewajiban pengiriman.
Keterlambatan pengiriman dapat memengaruhi hubungan bisnis dengan pembeli.
Demikian pula, ketidaksesuaian kualitas barang dapat menimbulkan persoalan kontrak.
Karena itu, Asosiasi mendorong penguatan pendampingan ekspor kepada pengusaha nasional, khususnya UMKM yang baru memasuki pasar internasional.
Pendampingan perlu mencakup penyusunan kontrak perdagangan, standar produk, pengelolaan risiko pembayaran, serta ketentuan pengiriman barang.
Asosiasi Pengusaha ETH berpandangan bahwa keberhasilan perdagangan internasional tidak cukup hanya diukur dari nilai ekspor, tetapi juga dari kemampuan perusahaan menjaga hubungan bisnis dan meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan.
Impor Nasional Capai US$210,63 Miliar
Di tengah peningkatan ekspor, Badan Pusat Statistik juga melaporkan perkembangan impor Indonesia.
Sepanjang Januari–September 2026, nilai impor nasional mencapai US$210,63 miliar, meningkat 19,67 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pertumbuhan impor tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor yang mencapai 5,58 persen.
Berdasarkan selisih nilai ekspor dan impor yang diumumkan BPS, neraca perdagangan Indonesia selama sembilan bulan pertama 2026 masih mencatat surplus sekitar US$10,60 miliar.
Namun, perkembangan impor perlu dianalisis berdasarkan jenis barang yang masuk ke Indonesia.
Tidak seluruh barang impor merupakan produk konsumsi akhir.
Sebagian impor digunakan sebagai bahan baku, bahan penolong, dan barang modal untuk mendukung kegiatan produksi serta investasi dalam negeri.
Karena itu, kenaikan impor secara keseluruhan tidak dapat langsung disimpulkan sebagai tanda melemahnya industri nasional.
Namun, perkembangan tersebut tetap perlu menjadi perhatian dalam menyusun kebijakan penguatan produksi dalam negeri.
Asosiasi Pengusaha ETH Dorong Pengurangan Ketergantungan Impor yang Produktif
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang penguatan industri bahan baku dan komponen sebagai salah satu kebutuhan strategis Indonesia.
Perusahaan nasional perlu meningkatkan kemampuan memproduksi barang yang secara ekonomi dan teknologi layak dibuat di dalam negeri.
Namun, pengembangan tersebut harus mempertimbangkan kualitas produk, harga, kapasitas produksi, dan kebutuhan industri.
Pembatasan impor secara tidak proporsional dapat mengganggu kegiatan perusahaan apabila bahan baku pengganti belum tersedia.
Karena itu, Asosiasi mendorong penguatan produksi domestik melalui investasi, peningkatan teknologi, dan pengembangan pemasok lokal.
Kebijakan tersebut harus dilaksanakan secara bertahap dan mempertimbangkan kebutuhan dunia usaha.
Kemandirian industri harus dibangun melalui peningkatan produktivitas dan daya saing, bukan semata-mata melalui pembatasan barang impor.
Tiongkok, Amerika Serikat, dan India Menjadi Pasar Penting
Badan Pusat Statistik juga mengumumkan perkembangan negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–September 2026.
Tiongkok menjadi tujuan ekspor nonmigas terbesar dengan nilai US$54,17 miliar.
Amerika Serikat berada pada posisi berikutnya dengan nilai US$25,39 miliar.
Sementara itu, India mencatat nilai ekspor nonmigas dari Indonesia sebesar US$15,00 miliar.
Ketiga negara tersebut menjadi bagian penting dari jaringan perdagangan internasional Indonesia.
Namun, besarnya nilai ekspor kepada beberapa negara juga menunjukkan pentingnya memperluas diversifikasi pasar.
Perubahan permintaan, kebijakan perdagangan, maupun kondisi ekonomi di negara tujuan dapat memengaruhi kegiatan eksportir Indonesia.
Karena itu, pemerintah perlu terus memperkuat hubungan perdagangan dengan berbagai kawasan.
Asosiasi Pengusaha ETH Dorong Perluasan Pasar Ekspor
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai pengembangan pasar baru merupakan salah satu langkah untuk memperkuat ketahanan perdagangan nasional.
Perusahaan tidak seharusnya hanya bergantung pada satu negara tujuan atau satu kelompok pembeli.
Pemerintah bersama organisasi pengusaha perlu membantu eksportir mengidentifikasi peluang pasar yang sesuai dengan kemampuan produknya.
Kawasan Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika, dan negara-negara mitra perdagangan lainnya dapat dipertimbangkan berdasarkan permintaan serta ketentuan perdagangan yang berlaku.
Namun, perluasan pasar harus dilakukan berdasarkan kajian yang realistis.
