7,2 JUTA PENGANGGUR JADI ALARM NASIONAL, REZA PRASATRIA DHARMA: MAHASISWA HARUS JADI PENCIPTA LAPANGAN KERJA, NEGARA WAJIB BUKA JALANNYA
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang Dorong Gerakan Nasional Mahasiswa Berwirausaha: Kampus Jangan Hanya Cetak Ijazah, Bangun Ekosistem agar Anak Muda Bisa Kerja dan Membuka Pekerjaan BOGOR, RABU 26 AGUSTUS 2026 — Persoalan lapangan kerja kembali menjadi sorotan nasional setelah pemerintah...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang Dorong Gerakan Nasional Mahasiswa Berwirausaha: Kampus Jangan Hanya Cetak Ijazah, Bangun Ekosistem agar Anak Muda Bisa Kerja dan Membuka Pekerjaan
BOGOR, RABU 26 AGUSTUS 2026 — Persoalan lapangan kerja kembali menjadi sorotan nasional setelah pemerintah mendorong mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi untuk tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga berani menjadi wirausahawan dan pencipta lapangan pekerjaan.
Isu tersebut mendapat perhatian Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang (ETH) karena tantangan ketenagakerjaan saat ini berhadapan langsung dengan jutaan generasi muda yang sedang menempuh pendidikan maupun baru menyelesaikan kuliah.
Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang, Reza Prasatria Dharma, menilai perubahan pola pikir mahasiswa memang diperlukan. Namun, menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya diperintahkan menjadi pengusaha apabila tidak disertai akses terhadap modal, pelatihan, teknologi, mentor, jaringan usaha dan pasar.
«“Mahasiswa harus berani bermimpi bukan hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga menciptakan pekerjaan. Namun keberanian itu harus dipertemukan dengan kesempatan. Negara, kampus dan dunia usaha mempunyai tanggung jawab membangun jalannya.”»
HARI INI: MENTERI UMKM DORONG MAHASISWA JANGAN CUMA CARI KERJA
Dalam pemberitaan terbaru pada 26 Agustus 2026, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Maman Abdurrahman kembali menjadi sorotan setelah mendorong mahasiswa mengubah pola pikir dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan pekerjaan.
Maman sebelumnya menyampaikan gagasan tersebut dalam orasi ilmiah di Universitas Sumatera Utara. Ia mendorong kewirausahaan menjadi salah satu pilihan karier mahasiswa setelah menyelesaikan pendidikan.
Menurut Satuan Mahasiswa ETH, gagasan tersebut relevan dengan tantangan nasional.
Namun kewirausahaan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengalihkan seluruh tanggung jawab penciptaan pekerjaan kepada generasi muda.
«“Jangan kemudian karena lapangan kerja sulit, mahasiswa hanya dijawab: jadilah pengusaha. Menjadi pengusaha membutuhkan ekosistem. Kalau kita meminta anak muda membuka lapangan kerja, kita harus memastikan mereka mempunyai akses untuk memulainya.”»
BPS: SEKITAR 7,2 JUTA ORANG MASIH MENGANGGUR
Data resmi Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah angkatan kerja Indonesia pada Mei 2026 mencapai 155,41 juta orang, sementara jumlah penduduk yang bekerja mencapai 148,19 juta orang.
Dengan demikian, jumlah penganggur berada pada kisaran 7,2 juta orang.
BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,65 persen, turun 0,03 poin persentase dibanding Februari 2026.
Pada periode yang sama, rata-rata upah buruh tercatat sekitar Rp3,39 juta per bulan.
Satuan Mahasiswa ETH menilai penurunan TPT patut diapresiasi, tetapi persoalan ketenagakerjaan tidak boleh berhenti pada satu angka persentase.
Yang harus dilihat juga adalah:
– Kualitas pekerjaan;
– Tingkat pendapatan;
– Kesempatan memperoleh pekerjaan pertama;
– Proporsi pekerjaan formal dan informal;
– Kesesuaian pekerjaan dengan pendidikan;
– Perlindungan tenaga kerja;
– Serta peluang generasi muda meningkatkan jenjang karier.
LEBIH DARI SATU JUTA PENGANGGUR BERPENDIDIKAN TINGGI
Persoalan yang menurut Satuan Mahasiswa ETH sangat dekat dengan dunia kampus adalah pengangguran terdidik.
Kementerian Ketenagakerjaan pada 13 Agustus 2026, dengan merujuk data BPS, menyatakan jumlah penganggur berpendidikan Diploma IV, S1, S2 hingga S3 mencapai 1.033.182 orang pada Mei 2026.
