Kredit UMKM Baru Tumbuh 1,05 Persen, Asosiasi Pengusaha ETH Dorong Akses Modal Pengusaha Kecil Dipercepat
Dari Hambalang, ETH Nilai Pertumbuhan Kredit Korporasi yang Jauh Lebih Tinggi Harus Diimbangi Penguatan Pembiayaan bagi UMKM Produktif HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — 31 Agustus 2026 — Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong perbankan dan lembaga jasa keuangan memperluas...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Dari Hambalang, ETH Nilai Pertumbuhan Kredit Korporasi yang Jauh Lebih Tinggi Harus Diimbangi Penguatan Pembiayaan bagi UMKM Produktif
HAMBALANG, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT — 31 Agustus 2026 — Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong perbankan dan lembaga jasa keuangan memperluas pembiayaan produktif bagi usaha mikro, kecil, dan menengah setelah data terbaru Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan pertumbuhan kredit UMKM masih jauh di bawah kredit korporasi.
OJK mencatat kredit UMKM pada Juni 2026 tumbuh 1,05 persen secara tahunan, membaik dari pertumbuhan 0,60 persen pada Mei 2026. Pada periode yang sama, kredit korporasi justru tumbuh 20,45 persen secara tahunan.
Perbedaan tersebut menjadi perhatian karena UMKM merupakan kelompok pengusaha yang membutuhkan pembiayaan untuk modal kerja, pembelian mesin, bahan baku, digitalisasi, perluasan pasar hingga peningkatan kapasitas produksi.
Kredit Investasi Tumbuh 24,9 Persen
Secara keseluruhan, OJK mencatat kredit investasi tumbuh paling tinggi sebesar 24,9 persen, disusul kredit modal kerja sebesar 8,94 persen dan kredit konsumsi sebesar 5,75 persen.
Data tersebut menunjukkan aktivitas pembiayaan ekonomi tetap berkembang.
Namun tantangan berikutnya adalah memperbesar porsi pengusaha kecil dan menengah yang mampu masuk ke dalam pertumbuhan pembiayaan tersebut.
Bagi UMKM, memperoleh kredit sering kali bukan semata persoalan ada atau tidaknya bank yang menyediakan dana. Pengusaha juga harus memiliki pembukuan, legalitas, rekam jejak transaksi serta model usaha yang dinilai layak mendapatkan pembiayaan.
Total Pembiayaan UMKM Capai Rp1.948,72 Triliun
Secara lebih luas, OJK pada 11 Agustus 2026 mencatat total pembiayaan UMKM dari industri jasa keuangan telah mencapai Rp1.948,72 triliun.
OJK menekankan perlunya konektivitas berbagai program pemerintah, kementerian/lembaga, perbankan dan sektor jasa keuangan untuk membuat akses pembiayaan UMKM semakin inklusif dan mendorong usaha naik kelas.
Besarnya nilai pembiayaan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem keuangan untuk UMKM sudah tersedia. Persoalan yang perlu diperkuat adalah bagaimana lebih banyak pengusaha yang belum bankable dapat dipersiapkan untuk masuk ke ekosistem tersebut.
Aturan OJK Meminta Pembiayaan UMKM Mudah, Cepat dan Inklusif
OJK melalui POJK Nomor 19 Tahun 2025 telah mengatur kemudahan akses pembiayaan UMKM.
Peraturan tersebut mengamanatkan bank dan lembaga keuangan nonbank untuk memberikan kemudahan pembiayaan berdasarkan prinsip mudah, tepat, cepat, murah dan inklusif.
Bentuknya dapat berupa skema pembiayaan yang disesuaikan dengan karakteristik usaha, percepatan proses penyaluran, biaya yang wajar, penggunaan teknologi serta kemitraan untuk mendukung pembiayaan UMKM.
Ketentuan ini dapat menjadi dasar penting bagi organisasi pengusaha untuk membantu anggotanya memahami hak, persyaratan dan pilihan pembiayaan yang tersedia.
ETH Dorong Posko Akses Modal Pengusaha
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang dapat mengambil langkah konkret dengan membentuk Posko Akses Modal Pengusaha ETH.
Program tersebut dapat membantu pengusaha dalam:
- memeriksa kelengkapan legalitas perusahaan;
- membuat pembukuan dan laporan keuangan;
- menyusun profil serta rencana pengembangan usaha;
- menentukan kebutuhan modal kerja dan investasi;
- mencari skema pembiayaan yang sesuai;
- mempersiapkan dokumen pengajuan kredit;
- serta mempertemukan pengusaha dengan bank dan lembaga pembiayaan.
ETH juga dapat membangun database mengenai masalah pembiayaan yang paling sering dialami anggota di daerah.
Data tersebut kemudian dapat digunakan sebagai bahan komunikasi dengan OJK, Bank Indonesia, perbankan dan pemerintah.
Fintech Juga Semakin Membiayai UMKM
Alternatif pembiayaan di luar perbankan juga berkembang.
OJK mencatat pembiayaan industri pinjaman daring atau Pindar/fintech lending kepada UMKM mencapai Rp35,12 triliun pada Juni 2026, tumbuh 23,25 persen secara tahunan.
Angka tersebut setara sekitar 33,41 persen dari total pembiayaan Pindar sebesar Rp105,14 triliun. ([OJK Portal][4])
Perkembangan ini membuka alternatif bagi pengusaha, tetapi harus dibarengi edukasi mengenai biaya, kemampuan membayar, legalitas penyelenggara dan risiko pembiayaan.
Asosiasi pengusaha dapat berperan membantu anggota membedakan pembiayaan yang sehat dengan pinjaman yang justru berpotensi menambah persoalan usaha.
Jangan Hanya Meminta Kredit, Pengusaha Harus Dibuat Layak Kredit
Salah satu agenda penting ETH dapat diarahkan pada peningkatan bankability anggota.
Pengusaha yang mempunyai laporan transaksi jelas, arus kas sehat, legalitas lengkap dan pasar yang terukur memiliki posisi lebih kuat ketika berhadapan dengan lembaga pembiayaan.
Karena itu, advokasi kepada bank perlu berjalan bersamaan dengan peningkatan kualitas perusahaan.
Skemanya dapat dibangun menjadi:
LEGALITAS → PEMBUKUAN → BANKABILITY → PEMBIAYAAN → PRODUKSI → PASAR → NAIK KELAS
** Pernyataan Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang**
Untuk mendapat persetujuan organisasi sebelum digunakan sebagai kutipan resmi:
“Ketika kredit korporasi tumbuh 20,45 persen sementara kredit UMKM baru 1,05 persen, ini harus menjadi perhatian bersama. Pengusaha kecil yang sehat dan produktif juga membutuhkan kesempatan memperoleh modal untuk tumbuh. Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang ingin ikut menjembatani pengusaha dengan lembaga pembiayaan sekaligus membantu mereka menjadi lebih bankable.”
Dari Hambalang, ETH Dorong Pembiayaan yang Menghasilkan Usaha Baru
Pembiayaan UMKM seharusnya tidak hanya dinilai dari jumlah kredit yang berhasil dicairkan.
Ukuran keberhasilannya harus terlihat dari peningkatan omzet, kapasitas produksi, jumlah pekerja, perluasan pasar dan bertambahnya pengusaha yang naik kelas.
Dari Hambalang, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong pembangunan ekosistem yang menghubungkan pengusaha, perbankan, OJK, pemerintah dan pasar agar akses permodalan semakin merata bagi pelaku usaha Indonesia.