Pengusaha membutuhkan informasi mengenai kebutuhan konsumen, standar produk, tarif, ketentuan pembayaran, dan biaya pengiriman.
Diversifikasi pasar ekspor diperlukan untuk membantu perusahaan Indonesia menjaga kesinambungan perdagangan dan mengurangi risiko ketergantungan terhadap pasar tertentu.
Industri Pengolahan Harus Menjadi Penggerak Ekonomi Daerah
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang industri pengolahan sebagai salah satu sektor yang mampu menghubungkan kegiatan produksi masyarakat dengan pasar internasional.
Indonesia mempunyai berbagai sumber bahan baku dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan pertambangan.
Namun, pengembangan nilai tambah membutuhkan kemampuan teknologi, pembiayaan, serta sumber daya manusia.
Perusahaan pengolahan dapat menciptakan kebutuhan terhadap berbagai barang dan jasa pendukung.
Kebutuhan tersebut berpotensi membuka kesempatan bagi pengusaha daerah.
Sebagai contoh, industri pengolahan hasil pertanian membutuhkan pemasok bahan baku, perusahaan pengemasan, jasa transportasi, serta fasilitas penyimpanan.
Sementara itu, industri pengolahan perikanan membutuhkan fasilitas pengendalian mutu, rantai dingin, dan distribusi.
Asosiasi Pengusaha ETH mendorong pemerintah memperkuat pembangunan industri pengolahan berdasarkan potensi ekonomi masing-masing daerah.
Pengembangan tersebut perlu melibatkan perusahaan nasional serta koperasi dan UMKM yang mempunyai kemampuan memenuhi standar industri.
UMKM Harus Mendapat Kesempatan Menjadi Eksportir
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai peningkatan perdagangan internasional harus menjadi momentum memperluas partisipasi UMKM.
Selama ini, sebagian pengusaha kecil mempunyai produk berkualitas tetapi menghadapi keterbatasan jaringan pemasaran dan kemampuan administrasi.
Pengusaha yang ingin melakukan ekspor perlu memahami berbagai ketentuan.
Persyaratan tersebut dapat mencakup legalitas usaha, standardisasi, pengemasan, sertifikasi produk, dokumen perdagangan, serta ketentuan negara tujuan.
Selain itu, pengusaha membutuhkan kemampuan produksi yang konsisten.
Karena itu, program pengembangan ekspor perlu disesuaikan dengan tingkat kesiapan masing-masing UMKM.
Pengusaha yang belum mampu melakukan ekspor langsung juga dapat memperoleh manfaat melalui kemitraan sebagai pemasok perusahaan eksportir.
Asosiasi Pengusaha ETH Dorong Pendampingan Eksportir Pemula
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mengusulkan agar pemerintah memperluas program pelatihan dan pendampingan bagi UMKM yang mempunyai produk berorientasi ekspor.
Program tersebut dapat melibatkan Kementerian Perdagangan, pemerintah daerah, lembaga pembiayaan, perguruan tinggi, dan organisasi pengusaha.
Pendampingan harus membantu peserta memahami proses perdagangan secara menyeluruh.
Pengusaha perlu memperoleh informasi mengenai penentuan harga ekspor, penghitungan biaya logistik, pengelolaan risiko pembayaran, dan ketentuan kontrak.
Asosiasi juga mendorong kerja sama antara pengusaha kecil dengan eksportir yang telah mempunyai pengalaman.
UMKM naik kelas harus diwujudkan melalui peningkatan kemampuan produksi, pertumbuhan keuntungan, dan perluasan pasar yang berkelanjutan.
Koperasi Produktif Berpeluang Masuk Rantai Pasok Ekspor
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang koperasi mempunyai peluang besar untuk memperkuat kegiatan ekspor nasional.
Koperasi pertanian dapat membantu mengumpulkan hasil panen anggota untuk memenuhi kebutuhan perusahaan pengolahan.
Koperasi perkebunan dapat memperkuat penyediaan bahan baku komoditas ekspor.
Sementara itu, koperasi perikanan berpotensi membantu nelayan dan pembudidaya ikan menjaga kualitas serta kontinuitas pasokan.
Koperasi produsen juga dapat membantu sejumlah UMKM menggabungkan kapasitas produksi.
Namun, pengembangan usaha tersebut membutuhkan tata kelola yang profesional.
Koperasi harus mampu memenuhi kewajiban kontrak, menjaga kualitas, dan melaksanakan pencatatan transaksi secara transparan.
Asosiasi Pengusaha ETH mengusulkan peningkatan pendampingan koperasi agar mampu menjadi bagian dari rantai pasok perusahaan eksportir.
Koperasi Harus Memberikan Manfaat kepada Anggota
Asosiasi Pengusaha ETH menegaskan bahwa pengembangan koperasi harus berorientasi pada peningkatan kemampuan ekonomi anggota.