Kemnaker menilai salah satu faktor utamanya adalah skill mismatch, atau ketidaksesuaian antara keterampilan pencari kerja dan kebutuhan dunia usaha serta industri.
Rendahnya literasi digital dan sejumlah soft skills juga disebut sebagai tantangan.
Menurut Reza, angka lebih dari satu juta tersebut harus menjadi alarm bagi perguruan tinggi.
«“Kalau lebih dari satu juta orang berpendidikan tinggi masih menganggur, kita tidak boleh sekadar bertanya apa yang salah dengan lulusannya. Kita juga harus bertanya apakah kurikulum, industri, informasi pasar kerja dan kebijakan penciptaan pekerjaan sudah saling terhubung.”»
JANGAN BIARKAN IJAZAH BERJALAN SENDIRI
Satuan Mahasiswa ETH berpandangan ijazah akademik tetap penting sebagai bukti seseorang telah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Namun perubahan teknologi membuat ijazah saja tidak selalu cukup.
Mahasiswa juga membutuhkan kemampuan praktis seperti:
komunikasi — kepemimpinan — bahasa asing — teknologi digital — AI — analisis data — pemasaran — manajemen keuangan — kemampuan bernegosiasi — hingga membangun bisnis.
Karena itu, perguruan tinggi perlu semakin serius membangun jembatan antara pendidikan akademik dan kehidupan profesional.
Reza menilai mahasiswa seharusnya dapat lulus dengan setidaknya tiga modal:
IJAZAH
Sebagai bukti kemampuan akademik.
KOMPETENSI
Sebagai bukti keterampilan yang dapat digunakan.
PORTOFOLIO
Sebagai bukti mahasiswa pernah menciptakan atau mengerjakan sesuatu.
«“Jangan biarkan mahasiswa wisuda membawa map berisi ijazah tetapi tidak mempunyai gambaran harus berjalan ke mana setelah meninggalkan kampus.”»
EKONOMI KREATIF BISA MENJADI PINTU BARU
Pemerintah juga melihat ekonomi kreatif sebagai salah satu sektor potensial bagi generasi muda.
Pada 22 Agustus 2026, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyatakan sekitar 27,4 juta orang bekerja pada sektor ekonomi kreatif dan sekitar 63 persen di antaranya berasal dari kelompok Gen Z dan milenial.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Ekraf menyebut sekitar 82 persen dari sekitar 7,5 juta penganggur merupakan kelompok Gen Z dan milenial. Angka tersebut merupakan pernyataan Kementerian Ekonomi Kreatif dan perlu dibedakan dengan statistik ketenagakerjaan resmi terbaru BPS.
Menurut Satuan Mahasiswa ETH, potensi ekonomi kreatif sangat besar karena dapat dimasuki mahasiswa bahkan sebelum menyelesaikan kuliah.
Bidangnya mencakup antara lain:
– Konten digital;
– Film;
– Musik;
– Fotografi;
– Desain grafis;
– Animasi;
– Gim;
– Fesyen;
– Kuliner;
– Aplikasi;
– Periklanan;
– Seni pertunjukan;
– Serta berbagai jasa kreatif berbasis teknologi.
HARI INI TALENTA DIGITAL JUGA TERUS DIKEMBANGKAN
Pada 26 Agustus 2026, pengembangan talenta digital kembali mendapat perhatian dengan penguatan Garuda Spark Innovation Hub di Nongsa Digital Park, Batam.
Program tersebut diarahkan menjadi ruang kolaborasi generasi muda di sektor teknologi dan ekonomi digital serta mendukung pembangunan sumber daya manusia lokal.
Satuan Mahasiswa ETH menilai program semacam ini perlu diperluas ke berbagai daerah.
Ekosistem digital tidak boleh hanya terkonsentrasi di Jakarta atau kota-kota besar.
«“Anak muda dari Aceh sampai Papua harus mempunyai peluang yang sama untuk belajar teknologi, membangun startup, mengakses mentor dan menjangkau pasar.”»
PASAR INTERNASIONAL JUGA TERBUKA BAGI PENGUSAHA MUDA
Perkembangan lain pada 26 Agustus 2026 menunjukkan peluang generasi muda tidak harus berhenti di pasar domestik.
Kamar Dagang Pengusaha Muda Indonesia mendorong pengusaha muda memanfaatkan peluang dari Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), termasuk pada sektor digital dan jasa kreatif, untuk memperluas akses menjadi eksportir.
