EXPLORE GLOBAL

⚡ QUICK SHORTCUTS

📂 KATEGORI UTAMA

Logo

ELANG 3

GLOBAL NEWS
TERBARU
Uncategorized

Pengambilan Air dan Tanah dalam Rangkaian HJB ke 544 untuk diserahkan ke Bupati Bogor Pada saat Helaran tanggal 28 juni 2026 di Makom Kramat Mbah Raden di Desa Babakanraden Kec Cariu

UKURAN TEKS
✨ RINGKASAN CERDAS AI BETA

​CARIU – Menjelang puncak peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544, sebuah prosesi sakral dan sarat nilai budaya digelar di Makam Keramat Mbah Raden, Desa Babakanraden, Kecamatan Cariu. Prosesi pengambilan air dan tanah suci ini nantinya akan diserahkan langsung kepada Bupati...

(Dianalisis secara otomatis dari isi berita)

banner 336x280

​CARIU – Menjelang puncak peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544, sebuah prosesi sakral dan sarat nilai budaya digelar di Makam Keramat Mbah Raden, Desa Babakanraden, Kecamatan Cariu. Prosesi pengambilan air dan tanah suci ini nantinya akan diserahkan langsung kepada Bupati Bogor pada puncak acara Helaran yang dijadwalkan pada 28 Juni 2026.
​Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Camat Cariu, Drs. Pardi, A.P. (Supardi), didampingi oleh Sekcam Cariu Haji Agus Sopyan Budi Asmara, serta Pelda (Purn) H. Salvator Tarigan selaku Kepala Desa Babakanraden.
​Sinergi unsur Tiga Pilar Kecamatan Cariu terlihat sangat kuat dalam giat ini. Turut hadir mengawal jalannya prosesi, Danramil Koramil 0621-08 Kapten Czi Yoni Santoso dan Kapolsek Cariu Kompol Agus Hidayat, S.H., M.H.
​Acara yang berlangsung khidmat ini juga dihadiri oleh para Kasi dan Kasubag Kecamatan Cariu, para Kepala Desa se-Kecamatan Cariu, Ketua MUI Kecamatan, tokoh agama, serta seluruh aparatur Pemerintah Desa Babakanraden.
​Menyusuri Garis Sejarah Desa Babakanraden
​Desa Babakanraden merupakan salah satu dari 10 desa yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Cariu. Nama desa ini menyimpan kisah heroik dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
​Asal-usul Nama: Dari Hutan Harendong Menjadi Pemukiman subur
​Konon, sebelum menjadi pemukiman padat seperti sekarang, wilayah ini merupakan kawasan hutan belantara yang dipenuhi pohon Harendong dan hutan bambu. Orang pertama yang menapakkan kaki dan mendiami wilayah ini adalah seorang pangeran dari sebuah kerajaan di daerah Kuningan. Sang pangeran terpaksa mengasingkan diri akibat adanya pergolakan dan perebutan kekuasaan di tanah kelahirannya.
​Didampingi para pengikutnya yang setia, sang pangeran yang kemudian dikenal sebagai Embah Raden bersama istrinya, Raden Surili, mulai membuka lahan (dalam istilah Sunda disebut ngababakan) di hutan Harendong tersebut.
​Jauh dari ambisi kekuasaan, Embah Raden memilih mengolah lahan datar tersebut menjadi area persawahan yang subur. Letaknya yang strategis karena diapit oleh dua sungai besar—yang kini dikenal sebagai Kali Cihoe dan Kali Cibeet—membuat kawasan ini berkembang pesat menjadi daerah agraris. Dari perpaduan kata ngababakan (membuka lahan baru) dan gelar kebangsawanan sang pangeran (Raden), lahirlah nama Babakanraden.
​Kisah Tiga Putra dan Legenda Kali Cikumpeni (1658–1920)
​Catatan sejarah desa mencatat bahwa pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1658 hingga 1920, Embah Raden dan Raden Surili dikaruniai tiga orang putra-putri yang memiliki karakter unik dan sangat bertolak belakang:
​Embah Lajiah: Lebih mendalami hal-hal mistik dan berfokus pada kemajuan sektor pertanian.
​Embah Nurkahfi: Lebih condong pada urusan rohani, spiritual, dan penyebaran agama Islam (Dinul Islam).
​Embah Radiem: Memiliki ketertarikan kuat pada ilmu kedugalan atau kesaktian.
​Pertarungan Sengit di Tegal Maung
