Bulog Terapkan Teknologi Cocoon untuk Simpan 361 Ton Beras, Satuan Petani Elang Tiga Hambalang Desak Penguatan Cadangan Pangan dan Perlindungan Hasil Panen Petani
Petani | Produksi Padi | Teknologi Pascapanen | Penyimpanan Beras | Perlindungan Petani | Ketahanan Pangan Nasional Sabtu, 7 November 2026 Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Barat memperkuat pengelolaan cadangan pangan melalui penerapan teknologi...
(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)
Petani | Produksi Padi | Teknologi Pascapanen | Penyimpanan Beras | Perlindungan Petani | Ketahanan Pangan Nasional
Sabtu, 7 November 2026
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Barat memperkuat pengelolaan cadangan pangan melalui penerapan teknologi penyimpanan beras kedap udara atau hermetic storage yang dikenal dengan nama Cocoon.
Teknologi tersebut telah digunakan di Kompleks Pergudangan Dasan Cermen, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Berdasarkan keterangan Bulog yang dipublikasikan pada 6–7 November 2026, sebanyak 361 ton beras telah disimpan menggunakan dua unit Cocoon.
Sistem penyimpanan tersebut dirancang untuk menciptakan kondisi kedap udara dengan kadar oksigen di bawah 5 persen sehingga perkembangan hama gudang dapat ditekan.
Bulog menargetkan penggunaan teknologi tersebut mampu mempertahankan kualitas beras dalam penyimpanan hingga 12 bulan, dengan tetap memperhatikan standar mutu dan kondisi penyimpanan.
Pengembangan berikutnya direncanakan menjangkau wilayah Lombok Timur, Sumbawa, dan Bima.
Dewan Pimpinan Nasional Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung penerapan teknologi penyimpanan pangan tersebut sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional.
Namun, organisasi meminta agar inovasi tersebut disertai pengawasan kualitas, transparansi pengelolaan cadangan beras, efisiensi biaya, serta perlindungan ekonomi bagi petani yang menghasilkan gabah dan beras.
Teknologi Penyimpanan Beras Menjadi Kebutuhan Penting Ketahanan Pangan
Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat — Keberhasilan meningkatkan produksi beras nasional tidak hanya ditentukan oleh banyaknya hasil panen petani, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah menjaga kualitas dan ketersediaan beras setelah memasuki tempat penyimpanan.
Persoalan pengelolaan cadangan beras menjadi perhatian karena kualitas pangan dapat mengalami penurunan apabila tidak disimpan dengan metode dan kondisi yang sesuai.
Kerusakan akibat hama gudang, kelembapan, perubahan suhu, serta kesalahan penanganan dapat memengaruhi mutu beras selama masa penyimpanan.
Karena itu, pengembangan teknologi pascapanen dan pergudangan perlu menjadi bagian penting dari strategi ketahanan pangan nasional.
Dewan Pimpinan Nasional Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang bahwa peningkatan produksi pertanian harus berjalan bersama penguatan fasilitas penyimpanan, pengolahan, dan distribusi.
Organisasi mendukung inovasi pemerintah dalam mengelola cadangan pangan sepanjang penerapannya memperhatikan keamanan pangan, efisiensi biaya, serta manfaat nyata kepada masyarakat.
Perkembangan terbaru muncul dari Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Barat yang mulai menerapkan teknologi penyimpanan hermetik atau Cocoon.
Berdasarkan pemberitaan ANTARA pada Sabtu, 7 November 2026, teknologi tersebut digunakan untuk memperkuat kapasitas penyimpanan beras, terutama ketika ruang gudang konvensional menghadapi keterbatasan.
Area Manager UB-Jastasma NTB, Danang Krisnantoko, menjelaskan bahwa penyimpanan Cocoon memungkinkan Bulog memanfaatkan area di luar bangunan gudang untuk menampung cadangan beras.
Penerapan teknologi tersebut menjadi salah satu langkah Bulog dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan stok pangan.
Sebanyak 361 Ton Beras Telah Disimpan Menggunakan Dua Unit Cocoon
Perum Bulog NTB melaporkan bahwa dua unit Cocoon telah beroperasi di Kompleks Pergudangan Dasan Cermen, Kota Mataram.
Total beras yang telah disimpan melalui fasilitas tersebut mencapai 361 ton.