Satuan Mahasiswa ETH menilai wawasan kewirausahaan mahasiswa karena itu harus mulai diarahkan ke pasar yang lebih luas.
Mahasiswa harus mengenal:
ekspor, perdagangan digital, standar produk, hak kekayaan intelektual, pembayaran internasional, logistik dan pemasaran global.
REZA: JANGAN SALAHKAN GENERASI MUDA SENDIRIAN
Menurut Reza, persoalan pengangguran tidak boleh disederhanakan menjadi tuduhan bahwa generasi muda malas atau terlalu memilih pekerjaan.
Realitas ketenagakerjaan dipengaruhi berbagai faktor seperti:
1. Jumlah lapangan kerja yang tersedia;
2. Pertumbuhan investasi;
3. Kualitas pendidikan;
4. Kebutuhan industri;
5. Keterampilan lulusan;
6. Perubahan teknologi dan otomatisasi;
7. Distribusi kesempatan kerja antardaerah;
8. Upah;
9. Akses modal;
10. Kondisi ekonomi nasional dan global.
Generasi muda memang mempunyai kewajiban meningkatkan kompetensi.
Tetapi negara mempunyai tanggung jawab menciptakan iklim ekonomi yang memungkinkan investasi dan pekerjaan berkembang.
Dunia usaha juga mempunyai kepentingan membantu pengembangan kompetensi calon tenaga kerja.
Sedangkan perguruan tinggi harus memastikan pendidikan tidak terputus dari realitas kehidupan mahasiswa setelah lulus.
KAMPUS HARUS MENJADI INKUBATOR USAHA
Satuan Mahasiswa ETH mendorong perguruan tinggi membangun inkubator kewirausahaan mahasiswa yang benar-benar bekerja.
Bukan hanya mengadakan seminar satu atau dua hari.
Program ideal harus mendampingi mahasiswa sejak:
IDE → RISET PASAR → PRODUK → LEGALITAS → MODAL → PEMASARAN → PENJUALAN → EKSPANSI.
Mahasiswa yang memiliki gagasan usaha perlu dipertemukan dengan:
– Mentor profesional;
– Pengusaha;
– Investor;
– Perbankan;
– Program pembiayaan pemerintah;
– UMKM;
– Industri;
– Marketplace;
– Serta jaringan distribusi.
«“Kampus yang mampu melahirkan seribu wisudawan adalah prestasi. Tetapi kampus yang mampu melahirkan seratus pengusaha yang kemudian mempekerjakan ribuan orang juga merupakan prestasi besar bagi bangsa.”»
SATUAN MAHASISWA ETH USUL GERAKAN “1 KAMPUS 1.000 WIRAUSAHA MUDA”
Sebagai bagian dari solusi, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong gagasan gerakan:
“1 KAMPUS — 1.000 WIRAUSAHA MUDA”
Gerakan tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, perbankan dan organisasi mahasiswa.
Targetnya bukan memaksa seluruh mahasiswa menjadi pengusaha.
Sebagian mahasiswa tentu akan menjadi dokter, guru, pengacara, insinyur, peneliti, aparatur negara dan profesional lainnya.
Namun mahasiswa yang mempunyai minat kewirausahaan harus mendapat jalur pembinaan yang serius.
10 AGENDA NASIONAL UNTUK MAHASISWA DAN LAPANGAN KERJA
Di bawah kepemimpinan Reza Prasatria Dharma, Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang mendorong sepuluh agenda:
1. MAGANG BERKUALITAS
Mahasiswa harus memperoleh pengalaman profesional sebelum lulus.
2. INKUBATOR BISNIS DI SETIAP KAMPUS
Mahasiswa yang ingin membangun usaha harus mempunyai tempat belajar dan mentor.
3. AKSES PEMBIAYAAN
Skema pendanaan usaha mahasiswa perlu diperluas dengan prinsip kehati-hatian.
4. SERTIFIKASI KOMPETENSI
Mahasiswa harus mempunyai bukti keterampilan di samping ijazah.
5. LITERASI AI DAN DIGITAL
Mahasiswa harus dipersiapkan menghadapi perubahan teknologi.
6. PUSAT KARIER YANG AKTIF
Kampus harus mempunyai database pekerjaan, industri dan alumni.
7. KOLABORASI KAMPUS–INDUSTRI
Kebutuhan dunia usaha perlu menjadi salah satu referensi pengembangan kompetensi.
8. DUKUNG EKONOMI KREATIF
Karya mahasiswa harus mempunyai akses terhadap pasar dan perlindungan kekayaan intelektual.
