EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Global, Nasional

Menag Sebut Kurikulum Berbasis Cinta Bangun Kepedulian Sosial Dan Tanggung Jawab terhadap Lingkungan

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

elangtigaglobalnew, Jakarta -Kementerian Agama (Kemenag) RI terus mengakselerasi pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai terobosan dalam pendidikan agama yang menitikberatkan pada penanaman nilai kasih sayang, toleransi, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Melalui pendekatan ini, pendidikan agama tidak...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

elangtigaglobalnew, Jakarta -Kementerian Agama (Kemenag) RI terus mengakselerasi pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai terobosan dalam pendidikan agama yang menitikberatkan pada penanaman nilai kasih sayang, toleransi, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Melalui pendekatan ini, pendidikan agama tidak hanya berfokus pada penguasaan teori, tetapi juga diarahkan untuk membentuk karakter dan perilaku peserta didik dalam kehidupan nyata.

Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pendidikan agama harus mampu menghadirkan pemahaman yang mendalam sehingga umat semakin dekat dengan ajaran agamanya masing-masing. Menurutnya, pemahaman agama yang utuh justru akan melahirkan sikap toleran, menghargai perbedaan, serta menumbuhkan rasa cinta kasih kepada sesama manusia.

banner 468x60

“Target jangka panjang kami adalah bagaimana semua umat beragama semakin dekat dan lengket dengan ajaran agamanya masing-masing. Semakin dalam seseorang memahami agamanya, maka ia akan semakin toleran dan penuh cinta kasih terhadap sesama,” kata Menag Nasaruddin Umar saat menjadi narasumber Podcast Open The Door di Jakarta, dikutip dari laman resmi Kemenag, Senin (20/7/2026).

KBC, kata dia, dikembangkan untuk menanamkan nilai cinta kepada Tuhan, sesama manusia, makhluk hidup, dan lingkungan. Nilai tersebut menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama dalam memperkuat pendidikan agama yang humanis, moderat, dan relevan dengan kehidupan masyarakat.

Pendidikan berbasis cinta, menurut Menag, juga penting untuk membangun kesadaran peserta didik terhadap kelestarian alam. Ia menilai, menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan dan keagamaan yang perlu dikenalkan sejak dini melalui proses pendidikan. “Pemanfaatan alam boleh dilakukan, tetapi tidak boleh melampaui batas kewajaran dan daya dukungnya. Eksploitasi yang merusak lingkungan harus dicegah,” ujarnya.

Ditambahkan oleh Menag bahwa ajaran agama pada prinsipnya memuat pesan moral untuk mencegah kerusakan dan penggunaan sumber daya alam secara berlebihan. Pesan tersebut perlu diperkuat dalam pembelajaran agar peserta didik memahami pentingnya menjaga kehidupan, menghargai sesama makhluk, dan memperlakukan lingkungan secara bertanggung jawab.

Adapun Kementerian Agama mencatat adanya respons positif dari sejumlah pengawas pendidikan terhadap pengembangan KBC. Dalam pertemuan bersama pengawas pendidikan dari berbagai daerah di Bandung, para pengawas menyampaikan sejumlah pengalaman awal yang menunjukkan bahwa pendekatan ini dinilai membantu memperkuat suasana pembelajaran yang lebih humanis, harmonis, dan menghargai perbedaan.

Kedalaman dalam memahami agama, tegas Menag, semestinya memperkuat toleransi dan kepedulian, bukan memperlebar jarak antarmasyarakat. “Saya yakin, semakin kita mendalami agama masing-masing, kita akan semakin toleran satu sama lain. Semua agama mengajarkan cinta kepada manusia, makhluk hidup, dan alam,” katanya.

Kementerian Agama, melalui penguatan KBC, berupaya menghadirkan pendidikan agama yang membentuk karakter peserta didik secara utuh. Kurikulum ini diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi yang berakhlak, menghargai perbedaan, peduli terhadap sesama, serta bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan.

banner 336x280