Penggunaan teknologi ini menjadi alternatif untuk meningkatkan fleksibilitas penyimpanan tanpa harus seluruhnya bergantung pada kapasitas bangunan gudang konvensional.
Dalam sistem tersebut, beras ditempatkan pada ruang penyimpanan khusus yang dirancang kedap udara.
Kondisi udara di dalam ruang penyimpanan dikendalikan untuk membantu menjaga kualitas komoditas.
Bulog menjelaskan bahwa metode tersebut dapat menciptakan kadar oksigen di bawah 5 persen.
Kondisi tersebut membantu menghambat perkembangan hama yang berpotensi merusak beras selama penyimpanan.
Selain itu, pengendalian hama melalui metode hermetik diharapkan dapat mengurangi kebutuhan penggunaan bahan kimia atau zat aktif selama proses penyimpanan.
Namun, keberhasilan metode tersebut tetap bergantung pada kondisi awal beras, kebersihan, kekedapan fasilitas, serta pemantauan selama masa penyimpanan.
Jumlah 361 ton merupakan realisasi beras yang disimpan di dua unit Cocoon di Mataram, bukan kapasitas seluruh gudang Bulog di NTB atau jumlah cadangan beras nasional.
DPN Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung pengembangan teknologi tersebut.
Namun, organisasi memandang bahwa setiap inovasi harus disertai pemeriksaan kualitas secara berkala.
Pemerintah perlu memastikan bahwa beras yang disimpan tetap memenuhi persyaratan keamanan serta mutu sebelum disalurkan kepada masyarakat.
Bulog Targetkan Penyimpanan Beras hingga 12 Bulan
Salah satu keunggulan yang dikembangkan melalui teknologi Cocoon adalah kemampuan menyimpan beras dalam waktu relatif panjang.
Perum Bulog NTB menargetkan beras dapat disimpan hingga 12 bulan menggunakan sistem tersebut.
Namun, jangka waktu tersebut merupakan target kemampuan penyimpanan, bukan jaminan bahwa seluruh beras otomatis mempertahankan kualitas yang sama selama satu tahun.
Keberhasilan penyimpanan tetap membutuhkan pengawasan terhadap kondisi fisik beras, kadar air, suhu, kemungkinan kebocoran, serta faktor lain yang berpengaruh terhadap mutu.
Apabila ditemukan penurunan kualitas, pengelola harus melakukan tindakan berdasarkan standar operasional dan ketentuan keamanan pangan.
DPN Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang bahwa teknologi penyimpanan jangka panjang dapat memberikan manfaat penting bagi pengelolaan cadangan pangan.
Ketika panen raya menghasilkan peningkatan pasokan, pemerintah membutuhkan fasilitas yang mampu menampung beras secara aman.
Sementara itu, pada periode produksi yang lebih rendah, cadangan yang masih memenuhi standar dapat digunakan untuk membantu menjaga pasokan kepada masyarakat.
Namun, pengembangan fasilitas tersebut harus diikuti perencanaan distribusi agar stok tidak mengalami penumpukan tanpa perputaran yang memadai.
Kualitas Beras Harus Menjadi Prioritas
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang meminta agar pengelolaan cadangan beras tidak hanya berorientasi pada besarnya volume penyimpanan.
Pemerintah perlu memastikan bahwa beras yang disimpan memenuhi standar mutu sejak awal.
Pengawasan harus dilakukan terhadap kondisi beras sebelum masuk fasilitas, selama penyimpanan, serta sebelum didistribusikan.
Pengukuran kadar air dan pemeriksaan kondisi fisik beras menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kerusakan.
Selain itu, pencatatan asal beras, waktu penerimaan, lokasi penyimpanan, serta jadwal pengeluaran stok perlu dilaksanakan secara tertib.
Pencatatan tersebut dapat membantu meningkatkan ketertelusuran dan efektivitas pengawasan.
Organisasi mendukung penggunaan teknologi digital dalam pengelolaan cadangan pangan apabila mampu meningkatkan akurasi data dan efisiensi operasional.
Bulog Rencanakan Perluasan Teknologi ke Lombok Timur, Sumbawa, dan Bima
Keberhasilan penerapan teknologi Cocoon di Mataram diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan fasilitas serupa pada wilayah lain di Nusa Tenggara Barat.