Koperasi tidak cukup hanya mempunyai legalitas dan fasilitas usaha.
Kegiatan bisnis harus mampu menghasilkan manfaat yang dapat diukur.
Pemerintah perlu membantu koperasi meningkatkan kemampuan pengelolaan keuangan, produksi, pemasaran, dan manajemen risiko.
Hubungan koperasi dengan perusahaan eksportir harus dilaksanakan berdasarkan perjanjian yang jelas.
Koperasi yang profesional dapat menjadi penghubung antara produsen kecil dan pasar global melalui kegiatan usaha yang transparan serta saling menguntungkan.
Pembiayaan Ekspor Harus Menjangkau Pengusaha Daerah
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang akses pembiayaan sebagai salah satu faktor penting dalam memperkuat kegiatan ekspor.
Perusahaan membutuhkan modal untuk membeli bahan baku, meningkatkan produksi, menyediakan kemasan, dan memenuhi kewajiban pengiriman.
Namun, peningkatan pesanan tidak selalu diikuti ketersediaan modal kerja yang memadai.
Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan bagi UMKM.
Karena itu, Asosiasi mendorong pemerintah bersama perbankan dan lembaga pembiayaan resmi meningkatkan pelayanan bagi pengusaha yang mempunyai prospek ekspor layak.
Pembiayaan harus didasarkan pada kebutuhan usaha, kemampuan pembayaran, serta profil risiko.
Pengusaha juga perlu memperoleh edukasi mengenai perlindungan transaksi internasional.
Penggunaan fasilitas penjaminan dan asuransi ekspor dapat dipertimbangkan sesuai jenis transaksi serta persyaratan lembaga penyedia.
Pembiayaan yang sehat harus membantu pengusaha meningkatkan produksi dan keuntungan, bukan menciptakan beban keuangan yang tidak didukung kemampuan bisnis.
Digitalisasi Perdagangan Perlu Diperluas
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai teknologi digital mempunyai peran penting dalam meningkatkan kemampuan perdagangan.
Pengusaha dapat menggunakan teknologi untuk memperkenalkan produk, membangun komunikasi dengan pembeli, mengelola transaksi, serta memantau pengiriman.
Namun, penggunaan teknologi tidak otomatis menjamin keberhasilan ekspor.
Pelaku usaha tetap membutuhkan kualitas produk, kemampuan produksi, dan hubungan bisnis yang profesional.
Asosiasi mendorong pemerintah memperkuat pendampingan digitalisasi UMKM dan koperasi.
Pelatihan perlu membantu pengusaha memahami pemasaran digital, pencatatan keuangan, perlindungan data, serta keamanan transaksi.
Perguruan tinggi dan lembaga pelatihan dapat dilibatkan untuk meningkatkan kemampuan tersebut.
Digitalisasi perdagangan harus menjadi sarana memperluas pasar dan meningkatkan efisiensi usaha, bukan sekadar menambah penggunaan aplikasi tanpa manfaat ekonomi yang terukur.
Lima Rekomendasi Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang
Sebagai kontribusi terhadap penguatan ekspor nasional dan pemberdayaan dunia usaha, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menyampaikan lima rekomendasi strategis.
Pertama, memperluas kemitraan eksportir dengan UMKM dan koperasi.
Pemerintah perlu mendorong perusahaan eksportir membuka kesempatan kerja sama kepada pemasok lokal yang memenuhi persyaratan kualitas dan kelayakan usaha.
Program tersebut harus disertai pendampingan agar pengusaha kecil mampu meningkatkan kapasitas produksi.
Kedua, meningkatkan nilai tambah produk Indonesia melalui penguatan industri pengolahan.
Pemerintah perlu memperkuat investasi produktif, peningkatan teknologi, standardisasi, dan pengembangan produk berbasis bahan baku dalam negeri.
Langkah tersebut diharapkan memperbesar manfaat perdagangan bagi masyarakat.
Ketiga, memperluas akses pembiayaan dan perlindungan transaksi ekspor.
Perbankan serta lembaga pembiayaan perlu meningkatkan pelayanan kepada UMKM yang mempunyai prospek bisnis layak.
Pengusaha juga membutuhkan pendidikan kontrak perdagangan, mekanisme pembayaran, serta pengelolaan risiko.
Keempat, memperkuat diversifikasi pasar dan efisiensi logistik.
Pemerintah perlu memperluas promosi perdagangan ke negara tujuan potensial sekaligus meningkatkan kualitas infrastruktur transportasi, pergudangan, dan distribusi.
Penguatan tersebut harus memperhatikan kebutuhan eksportir dari berbagai daerah.
Kelima, mengevaluasi manfaat pertumbuhan ekspor secara berkala.
