PMI Manufaktur Indonesia Naik ke 54,0, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang Dorong UMKM Masuk Rantai Pasok Industri dan Perluasan Lapangan Kerja
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — Senin, 2 November 2026. Industri manufaktur Indonesia menunjukkan penguatan pada awal triwulan IV 2026 setelah Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dibandingkan 52,4 pada...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — Senin, 2 November 2026.
Industri manufaktur Indonesia menunjukkan penguatan pada awal triwulan IV 2026 setelah Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dibandingkan 52,4 pada September 2026.
Peningkatan sebesar 1,6 poin tersebut menjadi perkembangan positif bagi kegiatan industri nasional di tengah dinamika perdagangan internasional, perubahan biaya produksi, dan persaingan pasar global.
Berdasarkan laporan S&P Global yang diumumkan pada Senin, 2 November 2026, kondisi manufaktur Indonesia mengalami ekspansi yang lebih kuat, didukung meningkatnya permintaan domestik dan pesanan ekspor.
Peningkatan pesanan baru mendorong perusahaan memperbesar kegiatan produksi, menambah pembelian bahan baku, serta memperkuat persediaan untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Pertumbuhan pesanan ekspor bahkan tercatat mencapai laju tercepat sejak survei PMI Indonesia dimulai pada April 2011.
Perkembangan tersebut menunjukkan adanya peluang peningkatan permintaan terhadap produk industri Indonesia di pasar internasional.
Namun, penguatan aktivitas manufaktur belum sepenuhnya diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Perusahaan juga masih menghadapi tekanan kenaikan biaya bahan baku dan energi, serta pengaruh perubahan nilai tukar terhadap kebutuhan produksi.
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang perkembangan tersebut sebagai momentum strategis untuk memperkuat struktur industri nasional, meningkatkan kemampuan pengusaha daerah, serta memperluas keterlibatan koperasi dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam rantai pasok manufaktur.
Dalam pandangan Asosiasi Pengusaha ETH, pertumbuhan industri harus diwujudkan melalui peningkatan kegiatan produksi dalam negeri, penciptaan lapangan pekerjaan, pengembangan teknologi, dan kesempatan usaha yang lebih luas bagi masyarakat.
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mendorong pemerintah memperkuat kolaborasi antara perusahaan besar, UMKM, koperasi, dan industri kecil agar peningkatan aktivitas manufaktur nasional mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang semakin merata dan berkelanjutan.
S&P Global Catat PMI Manufaktur Indonesia Capai 54,0
S&P Global mengumumkan bahwa PMI Manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 mencapai 54,0.
Angka tersebut meningkat dari 52,4 pada September 2026 dan berada di atas batas netral 50,0 yang memisahkan kondisi ekspansi dengan kontraksi.
PMI merupakan indikator yang disusun berdasarkan survei terhadap perusahaan manufaktur untuk menggambarkan perkembangan kondisi usaha dibandingkan bulan sebelumnya.
Indikator tersebut mencakup berbagai aspek kegiatan perusahaan, termasuk pesanan baru, produksi, tenaga kerja, waktu pengiriman pemasok, dan persediaan barang.
Nilai indeks di atas 50 menunjukkan adanya perbaikan kondisi kegiatan manufaktur secara agregat dibandingkan periode sebelumnya.
Sementara itu, angka di bawah 50 menunjukkan kecenderungan penurunan kondisi kegiatan usaha yang diukur.
Karena itu, PMI sebesar 54,0 bukan berarti produksi industri Indonesia tumbuh 54 persen.
Angka tersebut merupakan nilai indeks yang menggambarkan arah dan kekuatan perubahan kondisi manufaktur.
Laporan Oktober menunjukkan penguatan aktivitas industri yang menjadi salah satu perkembangan terbaik sejak Maret 2024.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menjelaskan bahwa peningkatan permintaan baru menjadi salah satu faktor utama yang mendukung penguatan kegiatan produksi pada awal triwulan IV 2026.
Perusahaan merespons peningkatan permintaan tersebut melalui penambahan aktivitas pembelian bahan baku dan penguatan persediaan untuk mendukung proses produksi.