Perum Bulog NTB menyampaikan rencana perluasan penggunaan teknologi hermetik ke kantor cabang Lombok Timur, Sumbawa, dan Bima.
Ketiga wilayah tersebut mempunyai peran dalam kegiatan produksi serta distribusi pangan daerah.
Pengembangan fasilitas penyimpanan diharapkan dapat membantu meningkatkan kemampuan Bulog menampung cadangan beras.
Namun, perluasan tersebut masih berupa rencana yang perlu didukung evaluasi teknis, anggaran, kesiapan lokasi, serta kebutuhan penyimpanan.
Belum terdapat informasi terverifikasi mengenai jumlah unit Cocoon yang akan dibangun di masing-masing wilayah maupun nilai investasi keseluruhan.
DPN Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung pengembangan tersebut apabila hasil evaluasi menunjukkan manfaat yang lebih besar dibandingkan biaya yang diperlukan.
Pemerintah perlu memastikan bahwa keputusan perluasan didasarkan pada kebutuhan penyimpanan dan kemampuan operasional.
Fasilitas baru juga harus mempunyai petugas yang memahami prosedur penggunaan serta pemeliharaan teknologi.
Pengembangan Nasional Harus Berdasarkan Evaluasi
Satuan Petani ETH memandang bahwa teknologi penyimpanan modern dapat menjadi salah satu bahan evaluasi untuk penguatan sistem pergudangan nasional.
Namun, penggunaan teknologi baru pada satu wilayah belum cukup untuk menyimpulkan bahwa metode tersebut merupakan pilihan terbaik bagi seluruh daerah.
Setiap wilayah mempunyai kondisi iklim, infrastruktur, kapasitas produksi, serta kebutuhan distribusi yang berbeda.
Karena itu, pemerintah perlu melakukan kajian sebelum mengembangkan fasilitas pada skala lebih luas.
Evaluasi dapat mencakup kualitas beras setelah disimpan, tingkat kerusakan, biaya investasi, biaya operasional, serta kemudahan pemeliharaan.
Hasil evaluasi tersebut penting agar penggunaan anggaran benar-benar menghasilkan manfaat kepada negara dan masyarakat.
Petani Harus Mendapatkan Manfaat dari Penguatan Sistem Pergudangan
DPN Satuan Petani Elang Tiga Hambalang memandang bahwa penguatan fasilitas pergudangan tidak boleh dipisahkan dari kepentingan ekonomi petani.
Petani merupakan pihak yang menghasilkan gabah sebagai bahan baku beras nasional.
Ketika fasilitas penyimpanan semakin baik, pemerintah mempunyai kesempatan memperkuat pengelolaan hasil pengadaan domestik.
Namun, peningkatan kapasitas penyimpanan tidak secara otomatis menjamin peningkatan harga gabah di tingkat petani.
Manfaat kepada petani tetap bergantung pada kebijakan pengadaan, kapasitas penyerapan, ketentuan mutu, serta mekanisme pembayaran.
Karena itu, organisasi mendorong pemerintah memperkuat hubungan antara pengelolaan cadangan pangan dan perlindungan hasil panen.
Petani membutuhkan kepastian bahwa gabah yang memenuhi persyaratan dapat dipasarkan melalui saluran pembelian yang sah dengan ketentuan harga yang berlaku.
Selain itu, diperlukan penguatan fasilitas pengeringan serta penanganan pascapanen untuk menjaga kualitas hasil produksi.
Koperasi Petani Perlu Diperkuat
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang juga mendorong penguatan koperasi sebagai bagian dari sistem ekonomi pertanian.
Koperasi dapat membantu kelompok tani menghimpun hasil panen, meningkatkan kualitas, dan membangun hubungan pemasaran dengan pembeli.
Pengembangan koperasi juga dapat diarahkan pada penyediaan fasilitas pengeringan, penggilingan, dan penyimpanan hasil pertanian sesuai kemampuan usaha.
Namun, keterlibatan koperasi dalam kegiatan pengadaan atau distribusi pangan pemerintah harus memenuhi ketentuan dan persyaratan yang berlaku.
Organisasi memandang bahwa koperasi yang dikelola secara profesional dapat membantu meningkatkan posisi tawar petani.