​Sebuah fragmen sejarah menceritakan hilangnya si bungsu, Embah Radiem, selama hampir satu minggu. Embah Raden kemudian mengutus Embah Lajiah dan Embah Nurkahfi untuk mencarinya.
​Nahas, mereka menemukan Embah Radiem sedang terlibat pertarungan hidup-mati melawan Ki Unaya, seorang jawara asal Banten. Pertarungan yang melelahkan itu terjadi di wilayah yang kini dikenal sebagai Kampung Tegal Maung (masuk dalam wilayah Desa Weninggalih, Kecamatan Jonggol). Setelah berhari-hari bertarung secara bergantian saat lelah, dengan bantuan kedua kakaknya, Ki Unaya akhirnya tewas di tangan Embah Radiem.
​Keajaiban Satu Malam: Tebusan Hukum Gantung Belanda
​Kabar tewasnya Ki Unaya sampai ke telinga pemerintah kolonial Belanda di Bogor (Renhaat Rehendshaf Baitenshard). Ketiga bersaudara itu pun ditangkap dan dijatuhi vonis hukuman gantung.
​Sebelum eksekusi dilaksanakan, Embah Nurkahfi mengajukan satu permohonan terakhir kepada pemerintah Belanda. Ia meminta izin untuk membuat saluran air (kali) dari Pamuruyan (sekarang Desa Balekambang, Jonggol) hingga ke Babakanraden demi kemakmuran anak cucu mereka kelak.
​Pemerintah Belanda menyetujui, bahkan berjanji membayar 1 Benggol untuk setiap gayung air yang mengalir serta membebaskan mereka dari hukuman gantung, dengan syarat: saluran tersebut harus selesai dalam waktu satu malam.
​Melalui kekuatan batin dan karomah spiritual yang dimiliki Embah Nurkahfi, mukjizat itu terjadi. Saluran air berhasil diselesaikan tepat dalam satu malam. Saluran bersejarah inilah yang hingga kini disebut sebagai Kali Cikumpeni, yang menjadi salah satu situs sejarah penting di Kabupaten Bogor.
​Pembagian Wilayah dan Unifikasi Desa
​Setelah bebas, ketiga putra Embah Raden kembali ke Babakanraden, menikah, dan memiliki keturunan. Guna menghindari perselisihan di masa depan, Embah Raden membagi wilayah kekuasaannya menjadi tiga bagian:
​Wilayah Barat (Embah Lajiah): Batas sebelah timur Kali Cikumpeni hingga sebelah barat Kali Cihoe (kini berkembang menjadi Desa Tegal Panjang, yang sebelum pemekaran masuk wilayah Desa Cariu).
​Wilayah Tengah (Embah Nurkahfi): Dari sebelah barat Kali Cikumpeni hingga sebelah timur Kali Cibeet.
​Wilayah Timur (Embah Radiem): Dari Kali Cibeet ke arah timur (saat ini menjadi Desa Mulangsari, Kabupaten Karawang).
​Memasuki tahun 1920, Embah Sahari mengonsolidasikan dusun-dusun di wilayah tersebut berdasarkan aspirasi masyarakat yang menghendaki penyatuan wilayah. Dengan menggabungkan dusun-dusun di sebelah timur (yang kala itu merupakan Desa Sukajadi), terbentuklah Desa Babakanraden yang utuh dengan mengangkat Embah Sahari sebagai Kepala Desa pertama.
​Saat ini, batas geografis Desa Babakanraden meliputi:
​Utara: Desa Ciratun (sekarang Desa Karangindah, Kabupaten Bekasi)
​Selatan: Desa Cariu
​Barat: Desa Sirnagalih (sekarang dimekarkan menjadi Desa Sukagalih & Desa Weninggalih, Kecamatan Jonggol)
​Timur: Desa Baged (sekarang Desa Mulangsari, Kabupaten Karawang)
​Catatan Tim Redaksi Elang Tiga Global News:
Sumber Berita: Saepul Mubarok, S.H.
​Kami dari segenap tim redaksi Elang Tiga Global News memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya kegiatan budaya dan nilai sejarah ini. Prosesi pengambilan air dan tanah di Makam Keramat Mbah Raden bukan sekadar ritual seremonial, melainkan wujud nyata penghormatan generasi penerus terhadap nilai-nilai historis, perjuangan leluhur, serta kearifan lokal yang membentuk identitas Kabupaten Bogor di usianya yang ke-544 tahun. Kepedulian jajaran Tiga Pilar Kecamatan Cariu dalam mengawal kegiatan ini patut menjadi contoh lestarinya kebudayaan daerah.

banner 336x280