Namun, pertumbuhan aktivitas perusahaan tetap perlu dilihat bersama perkembangan biaya produksi, tenaga kerja, dan permintaan pasar.
Asosiasi Pengusaha ETH Dorong Pertumbuhan Industri yang Berkelanjutan
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai kenaikan PMI menjadi 54,0 merupakan sinyal positif bagi dunia usaha nasional.
Namun, peningkatan indeks harus diikuti pengembangan kegiatan bisnis yang memberikan manfaat ekonomi nyata.
Perusahaan membutuhkan kepastian bahan baku, tenaga kerja terampil, fasilitas produksi, serta jaringan distribusi yang efisien.
Pemerintah perlu memperkuat kebijakan yang membantu perusahaan meningkatkan produktivitas dan memenuhi kebutuhan pasar.
Asosiasi juga mendorong agar perusahaan besar memperluas kesempatan kerja sama dengan pengusaha lokal yang memenuhi standar industri.
Pertumbuhan manufaktur yang sehat harus membantu meningkatkan kemampuan produksi nasional sekaligus menciptakan kesempatan bagi pengusaha kecil untuk berkembang menjadi bagian dari industri yang lebih besar.
Pesanan Baru Industri Meningkat, Peluang Produksi Semakin Terbuka
Salah satu perkembangan penting dalam laporan S&P Global adalah peningkatan pesanan baru perusahaan manufaktur.
Pada Oktober 2026, pesanan baru tercatat meningkat selama tiga bulan berturut-turut.
Laju pertumbuhan pesanan baru tersebut menjadi salah satu yang tercepat dalam lima tahun terakhir.
Peningkatan permintaan didukung perkembangan kepercayaan konsumen serta peluncuran produk baru oleh perusahaan.
Kondisi tersebut mendorong kegiatan produksi manufaktur meningkat lebih kuat.
Pertumbuhan volume produksi pada Oktober juga dilaporkan menjadi yang tercepat sejak Maret 2024.
Namun, besarnya peningkatan produksi setiap perusahaan dapat berbeda sesuai sektor, kapasitas fasilitas, dan kondisi permintaan masing-masing.
Peningkatan pesanan tidak otomatis menunjukkan seluruh perusahaan mengalami pertumbuhan keuntungan.
Perusahaan tetap harus memperhitungkan biaya produksi, harga jual, kemampuan memenuhi pesanan, dan berbagai risiko bisnis.
Asosiasi Pengusaha ETH Dorong UMKM Menjadi Pemasok Industri
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang peningkatan pesanan manufaktur sebagai peluang bagi UMKM untuk memperluas kegiatan usaha.
Perusahaan manufaktur membutuhkan berbagai barang dan jasa pendukung.
Kebutuhan tersebut dapat mencakup penyediaan bahan baku, komponen, kemasan, transportasi, pergudangan, pemeliharaan peralatan, dan jasa operasional lainnya.
Sebagian kebutuhan tersebut berpotensi dipenuhi pengusaha daerah yang memiliki kemampuan teknis dan administrasi.
Namun, UMKM membutuhkan pendampingan untuk meningkatkan kualitas serta kapasitas produksinya.
Asosiasi Pengusaha ETH mengusulkan agar pemerintah memperkuat program pengembangan pemasok nasional yang menghubungkan perusahaan manufaktur dengan UMKM dan koperasi produktif.
Perusahaan besar juga perlu didorong membuka informasi kebutuhan pengadaan secara transparan.
Pengusaha kecil yang memenuhi persyaratan harus memperoleh kesempatan mengikuti proses pemilihan pemasok secara adil.
Asosiasi Pengusaha ETH berpandangan bahwa pertumbuhan industri nasional harus mampu meningkatkan jumlah UMKM yang menjadi produsen dan pemasok, bukan hanya memperbesar aktivitas perusahaan yang telah memiliki modal kuat.
Pesanan Ekspor Meningkat, Produk Indonesia Semakin Berpeluang di Pasar Global
Perkembangan positif lainnya terlihat pada peningkatan permintaan produk manufaktur Indonesia dari pasar internasional.