Penguatan tersebut diharapkan memberikan kesempatan bagi masyarakat memperoleh manfaat lebih besar dari kegiatan produksi pertanian.
Ganda Satria Dharma: Modernisasi Cadangan Pangan Harus Melindungi Petani dan Konsumen
Ganda Satria Dharma, Wakil Pembina Satuan Petani Elang Tiga Hambalang, menempatkan penguatan teknologi penyimpanan hasil pertanian sebagai bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Peningkatan produksi beras perlu didukung sistem pengelolaan yang mampu menjaga kualitas hasil panen hingga diterima masyarakat.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung langkah pemerintah mengembangkan teknologi penyimpanan modern melalui Perum Bulog.
Namun, penerapan teknologi harus memberikan manfaat nyata terhadap kualitas cadangan pangan, efisiensi pengelolaan, serta perlindungan kepentingan masyarakat.
Pengembangan fasilitas penyimpanan juga perlu diselaraskan dengan kepentingan petani sebagai produsen.
Petani membutuhkan kepastian pemasaran dan perlindungan harga agar kegiatan produksi dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Satuan Petani ETH memandang bahwa kemampuan menyimpan hasil pertanian dalam jumlah lebih besar dapat mendukung pengelolaan pasokan nasional apabila diikuti kebijakan pengadaan dan distribusi yang tepat.
Selain itu, pemerintah perlu memastikan bahwa inovasi teknologi tidak menimbulkan pemborosan anggaran akibat ketidaksesuaian fasilitas dengan kebutuhan wilayah.
Penggunaan teknologi harus didasarkan pada hasil pengujian, evaluasi biaya, serta pemeriksaan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ganda Satria Dharma sebagai Wakil Pembina Satuan Petani ETH juga menempatkan transparansi pelaksanaan program sebagai bagian penting dalam penguatan kepercayaan masyarakat.
Pengelolaan cadangan pangan merupakan kepentingan publik yang memerlukan profesionalitas serta akuntabilitas.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung inovasi yang mampu meningkatkan kemampuan pemerintah menjaga ketersediaan pangan.
Pada saat yang sama, organisasi mendorong agar setiap program memberikan manfaat kepada petani, masyarakat sebagai konsumen, serta kepentingan negara.
Ketahanan pangan nasional harus dibangun melalui produksi yang kuat, penyimpanan yang aman, distribusi yang efisien, serta kesejahteraan petani yang terus meningkat.
Satuan Petani ETH Dorong Pengembangan Klinik Tani dan Teknologi Pascapanen
DPN Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendorong pengembangan Klinik Tani sebagai salah satu sarana pendampingan masyarakat dalam meningkatkan kualitas hasil pertanian.
Program Klinik Tani dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan Kementerian Pertanian, Perum Bulog, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, perguruan tinggi, dan lembaga terkait.
Pelayanan dapat mencakup pendampingan pengelolaan hasil panen, pengeringan gabah, pemeriksaan mutu, penyimpanan, serta pemasaran.
Selain itu, petani perlu memperoleh informasi mengenai standar kualitas yang dibutuhkan dalam pengadaan pangan.
Pemahaman mengenai kadar air, kebersihan gabah, dan penanganan pascapanen dapat membantu meningkatkan nilai ekonomi hasil produksi.
Klinik Tani juga dapat menjadi sarana edukasi mengenai pengelolaan biaya produksi dan penguatan kelembagaan petani.
Pengembangan pelayanan tersebut harus dilaksanakan melalui kerja sama dengan tenaga yang mempunyai kompetensi sesuai bidangnya.
Satuan Petani ETH juga mendorong koperasi pertanian untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan hasil panen.
Melalui penguatan teknologi dan kelembagaan, masyarakat diharapkan mempunyai kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kualitas serta daya saing hasil pertanian.
Empat Rekomendasi Satuan Petani Elang Tiga Hambalang
1. Perkuat Pengawasan Mutu Beras dalam Fasilitas Penyimpanan Cocoon
Perum Bulog bersama lembaga terkait perlu memperkuat pemeriksaan mutu terhadap beras yang disimpan menggunakan teknologi hermetik.
Pengawasan harus dilakukan sebelum penyimpanan, selama masa penyimpanan, dan sebelum distribusi.