Pemerintah perlu mengukur perkembangan jumlah eksportir aktif, keterlibatan pemasok UMKM, pertumbuhan koperasi, peningkatan kapasitas produksi, penciptaan lapangan pekerjaan, serta kontribusi perdagangan terhadap ekonomi daerah.
Asosiasi Pengusaha ETH Dorong Pengawasan Perdagangan yang Konstruktif
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang transparansi sebagai bagian penting dalam membangun kepercayaan dunia usaha.
Peningkatan ekspor nasional perlu diikuti evaluasi yang membedakan antara nilai perdagangan, pertumbuhan produksi, serta manfaat ekonomi yang diterima perusahaan.
Pemerintah juga perlu memperhatikan perkembangan impor agar kebijakan perdagangan tetap mendukung kebutuhan produksi dalam negeri.
Namun, pengawasan harus dilakukan berdasarkan data dan ketentuan hukum.
Kenaikan impor tidak otomatis membuktikan adanya pelanggaran perdagangan.
Demikian pula, peningkatan ekspor suatu perusahaan tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh pemasok telah menerima manfaat ekonomi yang sama.
Karena itu, Asosiasi mendorong evaluasi berdasarkan jenis produk, wilayah, dan karakter kegiatan usaha.
Informasi agregat mengenai perkembangan perdagangan dapat membantu pengusaha mengambil keputusan bisnis yang lebih tepat.
Asosiasi Pengusaha ETH berpandangan bahwa kontrol sosial yang konstruktif harus menjadi sarana memperbaiki kebijakan, meningkatkan kepastian berusaha, menjaga persaingan yang sehat, dan memperkuat daya saing perusahaan nasional.
Perdagangan Internasional Harus Memperkuat Ekonomi Rakyat
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai perdagangan internasional mempunyai hubungan yang luas dengan kegiatan ekonomi masyarakat.
Ekspor tidak hanya melibatkan perusahaan yang mengirimkan barang ke luar negeri.
Kegiatan tersebut juga membutuhkan bahan baku, tenaga kerja, transportasi, pengemasan, penyimpanan, dan berbagai jasa pendukung.
Karena itu, peningkatan ekspor berpotensi menciptakan kesempatan usaha bagi lebih banyak masyarakat.
Namun, manfaat tersebut membutuhkan hubungan bisnis yang sehat.
Perusahaan besar diharapkan membangun kemitraan dengan pemasok lokal yang memenuhi persyaratan.
Koperasi perlu memperkuat kemampuan manajemen agar mampu membantu anggotanya.
Sementara itu, UMKM membutuhkan akses teknologi, pembiayaan, dan pasar.
Asosiasi mendorong pemerintah pusat dan daerah memperkuat ekosistem industri serta perdagangan yang melibatkan berbagai kelompok usaha.
Pengembangan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan ekonomi nasional sekaligus memperluas lapangan pekerjaan.
Asosiasi Pengusaha ETH: Ekspor Kuat, UMKM Maju, Koperasi Produktif, Indonesia Semakin Mandiri
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang peningkatan ekspor Indonesia menjadi US$221,23 miliar sepanjang Januari–September 2026 sebagai perkembangan positif yang perlu dijaga melalui kebijakan ekonomi yang konsisten.
Namun, keberhasilan perdagangan internasional harus diwujudkan melalui peningkatan produksi dan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah perlu memperkuat kepastian hukum, efisiensi logistik, ketersediaan bahan baku, serta kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pasar.
Perusahaan besar diharapkan membuka kesempatan kemitraan yang adil dengan pengusaha kecil.
UMKM perlu memperoleh pendampingan agar mampu meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi.
Sementara itu, koperasi harus dikelola secara profesional agar mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional.
Asosiasi Pengusaha ETH juga mendorong pengembangan industri pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah produk Indonesia.
Dengan demikian, pertumbuhan perdagangan diharapkan dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang berpandangan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia harus dibangun melalui ekspor yang produktif, industri nasional yang berdaya saing, pengusaha daerah yang berkembang, koperasi yang profesional, serta UMKM yang mampu meningkatkan skala usahanya secara berkelanjutan.
Keberhasilan ekspor nasional tidak hanya ditentukan oleh besarnya nilai perdagangan, tetapi juga oleh kemampuan menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan produsen, memperkuat industri dalam negeri, dan memperluas kesempatan masyarakat membangun usaha yang mandiri.
Melalui penguatan kemitraan, peningkatan teknologi, pembiayaan yang sehat, perluasan pasar, serta pengawasan yang bertanggung jawab, Indonesia diharapkan semakin mampu membangun perekonomian nasional yang tangguh dan kompetitif di pasar internasional.
ASOSIASI PENGUSAHA ELANG TIGA HAMBALANG
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Senin, 2 November 2026