S&P Global mencatat bahwa pesanan ekspor baru pada Oktober 2026 meningkat dengan laju tercepat sejak survei manufaktur Indonesia dimulai pada April 2011.
Perkembangan tersebut menunjukkan adanya peningkatan minat pembeli internasional terhadap produk manufaktur Indonesia.
Namun, indikator pesanan ekspor perlu dibedakan dari nilai ekspor barang yang telah tercatat dalam statistik perdagangan resmi.
PMI menggambarkan perubahan kondisi pesanan berdasarkan survei perusahaan.
Sementara itu, nilai ekspor nasional dalam satuan dolar Amerika Serikat dihitung melalui statistik perdagangan yang mempunyai metode dan cakupan berbeda.
Dengan demikian, peningkatan pesanan ekspor dalam survei PMI tidak otomatis menunjukkan nilai ekspor nasional meningkat dengan persentase tertentu.
Realisasi perdagangan tetap bergantung pada kemampuan memenuhi pesanan, pelaksanaan pengiriman, ketentuan kontrak, dan pembayaran.
Asosiasi Pengusaha ETH Dorong Peningkatan Produk Bernilai Tambah
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang peningkatan permintaan internasional sebagai kesempatan untuk memperkuat industri pengolahan dalam negeri.
Indonesia memiliki potensi produksi pada berbagai sektor, mulai dari makanan olahan, hasil pertanian, produk perkebunan, komponen manufaktur, kerajinan, hingga barang industri lainnya.
Namun, keberhasilan memasuki pasar ekspor membutuhkan produk yang mampu memenuhi kualitas dan persyaratan negara tujuan.
Asosiasi mendorong pemerintah memperkuat layanan pendampingan ekspor bagi perusahaan kecil dan menengah.
Program tersebut perlu mencakup standardisasi, sertifikasi, peningkatan kapasitas produksi, legalitas usaha, dan penyusunan kontrak perdagangan internasional.
Koperasi produsen juga perlu memperoleh kesempatan menjadi bagian dari rantai pasok eksportir nasional.
Penguatan ekspor harus menjadi sarana meningkatkan nilai tambah produk Indonesia, memperbesar kegiatan produksi dalam negeri, dan memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.
Kenaikan Permintaan Belum Diikuti Penyerapan Tenaga Kerja yang Besar
Di tengah penguatan kegiatan produksi, laporan S&P Global menunjukkan bahwa pertumbuhan tenaga kerja manufaktur pada Oktober 2026 masih relatif terbatas.
Perusahaan memang mencatat peningkatan jumlah tenaga kerja secara agregat, tetapi laju penambahannya masih kecil dan melambat dibandingkan September.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meningkatnya pesanan belum secara otomatis mendorong pembukaan lapangan pekerjaan baru dalam jumlah besar.
Perusahaan dapat merespons peningkatan permintaan melalui penambahan jam operasional, penggunaan kapasitas produksi yang tersedia, peningkatan produktivitas, atau penyesuaian proses kerja.
Namun, pilihan perusahaan dapat berbeda sesuai kebutuhan dan peraturan yang berlaku.
S&P Global juga mencatat bahwa pekerjaan yang belum terselesaikan atau backlog meningkat selama empat bulan berturut-turut.
Peningkatan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan perusahaan untuk memperkuat kemampuan menyelesaikan pesanan.
Namun, backlog tidak selalu berarti perusahaan harus langsung menambah tenaga kerja.
Keputusan perekrutan tetap mempertimbangkan keberlanjutan permintaan, kemampuan keuangan, kapasitas produksi, dan kebutuhan keterampilan.
Asosiasi Pengusaha ETH Dorong Penciptaan Pekerjaan Berkualitas
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai peningkatan aktivitas manufaktur harus menjadi kesempatan memperluas lapangan pekerjaan.
Namun, penciptaan pekerjaan membutuhkan dukungan peningkatan keterampilan masyarakat.
Pemerintah perlu memperkuat hubungan antara perusahaan industri, Balai Latihan Kerja, sekolah kejuruan, perguruan tinggi, dan lembaga pelatihan lainnya.