Pemeriksaan perlu mencakup kondisi fisik beras, kadar air, pengendalian hama, serta pemenuhan standar keamanan pangan.
Pemerintah juga perlu memastikan seluruh kegiatan penyimpanan mempunyai prosedur operasional yang jelas.
2. Evaluasi Efisiensi Biaya Sebelum Memperluas Penggunaan Teknologi
Perum Bulog perlu melakukan evaluasi terhadap biaya pengadaan, pemeliharaan, penggunaan lahan, serta kebutuhan tenaga operasional fasilitas Cocoon.
Evaluasi harus membandingkan manfaat penyimpanan dengan metode pergudangan lain yang tersedia.
Hasil penilaian perlu menjadi dasar keputusan pengembangan fasilitas pada wilayah berikutnya.
Perluasan teknologi harus disesuaikan dengan kebutuhan cadangan beras, kapasitas gudang, serta kondisi geografis masing-masing daerah.
3. Perkuat Pengadaan Gabah Domestik dan Perlindungan Harga Petani
Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan Nasional dan Perum Bulog perlu memperkuat hubungan antara pengelolaan cadangan beras dan penyerapan hasil produksi petani.
Pengadaan gabah serta beras dalam negeri harus dilaksanakan sesuai persyaratan dan ketentuan harga yang berlaku.
Pemerintah perlu memperluas informasi mengenai standar mutu dan mekanisme pembelian hasil panen.
Selain itu, penguatan fasilitas pengeringan serta pengolahan pascapanen perlu menjadi bagian dari program peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian.
4. Perkuat Transparansi Cadangan Pangan dan Pendampingan Petani
Perum Bulog bersama instansi terkait perlu meningkatkan keterbukaan informasi mengenai perkembangan pengelolaan cadangan beras sesuai ketentuan.
Informasi dapat mencakup kapasitas penyimpanan, jumlah stok, perkembangan kualitas, serta realisasi pengembangan fasilitas.
Pemerintah juga perlu memperkuat pendampingan kepada kelompok tani dan koperasi mengenai pengelolaan pascapanen.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendorong pengembangan Klinik Tani sebagai salah satu sarana pendukung pendidikan dan peningkatan kemampuan usaha masyarakat.
Satuan Petani ETH Mendukung Modernisasi Ketahanan Pangan Nasional
Dewan Pimpinan Nasional Satuan Petani Elang Tiga Hambalang mendukung penuh upaya pemerintah memperkuat pengelolaan cadangan pangan melalui inovasi teknologi.
Penerapan dua unit Cocoon oleh Bulog NTB untuk menyimpan 361 ton beras menjadi salah satu contoh pengembangan metode penyimpanan yang dapat membantu mengatasi keterbatasan kapasitas gudang.
Namun, pengembangan teknologi harus terus dievaluasi untuk memastikan keberhasilan dalam menjaga kualitas pangan dan efisiensi pengelolaan.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa peningkatan kapasitas penyimpanan berjalan bersama perlindungan hasil produksi petani.
Ketahanan pangan membutuhkan hubungan yang kuat antara kegiatan produksi, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi.
Petani sebagai produsen utama harus memperoleh kepastian usaha dan kesempatan meningkatkan kesejahteraan.
Satuan Petani Elang Tiga Hambalang berkomitmen mendukung pembangunan ketahanan pangan nasional serta menjalankan fungsi kontrol sosial secara independen, objektif, dan konstruktif.
Organisasi mendorong penguatan kerja sama antara pemerintah, Perum Bulog, koperasi, kelompok tani, perguruan tinggi, dan lembaga terkait.
Pengembangan teknologi pascapanen perlu menjadi bagian dari strategi meningkatkan produktivitas, mengurangi risiko kerusakan hasil, serta memperkuat kemandirian pangan Indonesia.
Ketahanan pangan nasional yang kuat tidak cukup hanya ditentukan oleh keberhasilan meningkatkan produksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kualitas hasil pertanian, melindungi pendapatan petani, dan memastikan pangan tersedia bagi seluruh masyarakat Indonesia.
DEWAN PIMPINAN NASIONAL
SATUAN PETANI ELANG TIGA HAMBALANG
BERSATU • BERJUANG • SEJAHTERA