9. BUKA PASAR INTERNASIONAL
Wirausaha muda harus dibekali kemampuan ekspor.
10. UKUR KEBERHASILAN LULUSAN
Perguruan tinggi perlu mengetahui berapa alumninya bekerja, berwirausaha, melanjutkan studi atau belum memperoleh pekerjaan.
MAHASISWA JANGAN MENUNGGU WISUDA UNTUK MEMULAI
Reza juga mengajak mahasiswa tidak menunggu sampai selesai kuliah untuk membangun pengalaman.
Mahasiswa dapat memulai dari hal sederhana.
Membuat produk.
Mengembangkan aplikasi.
Menjalankan usaha makanan.
Menjadi kreator.
Membuat jasa desain.
Membangun koperasi mahasiswa.
Menjadi pekerja lepas profesional.
Melakukan penelitian yang dapat dikomersialisasikan.
Atau membangun startup bersama teman satu kampus.
«“Jangan menunggu toga dilepas baru bertanya mau menjadi apa. Gunakan masa kuliah sebagai laboratorium kehidupan.”»
TETAPI PENDIDIKAN JANGAN BERUBAH MENJADI PABRIK TENAGA KERJA
Satuan Mahasiswa ETH juga memberikan catatan penting.
Dorongan agar kampus mendekat kepada industri tidak berarti pendidikan tinggi harus kehilangan fungsi akademiknya.
Perguruan tinggi tetap harus menghasilkan:
ilmuwan, peneliti, pemikir, kritikus, pemimpin, inovator dan warga negara yang mempunyai integritas.
Menurut Reza, tujuan pendidikan lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan perusahaan.
«“Kampus bukan pabrik tenaga kerja. Tetapi kampus juga tidak boleh menutup mata terhadap kenyataan bahwa mahasiswa setelah lulus membutuhkan kehidupan dan pekerjaan.”»
BONUS DEMOGRAFI JANGAN BERUBAH MENJADI BEBAN DEMOGRAFI
Indonesia mempunyai populasi generasi muda yang sangat besar.
Kondisi tersebut sering disebut sebagai bonus demografi.
Namun Satuan Mahasiswa ETH mengingatkan bonus tersebut hanya akan menjadi kekuatan apabila generasi muda mempunyai pendidikan, kompetensi dan kesempatan ekonomi.
Apabila jutaan pemuda memasuki pasar kerja setiap tahun tanpa tersedia kesempatan yang memadai, potensi bonus demografi dapat berubah menjadi persoalan sosial dan ekonomi.
Karena itu, isu pekerjaan generasi muda tidak boleh dianggap sebagai persoalan pribadi masing-masing lulusan.
Ini merupakan agenda pembangunan nasional.
REZA PRASATRIA DHARMA: DARI PENCARI KERJA MENJADI PENCIPTA MASA DEPAN
Ketua Umum Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang Reza Prasatria Dharma menegaskan mahasiswa harus memiliki optimisme tetapi sekaligus berani menuntut perubahan sistem.
«“Generasi muda jangan hanya menunggu pintu pekerjaan dibuka. Sebagian dari kita harus berani membangun pintu itu sendiri. Tetapi negara, kampus dan dunia usaha wajib menyediakan tanah, alat dan jalan agar pintu itu benar-benar bisa dibangun.”»
Menurut Reza, persoalan sekitar 7,2 juta penganggur tidak akan selesai hanya melalui satu program.
Penyelesaiannya membutuhkan pertumbuhan ekonomi, investasi, pendidikan berkualitas, penguatan keterampilan, kewirausahaan, teknologi, industri nasional serta kolaborasi lintas sektor.
Satuan Mahasiswa Elang Tiga Hambalang menyerukan sebuah gerakan nasional:
KULIAH — KOMPETEN — BERWIRAUSAHA — BEKERJA — MENCIPTAKAN PEKERJAAN
Mahasiswa harus menjadi bagian dari solusi ketenagakerjaan Indonesia.
Namun negara juga harus memastikan setiap anak muda mempunyai kesempatan untuk berkembang.
SATUAN MAHASISWA ELANG TIGA HAMBALANG
Ketua Umum: REZA PRASATRIA DHARMA
KOLABORASI — INTEGRITAS — PRESTASI
1 KAMPUS — 1.000 WIRAUSAHA MUDA
“GENERASI MUDA BUKAN HANYA PENCARI KERJA — GENERASI MUDA ADALAH PENCIPTA MASA DEPAN INDONESIA.”