Program tersebut harus membantu masyarakat memperoleh kompetensi yang sesuai kebutuhan perusahaan.
Asosiasi juga mendorong pengembangan kewirausahaan agar masyarakat yang mempunyai kemampuan produksi dapat membangun usaha secara mandiri.
Perusahaan besar diharapkan membuka program pelatihan dan pengembangan pemasok lokal sesuai kebutuhan operasionalnya.
Keberhasilan pertumbuhan industri harus terlihat dari meningkatnya kesempatan bekerja, berkembangnya pengusaha baru, dan semakin baiknya produktivitas tenaga kerja Indonesia.
Biaya Bahan Baku dan Energi Masih Menjadi Tantangan
Meskipun aktivitas manufaktur menunjukkan penguatan, perusahaan tetap menghadapi tekanan biaya operasional.
Laporan S&P Global menunjukkan bahwa inflasi biaya input atau biaya bahan yang digunakan dalam produksi meningkat pada Oktober 2026.
Sebagian responden menyampaikan adanya kenaikan biaya bahan baku, termasuk pengaruh harga bahan bakar dan pergerakan nilai tukar.
Kondisi tersebut memengaruhi perhitungan biaya produksi perusahaan.
Untuk menjaga keberlangsungan kegiatan bisnis, sebagian produsen merespons kenaikan biaya dengan menaikkan harga jual produk.
S&P Global melaporkan laju kenaikan harga jual manufaktur meningkat pada Oktober 2026.
Namun, perubahan harga tidak selalu sama pada setiap kelompok industri.
Perusahaan mempunyai struktur biaya, kebutuhan bahan baku, dan kemampuan menyesuaikan harga yang berbeda-beda.
UMKM Menghadapi Risiko Tekanan Keuntungan
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai kenaikan biaya produksi dapat memberikan tekanan lebih besar kepada perusahaan kecil.
UMKM umumnya mempunyai kapasitas modal kerja yang lebih terbatas.
Ketika harga bahan baku meningkat, pengusaha harus menyediakan tambahan dana untuk mempertahankan volume produksi.
Namun, menaikkan harga jual tidak selalu dapat dilakukan dengan mudah karena harus mempertimbangkan daya beli konsumen serta persaingan pasar.
Kondisi tersebut dapat mengurangi keuntungan pengusaha.
Asosiasi mendorong pemerintah memperkuat sistem informasi harga bahan baku, efisiensi logistik, dan pelayanan pembiayaan produktif.
Pengusaha juga perlu memperoleh pelatihan mengenai penghitungan harga pokok produksi, pengelolaan persediaan, dan perencanaan arus kas.
Kebijakan penguatan industri harus memperhatikan kemampuan UMKM menghadapi perubahan biaya produksi agar peningkatan permintaan pasar dapat menghasilkan keuntungan yang sehat dan berkelanjutan.
Distribusi Bahan Baku Mulai Membaik
Perkembangan positif juga terlihat pada kondisi rantai pasok manufaktur.
S&P Global melaporkan waktu pengiriman bahan baku kepada perusahaan pada Oktober 2026 mengalami perbaikan.
Waktu pengiriman tercatat lebih singkat untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu tahun.
Perbaikan tersebut menjadi salah satu perkembangan penting bagi kelancaran kegiatan produksi.
Perusahaan yang memperoleh bahan baku tepat waktu mempunyai kesempatan menyusun jadwal produksi dan memenuhi pesanan dengan lebih baik.
Namun, kondisi distribusi tidak selalu sama pada setiap wilayah.
Pengusaha yang berada di kawasan kepulauan, sentra pertanian, atau daerah dengan keterbatasan infrastruktur masih dapat menghadapi biaya logistik berbeda dari perusahaan di pusat industri.
Asosiasi Pengusaha ETH Dorong Penguatan Logistik Nasional
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang efisiensi logistik sebagai salah satu faktor utama dalam meningkatkan daya saing industri.
Perusahaan membutuhkan kepastian jadwal pengiriman dan biaya transportasi yang dapat diperhitungkan.
Pemerintah perlu memperkuat infrastruktur serta pelayanan transportasi untuk menghubungkan kawasan produksi dengan pasar.
Pengembangan fasilitas pergudangan dan konsolidasi barang juga perlu diperhatikan.
Asosiasi mendorong agar koperasi dan pengusaha transportasi daerah memperoleh kesempatan menjadi bagian dari jaringan distribusi industri sesuai kemampuan serta ketentuan usaha.
Logistik yang efisien harus mampu membantu perusahaan menekan biaya, menjaga mutu produk, dan memperluas akses pasar bagi pengusaha daerah.
Koperasi Produktif Berpeluang Masuk Rantai Pasok Manufaktur
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang koperasi mempunyai kesempatan mengambil peran lebih besar dalam mendukung peningkatan kegiatan industri nasional.
Koperasi pertanian dapat membantu mengonsolidasikan hasil panen anggota untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan.
Koperasi peternakan berpotensi mendukung penyediaan produk serta bahan baku peternakan.
Sementara itu, koperasi perikanan dapat membantu menghubungkan nelayan dan pembudidaya ikan dengan perusahaan pengolahan hasil laut.
Koperasi produsen juga dapat membantu beberapa usaha kecil meningkatkan kemampuan memenuhi pesanan dalam jumlah lebih besar.
Namun, kegiatan tersebut membutuhkan tata kelola yang profesional.
Koperasi perlu mempunyai sistem perencanaan produksi, pencatatan keuangan, pengelolaan persediaan, serta kemampuan memenuhi kewajiban kontrak.
Asosiasi Pengusaha ETH Dorong Pembinaan Koperasi Industri
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang mengusulkan agar pemerintah memperkuat pendampingan koperasi yang mempunyai kegiatan usaha produktif.
Program tersebut dapat melibatkan Kementerian Koperasi, Kementerian Perindustrian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta perusahaan besar.
Pendampingan perlu diarahkan pada peningkatan kemampuan produksi dan pemasaran.
Koperasi juga membutuhkan edukasi mengenai standardisasi produk, pengelolaan risiko, serta hubungan kontrak dengan perusahaan pembeli.
Asosiasi mendorong agar koperasi tidak hanya menjadi perantara administrasi, tetapi mempunyai kemampuan menjalankan kegiatan bisnis yang menghasilkan manfaat ekonomi kepada anggota.
Koperasi yang profesional dapat menjadi penghubung antara produsen kecil dan industri nasional melalui kerja sama yang transparan, produktif, dan saling menguntungkan.
Peningkatan Produksi Harus Didukung Pembiayaan yang Sehat
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai peningkatan permintaan produk industri dapat memperbesar kebutuhan modal kerja.
Ketika perusahaan memperoleh pesanan tambahan, pengusaha membutuhkan biaya untuk membeli bahan baku, meningkatkan produksi, menyediakan kemasan, dan membayar kebutuhan operasional.
Kebutuhan tersebut dapat menjadi tantangan bagi UMKM yang mempunyai keterbatasan kas.
Namun, peningkatan pembiayaan harus dilakukan berdasarkan kemampuan usaha.
Lembaga keuangan perlu memperhatikan kelayakan bisnis, kebutuhan modal, serta kemampuan pembayaran calon debitur.
Asosiasi mendorong pemerintah bersama perbankan dan lembaga pembiayaan memperkuat layanan pembiayaan produktif bagi UMKM.
Program tersebut dapat dikembangkan melalui fasilitas kredit resmi, penjaminan sesuai ketentuan, dan pendampingan administrasi keuangan.
Pengusaha juga perlu diberikan edukasi mengenai pengelolaan risiko pembiayaan.
Modal usaha harus membantu meningkatkan kapasitas produksi dan pendapatan, bukan menciptakan beban pinjaman yang tidak didukung kemampuan bisnis.
Digitalisasi Produksi dan Pemasaran Harus Diperkuat
Perkembangan industri manufaktur juga memperlihatkan pentingnya penggunaan teknologi untuk menjaga efisiensi.
Perusahaan membutuhkan sistem pengelolaan produksi, persediaan, keuangan, dan pemasaran yang semakin baik.
Namun, kemampuan menggunakan teknologi berbeda-beda antara perusahaan besar dan UMKM.
Sebagian pengusaha kecil masih membutuhkan pendampingan agar mampu menggunakan aplikasi pencatatan transaksi dan pengelolaan usaha.
Asosiasi Pengusaha ETH mendorong pemerintah memperkuat program digitalisasi industri kecil dan koperasi.
Pelatihan perlu mencakup penggunaan teknologi yang sesuai kemampuan bisnis, bukan hanya pengenalan aplikasi.
Program dapat membantu UMKM mengelola bahan baku, mencatat biaya produksi, serta memantau perkembangan penjualan.
Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dapat menjadi mitra dalam mendampingi penerapan teknologi tersebut.
Digitalisasi harus menjadi sarana meningkatkan produktivitas dan profesionalisme pengusaha, bukan menambah beban administrasi yang tidak memberikan manfaat ekonomi.
Lima Rekomendasi Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang
Sebagai kontribusi pemikiran terhadap penguatan manufaktur, pemberdayaan UMKM, dan pembangunan ekonomi nasional, Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menyampaikan lima rekomendasi strategis.
1. Memperluas kemitraan industri besar dengan UMKM dan koperasi.
Pemerintah perlu mendorong perusahaan manufaktur membuka kesempatan pengadaan barang dan jasa bagi pemasok lokal yang memenuhi persyaratan kualitas dan kelayakan usaha.
Program tersebut harus disertai pendampingan peningkatan kapasitas produksi, standardisasi, serta manajemen kontrak agar UMKM mampu berkembang menjadi pemasok industri yang berkelanjutan.
2. Menjaga ketersediaan bahan baku dan efisiensi logistik nasional.
Pemerintah perlu memperkuat koordinasi distribusi, penyediaan informasi harga bahan baku, serta peningkatan infrastruktur pengangkutan dan penyimpanan.
Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi hambatan produksi dan membantu perusahaan menjaga biaya operasional.
3. Memperluas pembiayaan produktif bagi pengusaha kecil.
Perbankan dan lembaga pembiayaan perlu meningkatkan layanan bagi UMKM yang mempunyai kegiatan usaha layak, terutama untuk memenuhi kebutuhan modal kerja akibat meningkatnya permintaan pasar.
Pendampingan harus diberikan agar pembiayaan dapat digunakan secara bertanggung jawab.
4. Meningkatkan keterampilan tenaga kerja dan produktivitas industri.
Pemerintah bersama perusahaan, BLK, perguruan tinggi, serta lembaga pendidikan perlu memperkuat pelatihan yang sesuai kebutuhan dunia kerja.
Program harus membantu perusahaan meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas kesempatan masyarakat memperoleh pekerjaan atau membangun usaha sendiri.
5. Mengevaluasi pertumbuhan industri berdasarkan manfaat ekonomi nyata.
Pemerintah perlu memperhatikan perkembangan pesanan, kapasitas produksi, kualitas lapangan pekerjaan, keterlibatan pemasok lokal, peningkatan pendapatan UMKM, serta pertumbuhan usaha koperasi.
Evaluasi tersebut penting agar peningkatan aktivitas manufaktur memberikan manfaat ekonomi yang semakin merata.
Asosiasi Pengusaha ETH Dorong Pengawasan Konstruktif terhadap Kebijakan Industri
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang transparansi dan evaluasi kebijakan sebagai bagian penting dalam menjaga kepercayaan dunia usaha.
Peningkatan PMI merupakan perkembangan yang positif, tetapi pemerintah tetap perlu memperhatikan persoalan yang dihadapi perusahaan.
Pengusaha membutuhkan kepastian mengenai bahan baku, biaya operasional, regulasi, dan akses pasar.
Pemerintah perlu memperkuat konsultasi dengan organisasi pengusaha, koperasi, serta perwakilan UMKM dalam mengevaluasi hambatan produksi.
Namun, setiap persoalan harus diperiksa berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Asosiasi juga mendorong penyediaan informasi agregat mengenai perkembangan sektor industri, pembiayaan produktif, serta program peningkatan kapasitas usaha.
Informasi tersebut dapat membantu pelaku bisnis menyusun perencanaan yang lebih baik.
Asosiasi Pengusaha ETH berpandangan bahwa kontrol sosial yang konstruktif harus diarahkan untuk memperbaiki kebijakan, meningkatkan kepastian berusaha, menjaga persaingan yang sehat, serta memperkuat kemampuan industri nasional.
Pertumbuhan Manufaktur Harus Memperkuat Ekonomi Daerah
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang menilai peningkatan kegiatan manufaktur mempunyai potensi memperluas aktivitas ekonomi masyarakat.
Kegiatan industri membutuhkan bahan baku, tenaga kerja, transportasi, teknologi, dan berbagai layanan pendukung.
Kebutuhan tersebut dapat membuka kesempatan bagi pengusaha daerah.
Namun, peluang tersebut harus diikuti peningkatan kemampuan memenuhi standar industri.
Pemerintah daerah perlu membantu mengidentifikasi jenis usaha yang berpotensi menjadi pemasok perusahaan.
UMKM membutuhkan pelatihan produksi dan administrasi.
Koperasi perlu meningkatkan kemampuan manajemen agar dapat mengonsolidasikan kegiatan ekonomi anggotanya.
Sementara itu, perusahaan besar diharapkan membuka kesempatan kemitraan yang memberikan kepastian bisnis.
Asosiasi mendorong kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi pengusaha, perguruan tinggi, koperasi, dan lembaga pembiayaan dalam membangun ekosistem industri yang terintegrasi.
Melalui pendekatan tersebut, peningkatan produksi nasional diharapkan dapat menjadi kekuatan pertumbuhan ekonomi daerah.
Asosiasi Pengusaha ETH: Industri Kuat, UMKM Naik Kelas, Ekonomi Indonesia Semakin Mandiri
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang memandang peningkatan PMI Manufaktur Indonesia menjadi 54,0 pada Oktober 2026 sebagai perkembangan positif yang perlu dijaga melalui kebijakan ekonomi yang konsisten.
Namun, pertumbuhan tersebut harus diterjemahkan menjadi peningkatan kemampuan produksi dan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah perlu menjaga kepastian usaha, memperkuat kelancaran bahan baku, meningkatkan efisiensi logistik, dan mendukung pengembangan teknologi.
Perusahaan besar diharapkan membuka kesempatan kemitraan bagi pengusaha kecil yang memenuhi persyaratan.
UMKM membutuhkan pembiayaan yang sehat, peningkatan keterampilan, dan akses pasar.
Sementara itu, koperasi harus dikelola secara profesional agar mampu menjadi bagian dari kegiatan industri yang produktif.
Asosiasi Pengusaha ETH juga mendorong peningkatan keterampilan tenaga kerja agar pertumbuhan manufaktur mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap penciptaan lapangan pekerjaan.
Asosiasi Pengusaha Elang Tiga Hambalang berpandangan bahwa keberhasilan industri nasional bukan hanya ditentukan oleh meningkatnya indeks kegiatan manufaktur, tetapi juga oleh kemampuan memperluas lapangan pekerjaan, memperkuat pengusaha daerah, meningkatkan produktivitas UMKM, dan membangun koperasi yang mandiri serta berdaya saing.
Peningkatan permintaan dalam negeri dan ekspor harus menjadi momentum untuk memperkuat rantai pasok nasional, meningkatkan nilai tambah produk Indonesia, dan menciptakan kesempatan ekonomi yang lebih merata.
Melalui penguatan kemitraan industri, peningkatan teknologi, pembiayaan produktif, pengembangan sumber daya manusia, serta pengawasan yang bertanggung jawab, Indonesia diharapkan semakin mampu membangun industri manufaktur yang kuat, kompetitif, dan berkelanjutan.
ASOSIASI PENGUSAHA ELANG TIGA HAMBALANG
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Senin, 2 November 2026





